Bagian-Bagian Yang Menyusun Tari Driasmara, Penggambaran ketertarikan hingga Keyakinan Hubungan

tim solobalapan • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 11:46 WIB
Tari Driasmara (instagram: @okvalicaa_hn)
Tari Driasmara (instagram: @okvalicaa_hn)

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Surakarta memiliki beragam kekayaan tari tradisional dengan berbagai bentuk penyajian. Mulai dari tari tunggal, tari kelompok, hingga tari berpasangan.

Dalam tari berpasangan, terdapat dua kategori yang dikenal dalam tradisi tari Surakarta, yakni pasihan dan tandhingan. Tari pasihan merupakan jenis tari berpasangan yang dibawakan penari putra dan putri dengan tema percintaan atau hubungan kasih.

Salah satu karya tari pasihan yang cukup dikenal adalah Tari Driasmara.

Baca Juga: Unggah Foto Bareng Chef Mathis Molinié, Raisa Tuai Sorotan Soal Linimasa Pascacerai

Tari Driasmara merupakan karya tari bertema percintaan yang menggambarkan hubungan Panji Inukertapati dan Dewi Sekartaji. Cerita yang menjadi dasar tarian tersebut diambil dari sebagian garapan dramatari Panji Asmara Bangun karya Sunarno pada 1979.

Setahun kemudian, Tari Driasmara disusun kembali. Bagian beksan alus ditata oleh Wahyu Santosa Prabowo, sedangkan bagian beksan putri disusun ulang oleh Nora Kustantina Dewi dan Rusini.

Makna Nama Driasmara

Nama Driasmara memiliki makna yang berkaitan dengan perasaan cinta.

Driasmara berasal dari dua kata, yakni driya yang berarti indera dan asmara yang berarti cinta atau kasih.

Menurut Wahyu Santosa Prabowo, Driasmara menggambarkan hati yang sedang dilanda asmara. Sementara menurut Nora Kustantina Dewi, Driasmara memiliki makna hati yang sedang mengalami cinta.

Baca Juga: Delapan Tahun Menanti, Korea Selatan Kembali Juara Overwatch World Cup 2026

Makna tersebut kemudian diwujudkan melalui gerak, iringan gamelan, tembang, hingga interaksi antara penari putra dan putri.

Tiga Bagian dalam Tari Driasmara

Tari Driasmara tersusun atas tiga bagian utama. Masing-masing bagian memiliki suasana dan penggambaran rasa yang berbeda dalam perjalanan hubungan kedua tokoh.

1. Bagian Awal

Tari Driasmara diawali dengan iringan gendhing Wigena Ketawang Laras Pelog Pathet Nem.

Gendhing Wigena menggambarkan rasa yang muncul pertama kali. Bagian awal ini menghadirkan kesan adanya harapan seorang perempuan terhadap laki-laki atau pasangannya yang diharapkan selalu berada di sisinya.

Baca Juga: Atmosfer Laga Persija vs Persib di SUGBK Luar Biasa! John Herdman Akui Belum Pernah Rasakan Sepanjang Karier

Selain Gendhing Wigena, terdapat gendhing Kemudha Kembang Kapas yang menggambarkan rasa suka sekaligus penghargaan terhadap jalinan cinta yang dianggap suci.

Salah satu gerak yang memperkuat gambaran tersebut adalah ketika penari putri melempar sampur kepada penari putra dari belakang. Penari putra kemudian berbalik dan keduanya saling memandang.

Interaksi tersebut menjadi simbol munculnya jalinan cinta kasih antara kedua penari.

2. Bagian Pokok

Bagian kedua merupakan bagian pokok Tari Driasmara. Bagian ini diawali dengan sekar macapat Mijil, Laras Pelog Pathet Nem.

Baca Juga: Aisar Khaled Dilaporkan usai 3 Kali Somasi, Sebenarnya Apa Itu Somasi?

Pada bagian tersebut, penari putra bergerak sembari melantunkan tembang yang kemudian mendapatkan jawaban dari penari putri.

Penari putra lebih banyak menggambarkan sanjungan terhadap kecantikan penari putri. Kesan tersebut diperkuat melalui pola lintasan gerak yang menggunakan garis lengkung serta sejumlah motif gerak berputar pada beberapa sekaran.

Rangkaian gerak dan tembang tersebut membangun suasana romantis sekaligus menggambarkan kekaguman seorang pria terhadap perempuan yang menjadi pasangannya.

3. Bagian Mundur Beksan

Bagian terakhir dikenal sebagai mundur beksan.

Bagian ini menggambarkan kemantapan seorang pria dalam menjalin hubungan dengan seorang wanita. Interaksi penari putra dan putri semakin menunjukkan kedekatan emosional.

Gerak yang ditampilkan menghadirkan suasana akrab dan hangat. Di dalamnya tersirat ketulusan hati serta kemantapan perasaan dari kedua tokoh.

Melalui tiga bagian tersebut, Tari Driasmara tidak hanya menampilkan keindahan gerak tari berpasangan, tetapi juga menyampaikan perjalanan rasa dari munculnya ketertarikan, kekaguman, hingga kemantapan dalam menjalin hubungan.

Tari ini menjadi salah satu contoh bagaimana seni tari tradisional Surakarta mampu menyampaikan cerita dan nilai rasa melalui perpaduan gerak, musik, tembang, serta interaksi antarkedua penari. (Adhima Aulia)

Editor : Andi Aris Widiyanto
Sumber : Jurnal ISI Surakarta: Analisis Estetis Tari Driasmara., solobalapan.com
tari tradisional adhima aulia tari driasmara tari pasihan panji asmara bangun