Saleho, Ketika Kesenian Rakyat Menjadi Trend di Sosial Media

tim solobalapan • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 17:33 WIB
Saleho Karya Budaya
Saleho Karya Budaya

SOLOBALAPAN.COM – Dulu, kesenian rakyat tumbuh dari panggung-panggung desa, festival, dan ruang-ruang pertunjukan yang mempertemukan seniman dengan penonton secara langsung. Kini, panggung itu bertambah luas. Sebuah gerakan tari, potongan musik, atau video pementasan dapat menjangkau ribuan orang hanya melalui layar ponsel.

Fenomena tersebut terlihat pada Saleho Karya Budaya, kelompok seni tari kerakyatan tradisional dan kreasi asal Bendolegi, Cluntang, Musuk, Boyolali, Jawa Tengah. Kelompok yang diketuai Abah Lala tersebut menjadi salah satu kesenian yang mendapat perhatian luas di media sosial.

Abah Lala sekaligus dikenal sebagai pencipta lagu “Saleho” yang ikut mengantarkan nama kelompok tersebut ke berbagai platform digital.

Baca Juga: Awal September Terasa Panas Banget, Kenapa Ya? Ini Penjelasan BMKG

Di dalam Saleho Karya Budaya terdapat sejumlah grup dengan karakter masing-masing. Salah satunya Nyai Bendolegi, grup tari Warok kreasi yang seluruh penarinya perempuan. Marsha dan Axcel Martsanda menjadi beberapa nama yang dikenal sebagai ikon grup tersebut. Para anggota Nyai Bendolegi dipilih melalui proses seleksi berdasarkan keterampilan menari.

Popularitas Saleho menunjukkan bahwa kata “viral” tidak selalu berhenti pada ukuran seberapa banyak sebuah konten dilihat. Ketika yang menjadi viral adalah karya budaya, perhatian publik dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan kesenian kepada generasi yang sehari-hari dekat dengan media sosial.

Baca Juga: Chibi Maruko-chan Ternyata Terinspirasi dari Kisah Masa Kecil Sang Penulis, Lho

Generasi muda yang sebelumnya mungkin tidak mengenal kesenian rakyat dapat menemukannya melalui konten TikTok, Instagram, maupun platform digital lainnya. Dari sekadar melihat, mereka kemudian dapat ikut menirukan gerakan, membagikan video, memberikan apresiasi, bahkan menciptakan bentuk kreativitas baru yang terinspirasi dari karya tersebut.

Media sosial akhirnya tidak hanya menjadi tempat promosi, tetapi juga ruang perjumpaan baru antara kesenian tradisional dan penonton masa kini.

Pementasan yang sebelumnya hanya dapat disaksikan masyarakat di sekitar lokasi pertunjukan kini bisa menjangkau penonton yang berada jauh dari panggung. Informasi jadwal pentas dapat disebarluaskan melalui media sosial, sedangkan pertunjukan dapat disiarkan secara langsung melalui fitur live.

Baca Juga: Chibi Maruko-chan Ternyata Relate Banget, dari Mager Belajar sampai Cari-Cari Alasan

Pada titik inilah teknologi memberi kesempatan bagi kesenian rakyat untuk memperluas ruang hidupnya. Panggung tidak lagi dibatasi oleh jarak dan kapasitas tempat pertunjukan.

TikTok menjadi salah satu platform yang turut memperbesar popularitas Saleho Karya Budaya. Potongan gerakan dari tari Warok Nyai Bendolegi yang dipadukan dengan musik menarik perhatian pengguna untuk membuat konten serupa.

Sejumlah bagian tarian kemudian berkembang menjadi gerakan yang mudah dikenali dan diikuti. Di antaranya potongan tari Nyai Bendolegi Vol. 1 dengan lagu “Dalan Gunung” serta “Saka Gentari” dengan lagu “Sorak Sorak”.

Gerakan yang ikonik dan musik yang mudah diingat membuat potongan pertunjukan tersebut lebih mudah beradaptasi dengan karakter konten media sosial yang singkat dan cepat menyebar.

Respons publik pun bermunculan. Kolom komentar di berbagai unggahan diisi apresiasi terhadap karya, gerakan tari, hingga musik yang dianggap menarik oleh penikmat seni kerakyatan.

Fenomena Saleho Karya Budaya memperlihatkan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu menjadi ancaman bagi kesenian tradisional. Justru, ketika mampu beradaptasi, teknologi dapat menjadi jembatan yang mempertemukan karya lama dengan cara menikmati seni yang baru.

Kesenian rakyat tetap berpijak pada tradisi, tetapi cara masyarakat menemukannya telah berubah. Dari panggung desa menuju layar ponsel, dari penonton yang datang ke lokasi pertunjukan menjadi penonton yang tersebar di berbagai tempat.

Di ruang digital itulah kesenian seperti Saleho menemukan kemungkinan baru: dikenal lebih luas, dibicarakan lebih banyak, dan diwariskan melalui cara yang semakin dekat dengan kehidupan generasi hari ini. (carrieolis ratu)

Editor : Kabun Triyatno
Kesenian rakyat carrieolis ratu saleho trend tiktok