SOLOBALAPAN.COM - Perayaan Hari Tari Dunia 2026 di Institut Seni Indonesia Surakarta kembali menghadirkan peristiwa artistik yang penuh dedikasi.
Salah satu sorotan utama datang dari Adif Marhaendra, seniman muda asal Wonogiri yang menjalani tantangan menari selama 24 jam tanpa henti sebagai bagian dari program Pelaku 24 Jam.
Adif, yang akrab disapa demikian, dikenal sebagai penari dengan latar kuat pada tari klasik gaya Surakarta. Ketertarikannya pada dunia seni telah tumbuh sejak kecil melalui interaksinya dengan kesenian Reog Ponorogo di daerah asalnya.
Pengalaman tersebut menjadi fondasi penting dalam perjalanan keseniannya. Ia kemudian menempuh pendidikan formal di ISI Surakarta dan mengembangkan kemampuannya, khususnya dalam genre tari putra gagah.
Dalam momentum Hari Tari Dunia tahun ini, Adif dipercaya menjadi salah satu penari yang mengemban tugas performatif selama 24 jam penuh. Ia tidak hanya menari di panggung, tetapi juga menjalani aktivitas sehari-hari dengan tetap mempertahankan gerak tari.
Kehadiran konsep ini menuntut kesiapan fisik dan mental yang tidak ringan. Adif harus mampu menjaga konsistensi tubuh sekaligus menghadirkan kualitas artistik dalam durasi yang panjang.
Pada sore hari, Adif turut ambil bagian dalam sesi Masterpiece Pelaku 24 Jam yang digelar di Gedung Teater Kusuma Kesawa. Dalam kesempatan tersebut, ia menampilkan karya kolaboratif bersama komunitas Singo Bedjho Gumelar.
Kolaborasi ini mengangkat kembali kesenian Reog Ponorogo sebagai bagian dari identitas awal perjalanan keseniannya. Penampilan tersebut menjadi bentuk refleksi personal sekaligus penguatan akar budaya.
Memasuki malam hari, Adif kembali tampil di Pendhapa Ageng GPH. Joyokusumo dengan membawakan pertunjukan Reog Ponorogo. Sajian ini menghadirkan energi yang berbeda dengan pendekatan yang lebih komunal.
Tidak berhenti di situ, ia juga terlibat dalam kolaborasi bersama sivitas akademika ISI Surakarta melalui pertunjukan Fragmen Topeng Sekartaji. Pertunjukan ini memperlihatkan eksplorasi artistik yang lebih naratif.
Seiring berjalannya waktu menuju dini hari, Adif tetap aktif berpartisipasi dalam berbagai pergelaran komunitas kerakyatan. Ia bergabung dalam sejumlah pertunjukan yang berlangsung secara bergantian.
Baca Juga: Buron Kasus Cabul Santriwati di Pati Diciduk di Wonogiri, Sempat Berbaur dengan Warga
Keikutsertaannya dalam berbagai sesi menunjukkan fleksibilitas artistik yang dimilikinya. Ia mampu berpindah dari satu bentuk pertunjukan ke bentuk lainnya tanpa kehilangan identitas geraknya.
Program Pelaku 24 Jam sendiri menjadi salah satu ikon dalam perayaan ini. Para penari dituntut untuk menghadirkan ketahanan sekaligus kreativitas dalam durasi ekstrem.
Bagi Adif, pengalaman ini bukan sekadar performa, melainkan perjalanan artistik yang menyeluruh. Ia menghadapi tantangan tubuh, ruang, dan waktu dalam satu kesatuan pengalaman.
Keterlibatan lintas komunitas yang ia jalani juga memperluas jejaring keseniannya. Hal ini memperkuat posisinya sebagai seniman muda yang aktif berkolaborasi.
Selain itu, partisipasinya mencerminkan semangat generasi baru dalam menjaga dan mengembangkan tradisi. Ia tidak hanya mempertahankan bentuk, tetapi juga memberi tafsir baru. (sen/lz)
Artikel ini ditulis oleh Senda, mahasiswi jurusan Seni Tari ISI Surakarta
Editor : Laila Zakiya