Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Gereja Santo Petrus Purwosari Solo Pertahankan Sentuhan Jawa di Tengah Modernisasi

Andi Aris Widiyanto • Rabu, 13 Mei 2026 | 17:33 WIB
Gereja Santo Petrus Purwosari Solo. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)
Gereja Santo Petrus Purwosari Solo. (Lutfiana Sekar/solobalapan.com)

SOLOBALAPAN.COM – Menjelang perayaan Kenaikan Yesus Kristus, Gereja Santo Petrus Purwosari mulai melakukan sejumlah persiapan untuk menyambut ibadah umat.

Meski tidak ada persiapan khusus menjelang perayaan tersebut, pihak gereja tetap melakukan penataan dan pembersihan area altar agar suasana ibadah tetap nyaman dan khidmat bagi jemaat yang datang.

Ouster Gereja Santo Petrus Purwosari, Sumbari, mengatakan persiapan yang dilakukan umumnya sama seperti menjelang ibadah rutin akhir pekan.

Baca Juga: Mengenal Josepha Alexandra, Siswi Pintar yang "Speak Up" di Panggung LCC 4 Pilar Kalbar Hingga Tuai Dukungan Netizen

“Tidak ada persiapan khusus, biasanya hanya menghias dan membersihkan area altar,” ujarnya.

Menurutnya, kegiatan tersebut juga rutin dilakukan saat persiapan misa Sabtu maupun Minggu.

Selain menjadi tempat ibadah umat Katolik, Gereja Santo Petrus Purwosari juga dikenal memiliki interior yang sarat simbol dan makna spiritual. Berbagai elemen di dalam gereja bukan sekadar dekorasi, tetapi menjadi bagian penting dari tradisi liturgi Gereja Katolik.

Salah satu unsur yang cukup mencolok adalah penggunaan warna-warna liturgi di area gereja. Sumbari menjelaskan, warna liturgi digunakan dalam perlengkapan ibadah seperti kain altar maupun pakaian pastor dan masing-masing memiliki makna tersendiri sesuai kalender gereja.

Baca Juga: AKUR LAGI! Pinkan Mambo Sebut Arya Khan Cinta Matinya usai Sempat Putuskan Cerai, Kini Akui 'Makin Ganas'

“Warna putih melambangkan suci, mulia, dan tenang,” jelasnya.

Selain putih, terdapat pula warna hijau, merah, dan ungu yang digunakan pada momen tertentu. Warna hijau melambangkan harapan dan kedamaian, merah melambangkan keberanian serta pengorbanan, sedangkan ungu identik dengan suasana pertobatan dan dukacita.

Penggunaan warna-warna tersebut disesuaikan dengan masa liturgi maupun hari besar keagamaan dalam tradisi Gereja Katolik.

Sentuhan Budaya Jawa Masih Dipertahankan

Tak hanya memiliki unsur religius yang kuat, Gereja Santo Petrus Purwosari juga masih mempertahankan sentuhan budaya Jawa dalam desain interior dan arsitekturnya.

Perpaduan unsur gereja dengan budaya lokal terlihat pada detail bangunan dan nuansa ruang ibadah yang tetap menghadirkan kesan tradisional namun sakral.

Baca Juga: Viral Aksi Tak Senonoh di Manahan, Wali Kota Solo Soroti Pengawasan Ruang Publik

Menurut Sumbari, proses pembangunan gereja pada masa lalu bahkan disebut menggunakan campuran sari tebu atau gula sebagai bagian dari material konstruksi bangunan.

Penggunaan bahan tersebut menjadi salah satu ciri bangunan lawas yang banyak ditemukan pada konstruksi bersejarah zaman dahulu.

Nuansa Jawa di dalam gereja juga tampak dari ornamen, detail kayu, hingga tata ruang yang tetap mempertahankan identitas budaya lokal.

Area altar menjadi pusat utama kegiatan misa dan berbagai perayaan keagamaan. Dengan pencahayaan yang tenang serta ornamen religius di dalamnya, gereja menghadirkan suasana yang mendukung umat untuk berdoa secara lebih khusyuk.

Di tengah perkembangan bangunan modern di Kota Solo, Gereja Santo Petrus Purwosari tetap mempertahankan identitas sejarah dan budayanya.

Baca Juga: Sempat Ngaku Bakal Cerai, Kenapa Pinkan Mambo dan Arya Khan Batal Berpisah?

Perpaduan nilai religius dan budaya lokal tersebut menjadikan gereja ini tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga bagian dari warisan sejarah dan budaya Kota Solo. (Lutfiana Sekar/AN)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Gereja Santo Perus #ibadah umat #umat katolik #misa #Kenaikan Yesus Kristus