SOLOBALAPAN.COM – Di balik gerak sembilan penari perempuan yang tampak lembut dan terukur, Tari Bedhaya Ketawang menyimpan kisah panjang tentang kekuasaan, spiritualitas, dan hubungan manusia dengan sesuatu yang diyakini berada di luar jangkauan nalar.
Tari Bedhaya Ketawang dikenal sebagai salah satu tari pusaka Keraton Kasunanan Surakarta. Tarian ini sarat makna simbolis dan berkaitan erat dengan upacara adat keraton. Karena itu, unsur kesakralan dan nilai religius di dalamnya terus dijaga.
Baca Juga: Frankie MacDonald Siapa? Viral Pengamat Cuaca Asal Kanada Ramal Gempa Dahsyat Bakal Guncang Jawa
Kehadiran Bedhaya Ketawang di lingkungan istana tidak semata-mata sebagai pertunjukan seni. Dalam kajian Soemarsaid Moertono (1985), tari ini juga berkaitan dengan pengukuhan dan legitimasi raja. Pengukuhan tersebut turut memperkuat kewibawaan serta kedudukan raja yang dipandang memiliki posisi luhur dalam tatanan kerajaan.
Bedhaya Ketawang menjadi bagian penting dalam tradisi Keraton Surakarta dan hanya dipentaskan pada momentum tertentu, terutama Tingalan Dalem Jumenengan Sunan Surakarta, yakni upacara peringatan kenaikan takhta raja.
Baca Juga: Namanya Bikin Salah Fokus, Kerupuk Upil Punya Cerita di Balik Jajanan Jalanan Surabaya
Nama Bedhaya Ketawang sendiri mengandung makna simbolis. Bedhaya merujuk pada penari perempuan istana, sedangkan ketawang berarti langit. Langit dipahami sebagai simbol sesuatu yang tinggi, luhur, dan mulia.
Makna tersebut kemudian membawa Bedhaya Ketawang pada pemahaman spiritual yang lebih dalam. Tarian ini tidak sekadar menyuguhkan keindahan gerak, tetapi juga menjadi pengingat bahwa segala sesuatu diyakini tidak akan terjadi tanpa kehendak Tuhan Yang Maha Esa.
Asal-usul Bedhaya Ketawang memiliki sejumlah versi yang berkembang dalam tradisi Jawa.
Baca Juga: Kafe di Tengah Taman Bunga, Ada Kincir Angin dan Gunung Merapi di Baliknya
Salah satu legenda mengaitkannya dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma, raja Kesultanan Mataram yang memerintah pada 1613–1645. Konon, ketika menjalani laku semadi, Sultan Agung mendengar suara tetembangan atau senandung dari arah tawang, yang berarti langit.
Senandung tersebut begitu membekas. Setelah menyelesaikan pertapaannya, Sultan Agung kemudian memanggil empat orang pengiringnya, yakni Panembahan Purbaya, Kyai Panjang Mas, Pangeran Karang Gayam II, dan Tumenggung Alap-Alap.
Kepada mereka, sang raja menceritakan pengalaman batin yang dialaminya. Dari pengalaman tersebut kemudian lahir sebuah gagasan untuk menciptakan tarian yang dikenal sebagai Bedhaya Ketawang.
Versi lain menyebutkan kisah yang berbeda. Panembahan Senapati, pendiri sekaligus raja pertama Mataram, dipercaya pernah bertemu dengan Kanjeng Ratu Kidul, penguasa Laut Selatan. Pertemuan tersebut kemudian dikaitkan dengan lahirnya Bedhaya Ketawang.
Dua versi legenda tersebut memperlihatkan satu hal yang sama: Bedhaya Ketawang sejak awal tidak dapat dilepaskan dari dimensi spiritual dan mitologi Jawa.
Bedhaya Ketawang dibawakan sembilan penari perempuan. Jumlah tersebut bukan sekadar kebutuhan artistik, tetapi memiliki kedudukan simbolis dalam konsep pertunjukan tradisional Jawa.
Dalam tradisi lama, terdapat sejumlah persyaratan bagi perempuan yang membawakan tarian ini. Penari harus berada dalam kondisi tertentu yang dianggap memenuhi kesucian sebelum menjalankan tugasnya.
Seiring perkembangan zaman, ketentuan tersebut mengalami perubahan. Penari yang tidak lagi memenuhi syarat lama tetap dapat membawakan Bedhaya Ketawang dengan mengikuti tata cara dan perizinan yang berlaku di lingkungan keraton.
Kesakralan Bedhaya Ketawang juga membuatnya berbeda dari tari pertunjukan pada umumnya. Tarian ini tidak ditempatkan semata sebagai tontonan, melainkan sebagai bagian dari tradisi dan ritual keraton.
Bedhaya Ketawang kemudian menjadi salah satu sumber lahirnya berbagai tari Bedhaya lainnya. Tradisi tersebut berkembang melalui berbagai karya, antara lain Bedhaya Semang, Bedhaya Sabda Aji, Bedhaya Angron Sekar, Bedhaya Pangkur, Bedhaya Duradasih, Bedhaya Mangunkarya, Bedhaya Sinom, Bedhaya Endhol-Endhol, Bedhaya Gandrungmanis, Bedhaya Kabor, dan Bedhaya Ela-Ela.
Di antara berbagai perkembangan tersebut, Bedhaya Ketawang tetap menempati posisi istimewa. Ia bukan hanya warisan seni tari, tetapi juga jejak panjang kebudayaan Jawa yang mempertemukan estetika, simbol, spiritualitas, dan kekuasaan dalam satu panggung tradisi. (carrieolis ratu lathiifu)
Editor : Kabun Triyatno