Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Pemeranan dalam Tari Bedhaya: Wujud Peperangan Tubuh & Nafsu Manusia

Laila Zakiya • Kamis, 7 Mei 2026 | 14:10 WIB
Bagian sirepan pada Tari Bedhaya Mustika. (Dok. Bayu Aji P.)
Bagian sirepan pada Tari Bedhaya Mustika. (Dok. Bayu Aji P.)

 

SOLOBALAPAN.COM - Tari Bedhaya dikenal sebagai salah satu bentuk tari klasik Jawa yang sarat makna simbolik dan filosofi mendalam.

Tidak hanya menampilkan keindahan gerak yang halus dan terstruktur, tari ini juga menyimpan konsep pemeranan yang kompleks, terutama dalam menggambarkan relasi tubuh dan batin manusia.

Dalam penyajiannya, jumlah penari dalam Tari Bedhaya menjadi penentu utama pembagian peran. Setiap penari tidak sekadar menari, tetapi mewakili bagian tubuh tertentu yang memiliki makna simbolis.

Pembagian tersebut meliputi Batak yang merepresentasikan kepala, Gulu sebagai leher, serta bagian lain seperti Dhadha, Buncit, Endel Ajeg, Endel Weton, Apit Ngarep, Apit Mburi, hingga Apit Meneng. Keseluruhan peran ini membentuk satu kesatuan tubuh yang utuh dalam struktur koreografi.

Konsep ini menunjukkan bahwa Tari Bedhaya tidak hanya berbicara tentang estetika, tetapi juga tentang bagaimana tubuh manusia dipahami sebagai ruang simbolik. Setiap bagian tubuh memiliki fungsi, peran, dan makna yang saling berkaitan.

Salah satu bagian yang paling menarik dalam sajian Tari Bedhaya biasanya muncul di pertengahan pertunjukan. Pada momen ini, dua penari berdiri tegak, sementara penari lainnya bergerak dalam posisi duduk atau jengkeng.

Baca Juga: Masuk Gelombang Dua, Jemaah Embarkasi Solo Sudah Berihram Sejak dari Donohudan
 

Tari Bedhaya Pangkur. (From: Pinterest)
Tari Bedhaya Pangkur. (From: Pinterest)

 
Perbedaan level gerak tersebut menciptakan kontras visual yang kuat di atas panggung. Namun, lebih dari itu, komposisi ini mengandung makna filosofis yang dalam terkait dinamika batin manusia.

“Itu merupakan gambaran peperangan batin manusia dengan nafsunya,” ujar Wahyu Santoso Prabowo-salah seorang empu tari-dalam sesi diskusi presentasi materi Tari Bedhaya pada mata kuliah Pergelaran Tari di ISI Surakarta.

Menurutnya, dua penari yang berdiri tersebut biasanya memerankan tokoh Batak dan Endel Ajeg. Keduanya menjadi pusat perhatian dalam adegan yang sarat makna tersebut.

Batak dimaknai sebagai kepala, yang dalam konteks ini merepresentasikan pusat kendali manusia. Kepala menjadi simbol akal, kesadaran, dan pengendalian diri.

Sementara itu, Endel Ajeg merepresentasikan nafsu manusia—hasrat, keinginan, dan dorongan yang kerap kali tidak terkendali. Kehadiran dua peran ini menciptakan oposisi yang kuat dalam struktur pertunjukan.

Baca Juga: Mending Voxy Bekas atau Xpander Baru? Simak Perbandingan Harga dan Fitur MPV Pintu Geser Toyota
 

Tari Bedhaya Pangkur. (From: Pinterest)
Tari Bedhaya Pangkur. (From: Pinterest)

 
“Batak berarti kepala sementara endel ajeg berarti nafsu manusia. Pusat diri manusia ada di kepala atau batak. Tetapi keinginan dan hasrat digambarkan oleh nafsu atau endel ajeg,” jelas Wahyu.

Relasi antara Batak dan Endel Ajeg inilah yang kemudian dimaknai sebagai bentuk peperangan batin. Konflik antara akal dan nafsu menjadi tema yang dihadirkan melalui komposisi gerak dan posisi tubuh penari.

Sementara dua penari berdiri sebagai representasi konflik utama, penari lain yang berada di posisi lebih rendah turut memperkuat dinamika tersebut. Mereka menjadi bagian dari sistem tubuh yang tetap bergerak dalam ketegangan itu.

Tidak hanya itu, penggunaan level dalam koreografi juga menjadi elemen penting. Perbedaan posisi berdiri dan duduk menciptakan hierarki visual yang mempertegas fokus cerita.

Melalui simbolisasi tubuh, Tari Bedhaya mengajak penonton untuk merenungkan keseimbangan dalam diri. Bagaimana manusia berusaha mengendalikan keinginan, sekaligus tetap hidup dengan berbagai dorongan yang ada.

Kekuatan Tari Bedhaya terletak pada kemampuannya menyatukan keindahan estetika dengan kedalaman makna. Setiap gerak yang tampak sederhana ternyata menyimpan filosofi yang kompleks. (sen/lz)

Artikel ini ditulis oleh Senda, mahasiswa jurusan Tari ISI Surakarta.

Editor : Laila Zakiya
#tari Bedhaya #representasi #seni #kebudayaan