Budaya Tumbuh dari Cara Manusia Membaca Ala

tim solobalapan • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 19:00 WIB
Ilustrasi menjaga alam dan budaya (gpt AI)
Ilustrasi menjaga alam dan budaya. (AI Generated)

SOLOBALAPAN.COM – Tidak ada kebudayaan yang lahir begitu saja. Di balik sebuah tradisi, kesenian, kebiasaan, hingga cara masyarakat menjalani kehidupan, ada lingkungan yang ikut membentuknya. Alam, kondisi geografis, sumber daya, dan kehidupan sosial perlahan memengaruhi cara manusia berpikir, bertindak, sekaligus menciptakan sesuatu yang kemudian diwariskan sebagai kebudayaan.

Y. Sumandiyo Hadi dalam bukunya Koreografi Ruang Prosenium (2016) menyebutkan bahwa “kebudayaan berfungsi untuk menghubungkan manusia dengan alam di sekitarnya”. Kebudayaan dalam konteks ini bukan sekadar kumpulan tradisi yang diwariskan, melainkan hasil dari proses panjang ketika manusia membaca lingkungan, beradaptasi, dan menemukan cara untuk hidup di dalamnya.

Baca Juga: Tak Sekadar Jalan-Jalan, Ini 5 Spot di Sekitar Salatiga dengan Daya Tarik Berbeda

Karena itu, wajah kebudayaan antara satu daerah dan daerah lainnya tidak pernah benar-benar sama. Masyarakat yang hidup di wilayah pesisir tentu memiliki pengalaman yang berbeda dengan mereka yang tinggal di pegunungan. Begitu pula masyarakat yang hidup di kawasan pertanian, perkotaan, maupun wilayah yang memiliki karakter alam dan sumber daya berbeda.

Perbedaan pengalaman tersebut kemudian muncul dalam berbagai bentuk. Cara masyarakat bekerja, membangun permukiman, mengolah hasil alam, merayakan kehidupan, hingga menciptakan kesenian bisa menjadi cermin dari lingkungan yang mereka tempati.

Baca Juga: Inilah Kandungan Nutrisi dan Manfaat Bawang Dayak bagi Kesehatan

Sebuah kesenian, misalnya, tidak hanya berbicara tentang keindahan gerak, bunyi, atau bentuk. Di dalamnya dapat tersimpan cara pandang masyarakat terhadap kehidupan dan ruang tempat mereka tumbuh. Begitu pula sebuah tradisi. Di balik ritual yang diwariskan dari generasi ke generasi, sering kali terdapat pengetahuan tentang bagaimana manusia berhubungan dengan alam dan sesamanya.

Di situlah kebudayaan menjadi semacam rekaman perjalanan sebuah masyarakat. Ia menyimpan jejak tentang bagaimana manusia menghadapi lingkungannya pada masa lalu dan bagaimana pengalaman tersebut diteruskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga: Bukan Sekadar Umbi Rebus, Suweg Ternyata Bisa Disulap Jadi Tepung untuk Cookies dan Brownies

Namun, perubahan lingkungan dan gaya hidup membuat hubungan tersebut ikut bergeser. Ketika ruang hidup berubah, sebagian tradisi mulai kehilangan konteksnya. Kebiasaan yang dahulu dekat dengan kehidupan sehari-hari perlahan dapat ditinggalkan karena masyarakat menemukan cara hidup yang berbeda.

Pelestarian budaya akhirnya bukan hanya soal menjaga agar sebuah tarian tetap dipentaskan, upacara tetap digelar, atau kerajinan tetap dibuat. Yang tidak kalah penting adalah memahami nilai dan pengetahuan yang berada di baliknya. Sebab, ketika sebuah budaya kehilangan maknanya, yang tersisa bisa saja hanya bentuk luarnya.

Baca Juga: Bukan Cuma Cepogo, Boyolali Timur Punya Pasar Sayur yang Ramai Sejak Dini Hari

Memahami budaya dengan cara tersebut membuat pelestarian tidak berhenti pada romantisme masa lalu. Budaya tetap dapat berkembang mengikuti zaman, tetapi nilai yang menjadi akar keberadaannya tidak ikut hilang.

Pada akhirnya, hubungan manusia dengan alam tidak hanya tercermin dari bagaimana seseorang memperlakukan lingkungan secara langsung. Hubungan itu juga dapat dibaca melalui kebudayaan yang mereka ciptakan. Dari tradisi, kesenian, hingga kebiasaan sehari-hari, semuanya menjadi cara manusia meninggalkan jejak tentang bagaimana mereka pernah hidup dan berdamai dengan lingkungan di sekitarnya. (adhima aulia)

Editor : Kabun Triyatno
pelestarian satwa fungsi budaya alam dan masyarakat adhima aulia