Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Isu Apropriasi Budaya dalam Tari Kontemporer: Batas Tipis antara Inspirasi dan Eksploitasi

Laila Zakiya • Selasa, 12 Mei 2026 | 06:46 WIB


 

Contemporary Dance. (From: Pinterest)
Contemporary Dance. (From: Pinterest)

 
SOLOBALAPAN.COM - Perkembangan Tari Kontemporer yang semakin terbuka terhadap berbagai pengaruh budaya memunculkan dinamika baru dalam dunia seni pertunjukan.

Salah satu isu yang mengemuka adalah apropriasi budaya, yaitu penggunaan elemen budaya tertentu di luar konteks asalnya, terutama tanpa pemahaman atau izin yang memadai.

Fenomena ini semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya mobilitas seniman dan pertukaran budaya lintas negara. Inspirasi dapat datang dari mana saja, termasuk dari tradisi yang sangat spesifik.

Sebagai contoh, beberapa koreografer mengambil elemen dari Tari Hudoq, yang memiliki fungsi ritual dalam masyarakat Dayak, lalu mengolahnya menjadi pertunjukan kontemporer di panggung modern.

Praktik semacam ini memicu perdebatan. Di satu sisi, seni memang berkembang melalui proses adaptasi dan reinterpretasi. Namun di sisi lain, ada batas etis yang perlu diperhatikan.

Pihak yang mengkritik menilai bahwa penggunaan elemen budaya tanpa pemahaman mendalam dapat mereduksi makna asli. Tari yang semula sakral bisa berubah menjadi sekadar estetika visual.

Selain itu, muncul pertanyaan tentang hak kepemilikan budaya. Siapa yang berhak menggunakan dan menafsirkan sebuah tradisi? Apakah semua budaya bersifat terbuka untuk diolah siapa saja?

Baca Juga: Bukan Cuma Pendhapa! Ini Deretan 14 Venue Ikonik 24 Jam Menari ISI Surakarta 2026 yang Bikin Penonton Takjub
 

Contemporary Dance. (From: Pinterest)
Contemporary Dance. (From: Pinterest)

Pendukung pendekatan lintas budaya berargumen bahwa seni bersifat universal. Mereka melihat pertukaran budaya sebagai sesuatu yang alami dan justru memperkaya praktik seni.

Namun, kritik tetap menekankan pentingnya konteks. Tanpa pemahaman yang cukup, apropriasi dapat berubah menjadi eksploitasi, terutama jika ada ketimpangan kekuasaan antara pihak yang mengambil dan pemilik budaya.

Isu ini juga berkaitan dengan ekonomi. Ketika karya yang terinspirasi dari budaya tertentu menghasilkan keuntungan, muncul pertanyaan apakah komunitas asal turut mendapatkan manfaat.

Dalam beberapa kasus, seniman mulai mencoba pendekatan yang lebih etis, seperti melakukan riset mendalam, berkolaborasi dengan komunitas lokal, atau memberikan kredit yang layak.

Pendekatan kolaboratif ini dianggap sebagai salah satu solusi untuk menghindari konflik sekaligus menciptakan karya yang lebih autentik dan bertanggung jawab.

Baca Juga: “Geger Pasar Bahulak”, Kethoprak Mahasiswa Teater Hidupkan Sudut Pasar Tradisional
 

Contemporary Dance. (From: Pinterest)
Contemporary Dance. (From: Pinterest)

 

Di Indonesia, diskusi mengenai apropriasi budaya masih terus berkembang. Kesadaran akan isu ini mulai tumbuh, terutama di kalangan akademisi dan praktisi seni.

Penting bagi pelaku seni untuk tidak hanya mengejar inovasi, tetapi juga memahami implikasi dari setiap pilihan artistik yang mereka buat.

Pada akhirnya, batas antara inspirasi dan eksploitasi memang tidak selalu jelas. Namun, melalui dialog dan refleksi yang terus-menerus, dunia tari dapat menemukan cara untuk berkembang tanpa mengorbankan nilai-nilai yang menjadi fondasinya. (sen/lz)

Artikel ini ditulis oleh Senda, mahasiswi jurusan Seni Tari ISI Surakarta 

Editor : Laila Zakiya
#Tari Kontemporer #Apropriasi budaya #tradisi #tari