Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mencari Makna Jawa di Tengah Generasi Digital, Primbon Kembali Dilirik Anak Muda Solo

Andi Aris Widiyanto • Rabu, 10 Juni 2026 | 16:11 WIB
Di tengah dominasi media sosial dan teknologi digital, generasi muda di Solo mulai kembali melirik primbon dan filosofi Jawa sebagai sarana mengenal karakter diri. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)
Di tengah dominasi media sosial dan teknologi digital, generasi muda di Solo mulai kembali melirik primbon dan filosofi Jawa sebagai sarana mengenal karakter diri. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)

SOLOBALAPAN.COM – Di era ketika layar ponsel menjadi jendela utama melihat dunia, sebuah pemandangan berbeda justru muncul di Kota Surakarta.

Sekelompok anak muda tampak berkumpul dengan penuh perhatian, bukan untuk membuat konten media sosial atau bermain gim daring, melainkan menyimak pembacaan primbon Jawa.

Fenomena ini menjadi gambaran menarik tentang bagaimana budaya tradisional masih memiliki ruang di tengah kehidupan modern yang serba digital.

Baca Juga: Videonya Viral! Eza Gionino Tonjok Roby Tremonti, Punya Masalah Apa?

Di saat banyak orang menganggap tradisi perlahan ditinggalkan, sebagian generasi muda justru mulai mencari kembali akar budaya yang selama ini menjadi identitas mereka.

Salah satunya terlihat dari tingginya minat anak muda terhadap pembacaan primbon Jawa. Bagi mereka, primbon bukan sekadar kumpulan ramalan atau perhitungan weton, tetapi juga sarana untuk mengenal diri sendiri melalui perspektif budaya leluhur.

Lia, salah satu petugas yang melayani pembacaan primbon bagi pengunjung, mengungkapkan bahwa mayoritas peminat layanan tersebut justru berasal dari kalangan muda.

Baca Juga: Sempat Viral di Facebook, Kasus Dompet Hilang dan Pedagang Somay di Sragen Diselesaikan Kekeluargaan

“Biasanya mereka penasaran dengan watak, karakter, atau makna di balik weton mereka,” ujarnya.

Rasa penasaran itulah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi generasi muda untuk mengenal lebih jauh kebudayaan Jawa.

Melalui primbon, mereka tidak hanya mengetahui perhitungan hari kelahiran, tetapi juga diperkenalkan pada berbagai nilai kehidupan yang diwariskan turun-temurun.

Di dalam tradisi Jawa, primbon sejatinya memuat banyak ajaran moral, petunjuk hidup, hingga filosofi tentang hubungan manusia dengan sesama maupun dengan alam semesta.

Tak jauh dari area pembacaan primbon, pengunjung juga dapat menemukan berbagai petuah Jawa yang sarat makna. Salah satu yang cukup menarik perhatian berbunyi:

Baca Juga: Bayu Skak Garap FOUFO, Film Komedi Sci-Fi Alien Jatuh di Madura

"Aja dume, aja geleman, aja kagetan. Aja getunan, aja gumunan, aja aleman. Sak madyane, sak mestine, sak manjate. Sak benere, sak cukupe, sak butuhe."

Kalimat sederhana tersebut menyimpan pesan mendalam. Manusia diajak untuk tidak sombong ketika memiliki kelebihan, tidak mudah terpengaruh keadaan, tidak berlebihan dalam menyikapi sesuatu, serta mampu menjalani hidup secara wajar, cukup, dan sesuai kebutuhan.

Di tengah budaya digital yang sering kali mendorong seseorang untuk tampil sempurna dan selalu mengejar pengakuan, pesan-pesan seperti itu terasa semakin relevan.

Banyak anak muda kini mulai menyadari bahwa kemajuan teknologi tidak harus membuat mereka tercerabut dari akar budaya.

Justru melalui warisan leluhur, mereka menemukan sudut pandang baru tentang keseimbangan hidup, pengendalian diri, dan makna kebahagiaan yang sesungguhnya.

Fenomena meningkatnya minat terhadap primbon juga menunjukkan bahwa budaya Jawa bukan sekadar peninggalan masa lalu yang tersimpan dalam buku-buku tua. Tradisi tersebut terus hidup dan beradaptasi mengikuti perkembangan zaman.

Baca Juga: Usai Crash di Balaton Park Hungaria, Jorge Minta Maaf ke Marco Bezzechi, dan Dapat Hukuman Double Long Lap Penalty

Generasi muda mendekatinya bukan semata-mata karena percaya pada seluruh isi primbon, melainkan karena ingin memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.

Ada rasa ingin mengenal identitas diri, memahami filosofi hidup, sekaligus menjaga hubungan dengan warisan budaya yang telah membentuk masyarakat Jawa selama berabad-abad.

Di balik lembaran primbon dan petuah-petuah yang diwariskan lintas generasi, tersimpan sebuah pengingat sederhana: bahwa manusia boleh mengikuti perkembangan zaman, tetapi tidak harus kehilangan akar budayanya.

Sebab dalam dunia yang terus bergerak cepat, sering kali kebijaksanaan lama justru menjadi kompas yang membantu manusia menemukan arah hidupnya. Di situlah budaya Jawa tetap menemukan maknanya, bahkan di tengah generasi digital yang hidup dalam era modern tanpa batas. (Lutfiana Sekar/AN)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#budaya tradisional #generasai muda #filosofi jawa #generasi digital #Primbon Jawa