SOLOBALAPAN, BUDAYA — Seni pertunjukan di Jakarta kembali melahirkan karya yang sarat akan makna sejarah dan perjuangan sosial.
Bertajuk "Nindak Nyonya", karya koreografer Sebastian Joshua Dipraja ini tidak hanya menonjolkan estetika gerak, tetapi juga menjadi sebuah manifesto melawan budaya patriarki yang masih mengakar kuat.
Tarian ini mengambil inspirasi dari sosok nyata, Lie Tjian Tjoen, seorang aktivis perempuan Tionghoa yang mendedikasikan hidupnya untuk menyelamatkan kaum perempuan dari praktik perdagangan manusia di Batavia masa lampau.
Makna di Balik Nama: Sebuah Perjalanan Batin
Secara etimologi, "Nindak" dalam bahasa Betawi berarti berjalan, sementara "Nyonya" merujuk pada perempuan keturunan Tionghoa.
Perpaduan nama ini menggambarkan perjalanan panjang perempuan Tionghoa di Batavia—bukan sekadar perjalanan fisik, melainkan perjalanan batin dari kungkungan tekanan sosial menuju kemandirian.
Sebastian Joshua menggunakan pengembangan gerak Tari Cokek sebagai fondasi. Karakter Cokek yang luwes dan dinamis diolah sedemikian rupa menjadi lebih tegas dan berwibawa guna mencerminkan keteguhan hati seorang pejuang perempuan.
Baca Juga: Bukan Sekadar Estetika, Seni Tari Kini Jadi Medium Suarakan Kesetaraan Gender dan Isu Sosial
Media Ekspresi Melawan Patriarki
Bagi Sebastian, Tari Nindak Nyonya adalah cara dirinya mendemonstrasikan ketidaksetujuannya terhadap posisi perempuan yang sering kali ditempatkan di bawah laki-laki (subordinatif).
“Aku pribadi kurang setuju dengan adanya patriarki. Aku melalui banyak riset untuk menyampaikan pesan ini ke penonton supaya demonstrasi ketidaksetujuanku bisa bermanfaat, makanya aku ungkapkan lewat karya,” ujar Sebastian dalam wawancara pada Rabu (15/4/2026).
Tantangan Produksi dan Studi Penari
Proses kreatif yang dimulai sejak Agustus 2025 ini memakan waktu sekitar lima bulan untuk penyusunan adegan. Salah satu tantangan terberat yang dihadapi tim produksi adalah sinkronisasi jadwal latihan.
Seluruh penari yang terlibat merupakan mahasiswa aktif (semester 3 dan 5) dengan jadwal perkuliahan yang padat.
Hal ini menuntut manajemen waktu yang ekstra ketat agar target pementasan dapat tercapai tanpa mengorbankan kualitas interpretasi karakter.
Relevansi Tradisi di Era Modern
Tari Nindak Nyonya membuktikan bahwa tradisi Betawi tidak bersifat statis. Dengan improvisasi yang cerdas, nilai-nilai tradisional dapat dipadukan dengan isu kontemporer seperti feminisme dan kesetaraan gender.
Melalui gerak, musik, dan ekspresi yang tegas, penonton diajak untuk merefleksikan kembali posisi perempuan di masyarakat saat ini.
Karya ini diharapkan mampu menjadi ruang dialog terbuka sekaligus kontribusi nyata seni dalam menyuarakan hak-hak perempuan.
Fakta Cepat Tari Nindak Nyonya:
-
Koreografer: Sebastian Joshua Dipraja.
-
Inspirasi: Aktivis Lie Tjian Tjoen (Batavia).
-
Akar Gerak: Tari Betawi Cokek.
-
Pesan Utama: Kesetaraan gender dan perlawanan terhadap patriarki.
-
Durasi Proses: Agustus 2025 – Januari 2026.
(did/senda)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo