SOLOBALAPAN.COM - Jika melihat rumah tradisional Jawa, bagian atap menjadi salah satu unsur yang cukup mencuri perhatian. Selain bentuk atapnya yang khas, terdapat pula hiasan yang berada di bagian paling atas dan dikenal dengan sebutan wuwungan.
Sekilas wuwungan mungkin terlihat seperti hiasan untuk mempercantik rumah, namun, di balik bentuknya terdapat simbol dan harapan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Jawa. Wuwungan merupakan bagian yang berada di atas pertemuan dua bidang atap atau bubungan rumah.
Baca Juga: Rumah Joglo, Makna dan Filosofi Warisan Arsitektur Jawa
Secara fungsi, bagian ini digunakan untuk menutup pertemuan atap sehingga dapat membantu mencegah air maupun debu masuk ke dalam rumah. Seiring perkembangannya, wuwungan tidak hanya memiliki fungsi praktis, tetapi juga dihias dengan berbagai bentuk yang memiliki nilai budaya.
Setiap daerah memiliki ciri khas bentuk atap wuwungan, bentuknya dapat berupa gunungan, gelung wayang, sulur-suluran, hingga figur Garudeya. Setiap bentuk lahir dari lingkungan budaya masyarakat yang berbeda sehingga pesan yang disampaikan juga meiliki kekhasan masing-masing.
Baca Juga: Sebelum Jadi Fashion Perempuan, High Heels Dulunya Dipakai Prajurit Untuk Berkuda
1. Gunungan, simbol kehidupan
Bentuk gunungan sudah sangat dekat dengan dunia pewayangan. Dalam pertunjukan wayang, gunungan digunakan untuk menandai pembukaan, pergantian adegan, perubahan tempat, hingga berakhirnya pertunjukan.
Karena itu, kehadiran bentuk gunungan pada wuwungan dapat dibaca sebagai simbol kehidupan dan perjalanan manusia. Makna tersebut juga ditemukan dalam kajian mengenai simbol pada rumah tradisional Yogyakarta.
Gunungan pada hiasan atap dimaknai sebagai lambang kehidupan, dengan harapan penghuni rumah memperoleh kehidupan yang subur, sehat, dan penuh rezeki.
2. Gelung wayang, gambaran kekuatan dan keteguhan
Selain gunungan, terdapat bentuk gelung wayang yang biasanya ditempatkan di sisi kanan dan kiri gunungan. Susunan tersebut membuat wuwungan tampak seperti barisan tokoh wayang yang sedang berjajar. Pola seperti ini menjadi salah satu alasan hiasan tersebut dikenal sebagai wuwungan wayangan.
Dalam kajian mengenai rumah tradisional Kudus, bentuk gelung pada wuwungan ditafsirkan berkaitan dengan tokoh Bima. Bima dikenal sebagai tokoh yang kuat, tegas, dan menjadi salah satu tokoh yang dihormati dalam pewayangan.
Karena itu, bentuk tersebut dapat dipahami sebagai gambaran tentang kekuatan, keteguhan, serta keberanian dalam menjalani kehidupan. Makna tersebut membuat wuwungan bukan hanya menjadi penghias atap, tetapi juga seperti pesan yang ditempatkan pada bagian paling tinggi rumah.
3. Sulur-suluran, simbol kehidupan yang terus tumbuh
Bentuk lain yang banyak ditemukan pada wuwungan adalah sulur-suluran. Motif ini biasanya berupa bentuk tumbuhan yang menjalar, melingkar, dan saling berhubungan. Dalam perkembangan seni hias wuwungan, motif sulur dan gelung menjadi salah satu ciri yang banyak ditemukan pada wilayah Kudus.
Baca Juga: Dari Sepur hingga Potlot, Begini Jejak Bahasa Belanda dalam Kosakata Jawa
Bentuk tumbuhan yang terus menjalar membuat motif ini dapat dimaknai sebagai gambaran kehidupan yang terus berkembang. Harapan yang dibawa pun berkaitan dengan pertumbuhan, keberlanjutan, dan kehidupan yang tetap berjalan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
4. Garudeya, simbol perjuangan dan bakti kepada orang tua
Di beberapa wilayah pedalaman Jawa, wuwungan juga ditemukan dengan bentuk Garudeya. Bentuk ini terinspirasi dari kisah Garudeya yang dikenal dalam tradisi cerita pewayangan dan bersumber dari Adiparwa.
Kisah Garudeya menceritakan perjuangan Garuda untuk membebaskan ibunya, Winata, dari perbudakan. Dari kisah tersebut muncul pesan tentang bakti seorang anak kepada orang tua, sekaligus keberanian dan kegigihan dalam menghadapi kesulitan.
Baca Juga: Tidak Hanya Sebagai Hiburan, Ini Beragam Fungsi Tari Jejer Gandrung Kesenian Identitas Banyuwangi.
Garudeya menggambarkan sifat Garuda yang kuat, tangguh, berani, dan pantang menyerah. Karena itu, bentuk Garudeya pada wuwungan dapat dipahami bukan sekadar sebagai gambar burung, tetapi juga membawa pesan mengenai perjuangan, keberanian, serta rasa hormat kepada orang tua.
5. Wuwungan wayangan, pengingat nilai kehidupan
Selain bentuk-bentuk tunggal, terdapat pula susunan yang dikenal sebagai wuwungan wayangan, bentuk ini menggabungkan gunungan dan gelung wayang dalam satu susunan. Gunungan ditempatkan di tengah, sementara bentuk gelung disusun mengarah ke sisi kanan dan kiri.
Penggunaan tokoh dan bentuk wayang pada wuwungan menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mengambil unsur visual yang dianggap indah, tetapi juga membawa nilai-nilai yang terdapat dalam cerita pewayangan ke dalam kehidupan sehari-hari.
Baca Juga: Di Balik Bunyi Gamelan Sekaten, Ada Tradisi Nginang, ini Maksudnya!
6. Badongan Janaka, lebih mengutamakan bentuk dekoratif
Tidak semua bentuk wuwungan memiliki makna simbolis yang kuat. Salah satunya adalah badongan atau badong Janaka, yang dapat ditemukan pada beberapa rumah tradisional Yogyakarta.
Bentuknya menyerupai tanduk dan ditempatkan pada bagian tertentu di sekitar bubungan atau pertemuan atap. Berdasarkan data mengenai rumah tradisional milik UGM yang tercatat dalam sistem JogjaCagar, hiasan badongan Janaka pada bangunan tersebut dibuat terutama untuk memperindah tampilan atap dan tidak mengandung lambang atau makna tertentu.
Hal ini menunjukkan bahwa wuwungan tidak selalu harus ditafsirkan secara filosofis. Ada pula bentuk yang lebih menonjolkan fungsi estetis sekaligus fungsi teknisnya sebagai bagian dari atap. (Adhima Aulia)
Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber