Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Jejak Sejarah di Astana Yosoroto Solo, Tempat Peristirahatan Soepomo hingga Keluarga Mataram

Andi Aris Widiyanto • Rabu, 20 Mei 2026 | 18:42 WIB
tana Yosoroto di Purwosari, Solo, menjadi kompleks makam bersejarah yang menyimpan makam tokoh nasional seperti Dr. Soepomo hingga keturunan Keraton Mataram. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)
tana Yosoroto di Purwosari, Solo, menjadi kompleks makam bersejarah yang menyimpan makam tokoh nasional seperti Dr. Soepomo hingga keturunan Keraton Mataram. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)

SOLO, SOLOBALAPAN.COM – Di tengah kawasan Purwosari, Kota Solo, terdapat sebuah kompleks pemakaman bersejarah bernama Astana Yosoroto.

Tempat ini menjadi lokasi peristirahatan terakhir sejumlah tokoh penting bangsa, keluarga ningrat, hingga keturunan Keraton Mataram.

Salah satu makam yang paling sering diziarahi masyarakat adalah makam Dr. Soepomo, tokoh perumus Undang-Undang Dasar 1945 yang dikenal sebagai salah satu arsitek konstitusi Indonesia.

Baca Juga: Brigjen Teddy Hernayadi Siapa? Kembali Disorot, Eks Bendahara Kemenhan yang Divonis Seumur Hidup Akibat Korupsi Alutsista

Selain makam Dr. Soepomo, Astana Yosoroto juga menyimpan makam sejumlah tokoh penting lain. Di antaranya makam Romo R.M. Panji Hariopinilih yang merupakan putra Raja Mataram K.G.P.A. Ario Mataram II, hingga makam istri Bupati Sidoarjo Tjondronagoro yang juga merupakan putri pertama Kanjeng Mataram.

Kompleks makam tersebut turut menjadi tempat peristirahatan Prof. Mr. K.R. Koentjoro yang dikenal sebagai guru Presiden ke-3 Republik Indonesia, B.J. Habibie.

Tak hanya itu, keluarga besar Dr. Soepomo juga dimakamkan di kawasan Astana Yosoroto, termasuk istrinya B.R.Ay. Kooshartati beserta kerabat lain yang masih memiliki hubungan dengan keluarga keraton maupun tokoh nasional.

Penjaga makam, Siti, mengatakan dirinya telah menjaga kawasan Astana Yosoroto selama kurang lebih 35 tahun sebagai generasi keempat penjaga makam.

Menurutnya, peziarah yang datang pada hari biasa tidak terlalu ramai. Mayoritas pengunjung berasal dari kalangan mahasiswa, pelajar, hingga rombongan instansi yang ingin mengenal sejarah tokoh-tokoh nasional.

“Yang datang biasanya mahasiswa, anak sekolah, atau rombongan instansi,” ujarnya Rabu (20/5). 

Meski terdapat banyak makam tokoh penting, makam Dr. Soepomo menjadi salah satu lokasi yang paling sering dikunjungi peziarah dibanding makam lainnya di kompleks tersebut.

Siti menjelaskan, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk untuk berziarah ke Astana Yosoroto. Namun, masyarakat diperbolehkan memberikan uang seikhlasnya kepada penjaga makam.

“Masuknya gratis, seikhlasnya saja,” katanya.

Baca Juga: Geger Pemotor Dibacok Celurit di Gatsu Solo, Polresta Surakarta Sebut Murni 'Salah Paham' di Jalanan

Ia juga menyebutkan hingga saat ini belum ada bantuan dana khusus dari pemerintah maupun dinas terkait untuk perawatan makam Dr. Soepomo dan kawasan Astana Yosoroto secara keseluruhan.

Meski demikian, kompleks makam bersejarah tersebut tetap dirawat secara swadaya sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa para tokoh bangsa dan keluarga keturunan Keraton Mataram.

Keberadaan Astana Yosoroto pun menjadi salah satu saksi perjalanan sejarah di Kota Solo, mulai dari jejak keluarga Mataram hingga tokoh nasional yang memiliki kontribusi besar bagi Indonesia. (Lutfiana Sekar/AN)

 
 
Editor : Andi Aris Widiyanto
#makam pahlawan #makam Dr Soepomo #kompleks pemakaman bersejarah #Astana Yosoroto #makam Putra raja mataram