Menjaga Pakem Tari Jawa di Tengah Perubahan Zaman

tim solobalapan • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 18:16 WIB
Seni Tari Tradisional
Seni Tari Tradisional Jawa.(Ilustrasi Foto Penari Chat GPT)

SOLOBALAPAN.COM – Tubuh menjadi bahasa utama dalam seni tari. Setiap gerak tidak sekadar menghadirkan keindahan, tetapi juga menyampaikan makna dan gagasan kepada penonton. Dalam tari Jawa, gerak tubuh bahkan tidak dapat dipisahkan dari irama musik pengiring. Keduanya berpadu membentuk satu kesatuan yang utuh.

Soerjodiningrat dalam Babad lan Mekaring Djoged Djawi (Jogjakarta: Kol Buning, 1934) menjelaskan hakikat tari melalui ungkapan, “Ingkang kawastanan djoged inggih poenika ebahing sadaya sarandoening badan kasarengan oengeling gangsa (gamelan) katata pekantoek wiramaning gending kalajan pikadjenging djoged.”

Baca Juga: Sunday Scaries, Rasa Cemas yang Datang Menjelang Senin

Artinya, yang disebut joged atau tari adalah seluruh gerak tubuh yang dilakukan bersamaan dengan iringan gamelan. Dengan demikian, rasa gerak dan rasa musik menyatu sehingga melahirkan makna dalam sebuah pertunjukan.

Keindahan tari Jawa bertumpu pada tiga unsur utama, yakni wiraga, wirama, dan wirasa. Ketiganya menjadi fondasi bagi seorang penari untuk mampu menghadirkan tarian secara utuh.

Wiraga berkaitan dengan raga atau tubuh. Unsur ini menunjukkan kemampuan penari dalam menguasai setiap gerakan, mulai dari sikap tubuh, posisi tangan, kaki, hingga rangkaian gerak yang menjadi identitas sebuah tarian.

Baca Juga: Di Balik “Laut Bercerita”, Dua Fotografer Senior Bantu Hidupkan Suasana 1998

Wirasa berkaitan dengan rasa atau penghayatan. Penari tidak hanya dituntut mampu melakukan gerakan dengan tepat, tetapi juga harus memahami karakter dan makna tarian sehingga mampu mengekspresikannya kepada penonton.

Sementara itu, wirama berkaitan dengan irama atau ritme. Penari harus mampu menyelaraskan setiap gerakan dengan gending atau musik pengiring. Ketepatan mengikuti irama membuat gerakan terlihat lebih hidup dan tidak terkesan dipaksakan.

Bagi penari Jawa, khususnya gaya Surakarta, penguasaan ketiga unsur tersebut menjadi bagian penting dalam membangun karakter tari. Penari harus memahami rangkaian dan bentuk gerakan, struktur tari, karakter tarian, serta kesesuaiannya dengan irama gending.

Baca Juga: Sosok Sarjiyono alias Mbetut, Seniman Kethoprak Bantul Meninggal di Panggung Akibat Henti Jantung

Ketika wiraga, wirama, dan wirasa telah dikuasai, gerakan penari akan tampak anggun. Tubuh tidak terlihat kaku. Setiap gerakan mengalir dengan lembut, menyatu dengan irama, sekaligus mampu menyampaikan rasa kepada penonton.

Dalam tari tradisional, wiraga, wirama, dan wirasa bukan sekadar unsur untuk memperindah pertunjukan. Ketiganya juga berkaitan erat dengan identitas budaya dan pakem yang berkembang di setiap daerah.

Tari tradisional memiliki sejumlah aturan yang tidak dapat diubah sembarangan. Mulai dari ragam gerak, pola lantai, rias, busana, hingga properti yang digunakan. Aturan tersebut tidak muncul tanpa alasan. Sebagian berkaitan dengan nilai sakral dalam upacara adat, sementara lainnya berhubungan dengan cerita, legenda, serta nilai kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Keragaman tari tradisional Indonesia pun lahir dari latar budaya yang berbeda-beda. Setiap daerah memiliki karakter, sejarah, legenda, dan keyakinan yang membentuk identitas tari masing-masing.

Surakarta menjadi salah satu wilayah yang memiliki tradisi tari yang kuat. Tari tradisional gaya Surakarta tidak hanya mengutamakan keindahan gerak, tetapi juga merefleksikan nilai kebudayaan dan filosofi masyarakat Jawa.

Beberapa di antaranya adalah Tari Bedhaya Ketawang, Tari Gambyong, dan Tari Srimpi. Masing-masing memiliki aturan yang menjadi identitasnya. Jumlah penari, pola lantai, tempat pementasan, hingga ragam gerak memiliki ketentuan tertentu.

Pakem tersebut menjadi penting karena setiap gerakan dalam tari tradisional membawa maksud dan gagasan. Perubahan yang dilakukan tanpa memahami struktur dan maknanya dikhawatirkan dapat menghilangkan identitas tarian.

Selain gerak, rias, busana, dan penataan rambut juga menjadi bagian penting dalam tari tradisional. Busana bukan sekadar pelengkap penampilan, melainkan bagian dari karakter dan identitas sebuah tarian.

Seiring perkembangan zaman, rias dan busana tari tradisional mengalami sejumlah penyesuaian. Namun, perubahan tersebut tetap perlu memperhatikan pakem yang menjadi dasar tarian.

Tari Gambyong menjadi salah satu contohnya. Secara tradisional, penari Gambyong mengenakan kemben jumputan, jarik, dan sanggul Jawa. Dalam perkembangannya, sebagian pementasan menggunakan kebaya sebagai atasan agar busana terlihat lebih tertutup.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa tari tradisional dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa harus kehilangan akar budayanya. Di antara gerak, irama, rasa, rias, dan busana, terdapat warisan nilai yang terus dijaga agar tari tidak sekadar menjadi tontonan, tetapi tetap menjadi bagian dari identitas budaya. (carrieolis ratu lathiifu)

.

Editor : Kabun Triyatno
Seni Tari tari tradisional ritme Tradisi Jawa gamelan