Gejolak Batin Perpisahan Dewi Sekartaji dalam Tari Topeng Sekartaji

Adi Pras • Dipublikasikan Rabu, 23 September 2026 | 16:48 WIB
Tari Topeng Sekartaji(DOK: Instagram @bajoesaputra)
Tari Topeng Sekartaji. (Instagram @bajoesaputra)

SOLOBALAPAN.COM - Cerita Panji menjadi salah satu sumber cerita yang banyak digunakan dalam berbagai kesenian tradisional Jawa.

Cerita ini mengisahkan perjalanan Raden Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji yang memiliki hubungan percintaan, tetapi harus menghadapi berbagai konflik dan perjalanan sebelum akhirnya bertemu kembali.

Kisah tersebut kemudian berkembang ke dalam berbagai bentuk seni pertunjukan, salah satunya adalah tari topeng.

Baca Juga: Pesan Moral Dibalik 3 Babak Utama Wayang Orang

Salah satu karya tari yang mengambil cerita tersebut adalah Tari Topeng Sekartaji yang berkembang di Surakarta. Tari ini menggambarkan tokoh Dewi Sekartaji yang merupakan salah satu tokoh utama dalam cerita Panji.

 Dalam perkembangannya, Tari Topeng Sekartaji tidak hanya mengambil cerita Panji sebagai sumber cerita, tetapi juga menjadi bagian dari pengembangan tari topeng di lingkungan seni Surakarta.

Baca Juga: Hubungan Unik antara Limbuk dan Cangik

Perkembangan Tari Topeng Sekartaji di Surakarta salah satunya dapat dilihat melalui Fragmen Tari Topeng Sekartaji yang disusun oleh S. Ngaliman pada tahun 1972.

Karya tersebut pada awalnya digagas oleh Gendon Humardani yang saat itu menginginkan sebuah karya tari untuk melatih kemampuan mahasiswa dalam menguasai teknik tari menggunakan topeng.

Ngaliman kemudian menyusun sebuah karya yang mengambil bagian dari cerita Panji sebagai dasar garapannya.

Baca Juga: Makna Jenang Abang Putih dalam Tradisi Jawa terkait Hari Kelahiran

Fragmen Tari Topeng Sekartaji kemudian mengalami perkembangan dalam bentuk penyajiannya. Dari bentuk fragmen kelompok, karya ini kemudian berkembang menjadi Tari Topeng Sekartaji Tunggal.

Perkembangan tersebut menunjukkan adanya proses pengolahan kembali karya tari agar dapat disesuaikan dengan kebutuhan pembelajaran dan pertunjukan tari di lingkungan seni Surakarta.

Selain Fragmen Tari Topeng Sekartaji karya S. Ngaliman, terdapat pula "Tari Topeng Sekartaji Tunggal" karya Sulistyo Haryanti  yang disusun pada tahun 2015.

 Karya tersebut merupakan tari tunggal putri gaya Surakarta dengan genre topeng yang terinspirasi dari Fragmen Topeng Sekartaji.

Baca Juga: Di Balik Kesempurnaan Panggung: Ketegaran V BTS Bermusik di Tengah Perjuangan Gangguan Pendengaran

Cerita Panji digunakan sebagai pijakan dalam penggarapan tari, khususnya untuk menggambarkan gejolak batin Dewi Sekartaji ketika berpisah dengan Panji Asmarabangun.

Dalam Tari Topeng Sekartaji Tunggal, tokoh Dewi Sekartaji digambarkan melalui gerak tari dan penggunaan topeng. Tema yang ditampilkan berkaitan dengan percintaan atau kerinduan Sekartaji kepada Panji Asmarabangun

Meskipun mengangkat tema percintaan, garapan tari ini lebih menonjolkan perasaan rindu dan gejolak batin tokoh Sekartaji daripada penggambaran peperangan atau konflik secara langsung.

Baca Juga: Perayaan Onde, Tradisi Tionghoa yang Sudah Dikenal Sejak Dinasti Han, Ada Makna Keluarga di Baliknya

Keberadaan Tari Topeng Sekartaji menunjukkan bagaimana cerita Panji terus berkembang dan diolah menjadi berbagai bentuk karya seni. Cerita yang telah lama dikenal dalam kebudayaan Jawa tersebut dapat mengalami perubahan bentuk sesuai dengan kreativitas seniman dan kebutuhan pertunjukan.

Hal ini membuat Tari Topeng Sekartaji tidak hanya menjadi tari yang menceritakan tokoh Sekartaji, tetapi juga menjadi salah satu bentuk perkembangan seni tari topeng di Surakarta. (adhima aulia) 

 

Editor : Adi Pras
Sumber : Berbagai Sumber
Tari Topeng Sekartaji adhima aulia dewi sekartaji Tari Topeng surakarta