SOLOBALAPAN.COM – Kesenian rakyat tidak selalu berjalan dalam bentuk yang sama. Di tangan generasi baru, tradisi dapat menemukan bentuk pertunjukan yang lebih dinamis tanpa sepenuhnya meninggalkan akar budayanya. Salah satunya terlihat pada Saleho Karya Budaya, kelompok seni asal Bendolegi, Cluntang, Musuk, Boyolali, Jawa Tengah.
Saleho Karya Budaya merupakan komunitas yang bergerak di bidang seni tari kerakyatan tradisional dan kreasi. Komunitas ini diketuai Abah Lala, yang juga dikenal sebagai pencipta lagu “Saleho”. Lagu tersebut turut populer setelah berkolaborasi dengan penyanyi Denny Caknan dan banyak digunakan dalam berbagai konten media sosial.
Baca Juga: Saleho, Ketika Kesenian Rakyat Menjadi Trend di Sosial Media
Di bawah naungan Saleho Karya Budaya terdapat sejumlah kelompok kesenian dengan karakter pertunjukan masing-masing. Salah satunya Nyai Bendolegi, grup Tari Warok kreasi yang seluruh penarinya perempuan. Marsha dan Axcel Martsanda menjadi beberapa sosok yang dikenal sebagai bagian dari grup tersebut. Para anggota Nyai Bendolegi dipilih melalui proses seleksi berdasarkan keterampilan.
Kehadiran Saleho menjadi salah satu gambaran bagaimana kesenian tradisional kerakyatan dapat beradaptasi dengan selera penonton masa kini. Unsur tradisi tetap dipertahankan, tetapi dikemas melalui gerak, musik, kostum, dan konsep pertunjukan yang lebih atraktif sehingga dekat dengan generasi muda.
Baca Juga: Mengenal Lala Atila, Sinden Muda yang Menjadi Ikon Saleh
Berikut sejumlah kelompok kesenian yang berada di bawah naungan Saleho Karya Budaya:
1. Buto Gedruk Saleho
Buto Gedruk merupakan seni pertunjukan tari bertopeng yang menggambarkan sosok raksasa atau buto dalam dunia pewayangan. Kekuatan pertunjukan ini terletak pada gerakan tubuh yang tegas dan ritmis.
Hentakan kaki atau “gedrukan” menjadi salah satu ciri yang paling mudah dikenali. Gerakan tersebut menciptakan kesan kuat sekaligus menjadi identitas Buto Gedruk dibandingkan bentuk tari bertopeng lainnya.
Baca Juga: Awal September Terasa Panas Banget, Kenapa Ya? Ini Penjelasan BMKG
2. Topeng Ireng Saleho
Topeng Ireng merupakan kesenian tradisional yang berkembang kuat di wilayah Magelang, Jawa Tengah. Kesenian ini juga dikenal dengan sebutan Dayakan atau Topeng Hitam.
Versi yang ditampilkan Saleho memiliki ciri gerak rampak dan energik, dipadukan dengan kostum yang meriah serta musik pengiring yang atraktif. Lagu “Saleho Karya Budaya” menjadi salah satu musik pembuka dalam sejumlah penampilan dan mudah dikenali penonton.
3. Kuda Lumping/Jathilan Wiroyudho
Kuda Lumping atau Jathilan Wiroyudho menjadi salah satu kesenian yang turut ditampilkan Saleho Karya Budaya. Pertunjukan ini merupakan bentuk kreasi Kuda Lumping yang berkembang di Temanggung dan dikenal pula sebagai Jathilan Temanggungan.
Kostum yang meriah menjadi salah satu daya tariknya. Pertunjukan juga ditandai dengan penggunaan rambut palsu berukuran besar yang membuat penampilan para penari terlihat semakin mencolok.
4. Tari Warok Putra dan Putri
Tari Warok menjadi salah satu bagian yang cukup menonjol dalam komunitas Saleho. Untuk kelompok penari putri, terdapat Nyai Bendolegi dan Saka Gentari. Sementara kelompok putra dikenal dengan nama Kyai Ageng Bendolegi.
Nyai Bendolegi mengambil sumber cerita dari kehidupan masyarakat Dusun Bendolegi di lereng Gunung Merapi. Karya tersebut mengangkat figur Nyai Bendo Legi yang dipercaya masyarakat setempat sebagai sosok penjaga keseimbangan alam sekaligus pengayom masyarakat.
Beragam kelompok tersebut memperlihatkan luasnya warna kesenian yang berada dalam naungan Saleho Karya Budaya. Tari bertopeng, Topeng Ireng, Kuda Lumping, hingga Tari Warok hadir dalam satu ruang pertunjukan dengan karakter masing-masing.
Pada pementasan masa kini, Saleho juga tidak terpaku pada musik tradisional. Iringan gamelan dikembangkan dengan nuansa musik modern yang lebih dinamis. Dalam sejumlah pertunjukan, unsur tersebut berpadu dengan dangdut koplo dan campursari.
Perpaduan itulah yang membuat kesenian Saleho memiliki warna tersendiri. Tradisi tetap menjadi pijakan, sementara kreasi menjadi cara untuk membawa kesenian rakyat lebih dekat dengan penonton masa kini. (carrieolis ratu)
Editor : Kabun Triyatno