Saat Tubuh Terbungkus Trash Bag, Pandemi Kembali Menari

tim solobalapan • Dipublikasikan Selasa, 8 September 2026 | 18:46 WIB
Koreografi Properti tras bag (youtube: @35.azilaneriauliasari22)
Koreografi Properti tras bag 

SOLOBALAPAN.COM- Pandemi Covid-19 masih menjadi bayang-bayang yang menghantui makhluk hidup di muka bumi ini, menjadi memori pada masa pandemi yang sempat menghambat seluruh aktivitas tidak hanya umat manusia juga seluruh makhluk hidup yang ada di dunia.

Memancing ide untuk sebuah karya tari modern dengan menggunakan trash bag sebagai properti. Berangkat dari mata kuliah semester 3 Koreografi Properti yang menjadi mata kuliah di Prodi Tari ISI Surakarta, membuat Adi, Candra, Maila, Devi, Adhima, Lola dan Azila  kembali mengingat pandemi Covid-19 yang membuat mereka harus mengikuti kebijakan pemerintah untuk tetap berada di rumah.Dengan kebijakan Stay At Home  itu kegiatan belajar mereka dilakukan secara daring. 

Memaknai trash bag yang digunakan sebagai properti pada koreografi ini, trash bag digunakan sebagai perwujudan keterbatasan yang ditimbulkan oleh pandemi.

Baca Juga: Dari Ritual hingga Terapi Kesehatan, Ini Enam Fungsi Tari dalam Kehidupan

Penggunaan trash bag dan gerak tubuh yang terbungkus oleh trash bag menggambarkan kondisi ketika ruang gerak manusia menjadi terbatas akibat adanya berbagai kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah untuk mencegah penyebaran virus. 

Mereka harus menaati kebijakan pemerintah dan meningkatkan kesadaran diri untuk tetap berada di dalam rumah demi menjaga kesehatan diri sendiri maupun keluarga agar tidak terjangkit virus.

Kondisi tersebut membuat aktivitas yang biasanya dilakukan secara bebas menjadi terbatas, baik dalam melakukan kegiatan sehari-hari, berinteraksi dengan orang lain, maupun dalam melakukan aktivitas di luar rumah. Trash bag yang membungkus dan membatasi tubuh juga dapat dimaknai sebagai gambaran perasaan terkungkung dan tidak bebas yang dirasakan masyarakat selama masa pandemi.

Dengan demikian, penggunaan trash bag tidak hanya berfungsi sebagai properti pendukung, tetapi juga menjadi simbol dari keterbatasan ruang gerak, kebebasan, dan aktivitas manusia yang terjadi selama pandemi. 

Koreografi Properti trash bag (youtube : @35.azilaneriauliasari22)
Koreografi Properti trash bag (youtube : @35.azilaneriauliasari22)

Tata busana yang dipilih adalah pakaian yang digunakan saat melaksanakan pembelajaran maupun pekerjaan secara daring melalui Zoom Meeting. Busana yang digunakan terdiri dari atasan kemeja formal berwarna putih dengan dasi yang tersemat pada bagian kerah, kemudian dipadukan dengan celana pendek rumahan yang memiliki warna beragam.

Baca Juga: Bedhaya Ketawang dan Jejak Mistis di Balik Kesakralan Tari Pusaka Keraton Surakarta

Pada bagian rambut, ditata dengan cara diikat rapi untuk memberikan kesan formal dan tertata. Dalam presentasi Adi sebagai koordinator pada kelompok ini menyampaikan bahwa pemilihan tata busana tersebut menggambarkan kebiasaan masyarakat selama masa pandemi yang harus melakukan berbagai aktivitas dari rumah, seperti mengikuti pembelajaran dan melaksanakan pekerjaan secara daring.

Penggunaan kemeja dan dasi menunjukkan adanya tuntutan untuk tetap berpenampilan formal ketika mengikuti kegiatan daring, sedangkan celana pendek rumahan menggambarkan kondisi sebenarnya bahwa aktivitas tersebut dilakukan dari dalam rumah.

Perbedaan antara bagian atas dan bawah busana juga memperlihatkan adanya perubahan kebiasaan dalam menjalani aktivitas selama pandemi, yaitu tetap berusaha terlihat formal di hadapan orang lain meskipun berada dalam suasana rumah yang lebih santai. Dengan demikian, tata busana yang digunakan tidak hanya berfungsi sebagai pendukung penampilan penari, tetapi juga menjadi gambaran dari kehidupan masyarakat yang mengalami perubahan kebiasaan selama masa pandemi. (adhima aulia)

Editor : Kabun Triyatno
koreografi properti trash bag kekebasan pandemi ide kreatif