Pesan Moral Dibalik 3 Babak Utama Wayang Orang

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 14 September 2026 | 19:20 WIB
Wayang Orang Sriwedari(google search foto Gedung Wayang Orang Sriwedari)
Wayang Orang Sriwedari.

SOLOBALAPAN.COM-Wayang Orang merupakan seni pertunjukan tradisional Jawa yang menghadirkan cerita pewayangan melalui pemeranan manusia secara langsung. Berbeda dengan wayang kulit yang menggunakan boneka kulit sebagai media pertunjukan, wayang orang menampilkan para tokoh melalui aktor yang mengenakan kostum dan tata rias sesuai dengan karakter yang diperankan.

Cerita-cerita yang umumnya dibawakan bersumber dari kisah Mahabharata dan Ramayana, kemudian dikembangkan melalui dialog, tari, tembang, serta iringan gamelan.

Secara Umum, pertunjukan wayang orang, terutama gaya Surakarta dan Yogyakarta mengikuti sruktur adegan atau alur cerita baku yang disebut pathet. Alur ini menggambarkan perjalanan hidup manusia dari muda, dewasa, hingga mencapai kebijaksanaan.

Baca Juga: 7 Maestro Tari Indonesia Menembus Panggung Duni

Alur Babak Pertunjukan Wayang Orang

1.    Pathet Nem(Awal dan Pembukaan), biasa diisi dengan Adegan Kerajaan Utama(Raja berkumpul dengan para mentri dan keluarga untuk membahas suatu masalah atau kabar penting), Adegan Paseban Jawi(Para prajurit di luar istana menerima perintah dari raja dan Bersiap untuk berangkat melaksanakan tugas), Adegan Perang Ampyak(Prajurit berbaris dan meratakan jalan yang akan dilalui rombongan kerajaan), Adegan Perang Bodholan(Pertemuan awal atau perselisihan kecil antara pihak kerajaan dan pihak musuh).

Baca Juga: Ledhek Jimbe Blitar, Tari yang Dulu Distigma Negatif Ternyata Punya Jejak Perlawanan

2.  Pathet Sanga(Tengah dan Konflik) berisi Adegan Bambangan/Ksatriya(Ksatriya utama berangkat menuju medan konflik atau pertapaan untuk mencari solusi), Adegan Punokawan/Gara-gara(Adegan komedi yang menampilkan Semar, Gareng, Petruk, dan Bagong. Dibalik humornya, babak ini berisi nasihat moral dan Gambaran kekacauan dunia sebelum kebenaran menang), Perang Kembang(Pertarungan antara ksatria dan buto. Adegan ini adalah symbol kemenangan hawa nafsu manusia atas godaan jahat).

3.  Pathet Manyura(Akhir dan Penyelesaian) berisi Adegan Perang Amuk-amukan/Perang Bubruh(pertempuran skala besar antara pasukan kebaikan dan kejahatan), Penyelesaian(pihak antagonis kalah, dan keadilan (Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti) berhasil ditegakkan), Adegan Tayuban/Tancep Kayon(Penutup berupa tarian kemenangan dan tanda bahwa pertunjukan telah selesai).

Baca Juga: Kontroversi Konten 'Mindfulness' Maudy Ayunda: Antara Privilese Kelas dan Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

Alur pertunjukan wayang tidak dibuat secara asal-asalan, melainkan terikat pada pakem tiga babak(pathet) yang mencerminkan filosofi perjalanan hidup manusia. Pada tiga babak tersebut, Pathet Nem menjadi perumpamaan awal/ masa muda/ permulaan hidup, Pathet Sanga sebagai simbol tengah/masa dewasa/ujian/kematangan jiwa, serta Pathet Manyura menjadi bab akhir/ masa tua dalam kehidupan/ simbol kebijaksanaan/penyelesaian dan kematian.(Carrieolis Ratu Lathiifu)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
carrieolis ratu alur cerita tradisional wayang orang wayang