Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Kethoprak Radio hingga TV: Rahasia Sutradara Menghidupkan Lakon Tanpa Menghilangkan Pakem

Didi Agung Eko Purnomo • Kamis, 16 April 2026 | 18:12 WIB
Kethoprak. (DOK. Juan Tanger Monty)
Kethoprak. (DOK. Juan Tanger Monty)

SOLOBALAPAN, SURAKARTA – Definisi panggung dalam dunia pertunjukan sangatlah luas.

Panggung bukan sekadar lantai kayu yang lebih tinggi dari penonton, melainkan ruang di mana aksi dilakukan—mulai dari ruang kelas hingga bus pariwisata.

Dalam kesenian Kethoprak, panggung bermetamorfosis menjadi tiga medium berbeda: gedung pertunjukan, studio radio, dan layar televisi.

Meski tujuannya sama-sama sebagai hiburan massa, ketiga medium ini menuntut strategi sutradara dan tingkat kewaspadaan aktor yang sangat kontras.

1. Panggung Gedung: Kekuatan Visual dan Suara

Pada panggung konvensional di gedung pertunjukan, jarak antara pemain dan penonton menjadi faktor penentu utama. Tantangan terbesarnya adalah:

Baca Juga: Kilas Balik Konflik Mataram: Simbolisme Pencak Silat dan Senjata Tradisional di Pentas Tradisi Kethoprak

2. Panggung Radio: Teater dalam Pikiran

Kethoprak radio adalah seni "melihat melalui suara". Di sini, visual seperti kostum dan properti bukan lagi prioritas utama.

3. Panggung Televisi: Ketelitian di Bawah Lensa Close-up

Televisi menuntut tingkat konsentrasi yang jauh lebih tinggi karena keberadaan kamera yang bisa menangkap detail terkecil melalui jarak dekat.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Politik Masyarakat Jawa Melalui Pertunjukan Kethoprak dalam Arsip Pembukuan Fotografi (eps.1)

Tata Krama dan Penguasaan Tubuh

Menjadi aktor kethoprak di medium mana pun menuntut kepatuhan terhadap tata krama panggung: tidak meremehkan pertunjukan.

Fokus total untuk menghidupkan peran adalah nilai mutlak.

Baik hanya terdengar suaranya di radio maupun terlihat detail pori-porinya di televisi, kemampuan menguasai tubuh untuk menjadi orang lain adalah nyawa dari kesenian kethoprak itu sendiri.

(did/riza hidayatulloh)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#kethoprak #sutradara #Lakon