SOLOBALAPAN.COM - Deretan tanaman anggrek dengan aneka bentuk, warna, dan ukuran menghiasi halaman rumah dinas Wali Kota Solo atau Loji Gandrung, 18-26 Juli.
Tercatat ribuan koleksi anggrek dijual di ajang Solo Anggrek Festival 2026.
Bagi anthopile atau pecinta para bunga, ini momentum yang tepat untuk menambah koleksi anggrek di rumah.
Peserta pameran asal Tawangmangu, Karanganyar Jeff Weinshenker menjelaskan, bisnis anggrek masih memiliki prospek yang baik.
Menurutnya, minat masyarakat terhadap tanaman hias, khususnya anggrek, terus mengalami peningkatan sehingga peluang usaha di bidang tersebut masih terbuka.
"Menurut saya, pecinta anggrek setiap tahun meningkat sekira 40-50 persen. Sehingga pasarnya terus berkembang," kata Jeff.
Jeff menambahkan, sudah menggeluti budi daya anggrek sejak 2016.
Selama hampir satu dekade terakhir, ia terus mengembangkan koleksi tanaman, sekaligus memperluas jangkauan pemasaran.
Bahkan di ajang Solo Anggrek Festival 2026, Jeff membawa 2.000 tanaman anggrek dari berbagai jenis.
Di antaranya Vanda, Cattleya, Anggrek Bulan (Phalaenopsis), dan Dendrobium.
Masing-masing memiliki karakter yang berbeda, baik dari bentuk bunga, warna, maupun ukuran tanaman.
Keragaman tersebut memberikan pilihan bagi masyarakat yang baru mulai mengoleksi anggrek hingga kolektor yang mencari tanaman dengan karakter tertentu.
Harga yang ditawarkan pun bervariasi. Tanaman berukuran seedling atau bibit dijual mulai Rp 20 ribu, sehingga dapat dijangkau masyarakat ingin mencoba memelihara anggrek.
Sementara itu, anggrek dewasa dengan karakter bunga yang lebih unik, seperti kelopak bergelombang atau keriting, dibanderol hingga sekira Rp 350 ribu dan umumnya menjadi incaran para kolektor.
Baca Juga: Tak Hanya Jumat Kliwon, Ini 8 Hari Yang Dianggap Istimewa Di Berbagai Belahan Dunia
Menurut Jeff, pengunjung yang datang tak hanya dari Solo Raya, tetapi juga Jogja dan Tulungagung, Jawa Timur.
Mayoritas pembeli menjadikan anggrek sebagai tanaman hias di rumah.
Sedangkan untuk kolektor, biasanya mencari jenis dengan karakter bunga yang unik dan bernilai jual tinggi.
Selain pangsa pasar menjanjikan, Jeff menilai budi daya anggrek tidak membutuhkan biaya perawatan besar.
Pemupukan contohnya, cukup dilakukan sekali dalam sepekan. Sedangkan penyiraman tidak perlu setiap hari.
Tantangan terbesar justru dari serangan hama yang mengganggu pertumbuhan tanaman.
"Hama bisa diatasi dengan pemberian obat," ujarnya.
terkait memasarkan, Jeff memanfaatkan berbagai platform digital seperti Facebook, Instagram, TikTok, hingga marketplace.
Pemanfaatan media sosial tersebut dinilai membantu menjangkau calon pembeli dari berbagai daerah sekaligus memperkenalkan koleksi anggrek kepada masyarakat yang lebih luas. (rastri rafiarum/fer)
Editor : Ferry Ardi Susanto