SOLOBALAPAN, SURAKARTA – Pertunjukan kethoprak yang berkualitas tidak hanya lahir dari naskah yang kuat atau tata panggung yang megah.
Ada "komposisi rahasia" yang bekerja di balik layar, melibatkan tata krama antar pemain, kepercayaan mutlak kepada sutradara, hingga komunikasi teknis yang presisi.
Dalam dunia kethoprak, harmoni antara pemeran utama, pendukung, dan tim teknis adalah fondasi utama untuk menyajikan karya yang jujur dan layak dinikmati masyarakat.
Etika Pemeran: Antara Protagonis dan Senioritas
Dalam sebuah lakon, pembagian peran seperti protagonis, antagonis, hingga tritagonis adalah hal lumrah. Namun, panggung kethoprak memiliki aturan tak tertulis mengenai tata krama:
-
Pemeran Utama: Meskipun memegang porsi tampil paling banyak dan menjadi pembawa pesan utama, seorang aktor utama dilarang besar kepala. Kesopanan terhadap pemain lain, terutama kepada seniman senior yang lebih berpengalaman, adalah nilai mutlak bagi seorang aktor yang beradab.
-
Pemeran Pendukung: Tidak perlu berkecil hati. Setiap peran, sekecil apa pun, adalah bagian dari kesatuan cerita. Meremehkan peran sendiri hanya akan merusak kualitas keseluruhan pertunjukan.
Baca Juga: Kethoprak Radio hingga TV: Rahasia Sutradara Menghidupkan Lakon Tanpa Menghilangkan Pakem
Veto Sutradara dan Fokus Aktor
Sutradara dalam kethoprak bertindak sebagai "mata penonton". Keputusannya dalam memilih pemain atau menentukan alur harus diyakini oleh seluruh anggota tim.
Aktor dan tim teknis (pemusik, penata cahaya, rias, hingga suara) sebaiknya fokus pada tugas masing-masing tanpa harus mencampuri alasan di balik keputusan artistik sutradara.
Tujuannya jelas: agar konsentrasi dalam mendalami peran tidak terganggu oleh hal-hal teknis yang tidak perlu.
Komunikasi Dua Arah dan Bahaya Improvisasi Liar
Meskipun kethoprak identik dengan improvisasi, komunikasi dua arah antara sutradara dan pemain tetap krusial.
Penawaran ide sangat disarankan dalam sesi latihan agar tidak terjadi improvisasi mendadak di atas panggung tanpa sepengetahuan sutradara.
Improvisasi yang tidak terkoordinasi hanya akan menciptakan kecanggungan bagi pemain lain dan merusak ritme pertunjukan.
Inovasi Bahasa: Kethoprak untuk Semua
Salah satu strategi menarik yang muncul untuk mendekatkan kethoprak dengan masyarakat luas adalah penggunaan Bahasa Indonesia. Strategi ini pernah diterapkan oleh mahasiswa Program Studi Teater ISI Surakarta.
Tujuannya sangat visioner: agar masyarakat luar Jawa atau generasi muda yang kurang menguasai bahasa Jawa tetap bisa menikmati keindahan kethoprak tanpa terhalang kendala bahasa. Ini adalah bukti bahwa kethoprak adalah seni yang adaptif dan inklusif.
(did/riza hidayatulloh)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo