SOLOBALAPAN.COM-Ronggeng Bugis merupakan salah satu kesenian tradisional khas Cirebon, Jawa Barat, yang memiliki keunikan karena memadukan tari, lawakan, musik, dan unsur teater rakyat. Berbeda dengan gambaran ronggeng pada umumnya.
Pertunjukan Ronggeng Bugis justru dimainkan oleh penari laki-laki yang berdandan dan berbusana seperti perempuan. Penampilannya yang jenaka menjadi daya tarik utama, tetapi di balik kelucuannya terdapat kisah sejarah dan pesan sosial yang menarik untuk dipelajari.
Asal-Usul Ronggeng Bugis
Baca Juga: Mengungkap Makna Tari Loro Blonyo: Dari Simbol Patung Jawa hingga Ritual Methik Padi
Beberapa sumber menyebutkan bahwa tari ini dilahirkan semasa dengan pembentukan Kerajaan Cirebon oleh Sunan Gunung Jati tahun 1482. Ide lahirnya tari ini adalah sebagai samaran dalam kegiatan memata-matai musuh.
Tari yang dimainkan oleh kaum laki-laki ini didandani seperti perempuan dan ditampilkan dalam bentuk sendratari yang mengandung unsur humoris. Kata “bugis” yang melekat pada nama tari ini identik dengan nama salah satu suku bangsa di Pulau Sulawesi bagian selatan selain suku bangsa Makassar, dan Toraja.
Kaitan antara Kerajaan Cirebon dengan suku Bugis ini adalah adanya klaim bahwa orang-orang bugis telah menjadi bagian dari pasukan telik sandi Cirebon sehingga namanya menjadi Ronggeng Bugis.
Baca Juga: Tari Edan-Edanan, Makna dan Filosofi Dibalik Kelucuannya
Kata “Bugis” merujuk pada kelompok atau identitas masyarakat Bugis yang dalam cerita tradisi tersebut dikaitkan dengan peran pasukan atau telik sandi. Sementara itu, istilah “ronggeng” berkaitan dengan bentuk penyamaran yang digunakan dalam pertunjukan.
Dalam kisah yang berkembang, penyamaran dilakukan agar seseorang dapat menjalankan tugas tanpa mudah dikenali. Unsur penyamaran inilah yang kemudian berkembang menjadi bentuk pertunjukan yang khas dan menghibur.
Keunikan Penampilan Penari
Baca Juga: Seblang Olehsari, Ritual yang Lahir dari Pagebluk Hampir 1 Abad
Hal yang paling mudah dikenali dari Ronggeng Bugis adalah penampilan para penarinya. Laki-laki berdandan menyerupai perempuan dengan riasan wajah yang dibuat secara berlebihan. Penampilan tersebut justru menjadi sumber kelucuan dalam pertunjukan.
Para penari tidak dituntut untuk tampil anggun seperti penari perempuan pada umumnya. Sebaliknya, mereka menampilkan gerakan yang spontan, ekspresif, dan terkadang sengaja dibuat berlebihan. Ekspresi wajah, gerak tubuh, serta interaksi antarpemain menjadi bagian penting dalam menciptakan suasana humor.
Karakter tersebut membuat Ronggeng Bugis berbeda dari tari tradisional yang lebih menekankan keindahan gerak secara formal.
Tari, Musik, dan Lawakan Menjadi Satu
Baca Juga: Bedhaya Jungpara: Karya Tari yang Mengangkat Identitas Jepara dalam Bingkai Bedhaya
Ronggeng Bugis tidak hanya mengandalkan gerakan tari. Pertunjukannya juga mengandung unsur teater dan komedi. Penari dapat melakukan dialog, berinteraksi dengan pemain lain, bahkan merespons situasi yang terjadi di sekitar panggung.
Iringan musik tradisional membantu membangun suasana pertunjukan. Ketika musik dimainkan dengan tempo tertentu, para penari dapat meresponsnya dengan gerakan yang semakin ekspresif.
Karena itu, Ronggeng Bugis dapat dipahami sebagai bentuk seni pertunjukan rakyat yang bersifat multimodal, karena menggabungkan tari, musik, rias, busana, akting, humor, dan interaksi dengan penonton.
Baca Juga: Tari Gandrung Marsan, Menghidupkan Kembali Jejak Gandrung Lanang Banyuwangi.
Kelucuan yang Mengandung Kritik
Di balik kelucuannya, Ronggeng Bugis juga memiliki unsur sindiran dan kritik sosial. Humor dalam kesenian rakyat sering digunakan sebagai cara untuk menyampaikan pesan tanpa membuat suasana menjadi terlalu serius.
Melalui tingkah laku yang lucu, gerakan yang berlebihan, dan dialog yang spontan, pemain dapat menyampaikan sindiran terhadap berbagai persoalan kehidupan sosial. Pesan tersebut dapat diterima penonton melalui suasana yang menghibur.
Baca Juga: Mengetahui Karakter Tokoh dari Cerita Cinta Segitiga pada Tari Adaninggar Kelaswara
Hal inilah yang membuat humor dalam Ronggeng Bugis tidak sekadar bertujuan membuat penonton tertawa. Kelucuan dapat menjadi media untuk merefleksikan kehidupan masyarakat.
Rias dan Busana yang Khas
Rias wajah menjadi salah satu unsur penting dalam pertunjukan Ronggeng Bugis. Para penari laki-laki menggunakan riasan yang sengaja dibuat mencolok dan terkadang tidak proporsional.
Baca Juga: Gejolak Batin Perpisahan Dewi Sekartaji dalam Tari Topeng Sekartaji
Busana yang dikenakan juga menyerupai pakaian perempuan. Namun, cara penari membawa busana dan melakukan gerakan justru menghasilkan kesan komikal. Perpaduan antara rias, busana, ekspresi wajah, dan gerak tubuh membuat karakter Ronggeng Bugis mudah dikenali. (Carrieolis Ratu Lathiifu)
Editor : Kabun TriyatnoSumber : Berbagai Sumber