Meras Gandrung, Ritual yang Menjadi Tanda Kesiapan Calon Penari Gandrung di Banyuwangi

Adi Pras • Dipublikasikan Selasa, 6 Oktober 2026 | 18:22 WIB
Gandrung Sewu (DOK: Instagram @banyuwangi.id)
Gandrung Sewu. (Instagram @banyuwangi.id)

SOLOBALAPAN.COM - Banyuwangi memiliki berbagai tradisi yang masih berkaitan erat dengan kesenian daerahnya. Salah satunya adalah Meras Gandrung, sebuah ritual yang menjadi bagian penting dalam perjalanan seorang penari untuk menjadi Gandrung.

Ritual ini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menari, tetapi juga menjadi penanda bahwa seorang penari telah siap menjalankan perannya sebagai seorang Gandrung. Meras Gandrung dikenal sebagai bentuk pengukuhan atau “wisuda” bagi penari Gandrung.

Dalam prosesi tersebut, calon penari menjalani sejumlah ujian yang berkaitan dengan kemampuan tari dan olah vokal. Setelah dinyatakan siap, penari kemudian menjalani tahapan ritual yang menjadi tanda diterimanya seseorang sebagai bagian dari komunitas Gandrung.

Baca Juga: Ritual Petik Laut, Ungkapan Syukur Masyarakat Pesisir Banyuwangi yang Berkaitan dengan Tari Jejer Gandrung

Bagian dari Perjalanan Menjadi Gandrung

Gandrung tidak hanya menuntut kemampuan menari. Seorang penari juga perlu memiliki kemampuan bernyanyi atau menjadi sinden karena vokal menjadi bagian penting dalam pertunjukan Gandrung.

Oleh karena itu, proses menjadi seorang Gandrung membutuhkan latihan yang tidak hanya berfokus pada gerak tari, tetapi juga kemampuan suara.

Ritual tersebut menjadi bentuk simbolisasi pengakuan terhadap kesiapan seseorang untuk menjadi pelaku Gandrung di tengah masyarakat.

Baca Juga: Jejer Gandrung Kembang Menur, Perkembangan Tari Gandrung yang Menggambarkan Bunga yang Mekar

Dengan demikian, Meras Gandrung bukan sekadar prosesi seremonial. Ritual ini menjadi bagian dari proses seorang penari dalam memperoleh pengakuan dari lingkungan masyarakat pendukung kesenian Gandrung.

Sebelum menjalani ritual, calon penari Gandrung terlebih dahulu harus menunjukkan kemampuan yang telah dipelajarinya. Ujian tersebut meliputi kemampuan dalam membawakan gerak tari dan kemampuan vokal.

Sebelum pelaksanaan ritual ini, para penari harus menjalani  latihan selama waktu yang sudah ditentukan bersama penari Gandrung senior. Mereka dinyatakan lulus setelah memenuhi kemampuan yang dibutuhkan sebagai penari Gandrung.

Baca Juga: Jejer Gandrung Gurit Mangir, Jejak Kehidupan Agraris dalam Tari Banyuwangi.

Barulah setelah dinyatakan memenuhi kemampuan serta kriteria yang ditentukan, para penari yang dinyatakan lulus menjalani ritual Meras. Ritual ini harus dilakukan sebelum dinyatakan sebagai penari Gandrung. 

Tahapan yang cukup populer dari ritual ini adalah gurah suara. Tahapan ini penari harus meminum ramuan gurah yang bertujuan untuk membantu membersihkan tenggorokan dari dahak dan riak. 

Tahapan gurah suara ini memperlihatkan bahwa kemampuan vokal memiliki posisi penting untuk penari Gandrung.

Tidak hanya dituntut untuk menguasai gerakan dengan baik namun juga penari harus menguasai kemampuan vokal.

Baca Juga: Dari Omprog Hingga Motif Gajah Oling, Ini Makna Kostum Tari Jejer Gandrung Khas Banyuwangi.

Menjadi Tanda Kesiapan Penari

Meras Gandrung menjadi simbol bahwa seorang calon penari telah menyelesaikan proses belajar dan siap untuk menjalankan perannya sebagai Gandrung. Karena itu, ritual ini sering disebut sebagai bentuk “wisuda” bagi penari Gandrung.

Meras Gandrung sebagai prosesi yang menandai kesiapan seorang penari untuk tampil sebagai Gandrung.

Dalam rangkaian Gandrung Sewu, misalnya, pemasangan omprog, yaitu mahkota yang dikenakan penari Gandrung, menjadi salah satu simbol bahwa penari telah dinyatakan lulus dan siap menjadi penari Gandrung profesional sesuai dengan pakemnya.

Dari Ritual Sakral hingga Pertunjukan Budaya

Perubahan yang terjadi dalam kehidupan kesenian Gandrung juga memengaruhi keberadaan Meras Gandrung.

Awalnya Meras Gandrung sebagai ritual dan ungkapan rasa syukur kemudian mengalami perkembangan fungsi menjadi hiburan.

Perubahan tersebut turut membuat tuntutan terhadap kualitas kepenarian semakin berkembang. Meras Gandrung kemudian tidak hanya dapat ditemukan dalam konteks komunitas penari, tetapi juga diperkenalkan melalui berbagai kegiatan kebudayaan. 

Baca Juga: Seblang Olehsari, Ritual yang Lahir dari Pagebluk Hampir 1 Abad

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, misalnya, rutin memasukkan ritual tersebut sebagai bagian dari rangkaian Gandrung Sewu. Pada 2025, sebanyak 1.400 penari mengikuti prosesi Meras Gandrung sehari sebelum pementasan Gandrung Sewu. 

Pemerintah Kabupaten Banyuwangi menyebut prosesi tersebut sebagai tahapan penting yang menggambarkan perjalanan seorang penari, mulai dari belajar hingga akhirnya diwisuda sebagai penari Gandrung.

Selain itu, Meras Gandrung juga dikembangkan menjadi sendratari yang dapat dinikmati masyarakat dan wisatawan.

Pertunjukan tersebut menggambarkan perjuangan seorang calon penari dalam melewati berbagai tantangan dan ujian hingga akhirnya diwisuda sebagai Gandrung  serta menjaga regenerasi penari Gandrung. (adhima aulia)

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
adhima aulia Tari Jejer Gandrung Meras Gandrung banyuwangi ritual adat