SOLOBALAPAN, SURAKARTA – Di era gawai seperti sekarang, potret pertunjukan kethoprak bisa kita temukan hanya dengan sekali klik di media sosial.
Namun, mundur puluhan tahun ke belakang, dokumentasi kethoprak adalah barang langka yang hanya bisa diabadikan oleh segelintir orang.
Melalui buku fenomenal karya Dr. Budi Susanto, S.J. bertajuk “Kethoprak: The Politics of The Past In The Present Day Java” (1997), kita diajak menyelam lebih dalam bahwa kethoprak bukan sekadar drama rakyat biasa, melainkan sebuah instrumen politik dan kritik sosial yang tajam.
Siasat Politik Massa Rakyat
Budi Susanto dalam bukunya menepis anggapan bahwa kethoprak adalah kesenian "murahan" yang tidak adiluhung.
Sebaliknya, ia melihat kethoprak sebagai siasat politik massa. Menariknya, kethoprak memiliki keterbukaan yang luar biasa terhadap siapa saja yang ingin terlibat.
Dulu hingga sekarang, aktor kethoprak tidak melulu harus seniman murni. Mulai dari petani, pejabat, aparat, hingga narapidana bisa naik panggung untuk menghidupkan cerita.
Baca Juga: Mengenal Teknik Rias Kethoprak Klasik vs Dagelan, Mengapa Bedaknya Harus Tebal?
Keterlibatan orang-orang non-seni inilah yang terkadang membuat kethoprak dipandang "mencurigakan" oleh pihak penguasa karena dianggap mampu menggalang massa dan membawa narasi kritik terhadap fenomena sosial yang terjadi.
Kethoprak sebagai Cermin Kritik Modernisasi
Budi Susanto menyampaikan bahwa kethoprak berkembang pesat sebagai dampak dari peradaban (kolonial) Barat pada awal abad ke-20.
Alih-alih menjadi sekadar tontonan, kethoprak menjadi produk sandiwara massa yang berani membawa kritik atas sarana produksinya sendiri. Ia menjadi alat ekspresi masyarakat dalam menanggapi dinamika zaman.
Menghirup Nafas Mataram melalui Naskah "Pangeran Harya Timur"
Salah satu bukti bagaimana kethoprak menjaga nilai-nilai luhur adalah melalui naskah "Pangeran Harya Timur" yang disusun oleh Tim Peragaan Ketoprak DIY. Naskah ini membawa penonton kembali ke masa keemasan Mataram Islam.
Melalui 11 babak yang disusun, penonton diajak mengenal tokoh-tokoh besar seperti:
-
Pangeran Sepuh Purbaya
-
Ibu Prameswari
-
Patih Singaranu
-
Pangeran Harya Hadimataram
Naskah ini menggambarkan konflik kekuasaan dan dinamika keluarga kerajaan yang sangat relevan sebagai cermin kehidupan bermasyarakat, baik di dunia kerja maupun politik masa kini.
Keunikan Teknik "Wos-wosan"
Ada satu hal unik yang menjadi ciri khas seniman kethoprak senior dalam menyusun naskah, yaitu teknik wos-wosan. Naskah ini tidak menuliskan dialog secara harfiah kata demi kata. Penulis hanya memberikan:
-
Pokok Cerita: Latar waktu, tempat, dan suasana.
-
Tiga Dimensional Tokoh: Aspek fisiologis, psikologis, dan sosiologis karakter.
-
Pokok Pembicaraan: Inti dari apa yang harus disampaikan.
Selebihnya, kualitas pertunjukan bergantung sepenuhnya pada kreativitas dan kecerdasan para pemain dalam mengembangkan dialog di atas panggung secara spontan.
Baca Juga: Strategi Melestarikan Tradisi: Pasar Bahulak Gandeng ISI Surakarta Kemas Kethoprak Lebih Inovatif
Siasat Artistik yang Simpel namun Bermakna
Naskah ini juga memberikan catatan cerdas bagi penggiat teater dengan anggaran terbatas.
Untuk menghidupkan imajinasi penonton tanpa biaya besar, benda-benda megah seperti dampar kencana (singgasana) atau dipan kerajaan bisa diganti dengan satu bentuk pelenggahan besar yang ditutup kain hitam polos.
Hal ini membuktikan bahwa kekuatan kethoprak bukan pada kemegahan fisik, melainkan pada kekuatan narasi dan akting pemainnya.
Pelajaran Hidup dari Panggung Kethoprak
Walaupun berlatar sejarah masa lalu, kethoprak adalah media evaluasi bagi masyarakat Jawa dalam menjalani etika bersosialisasi dan memahami kemanusiaan.
Dari panggung inilah, politik masa lalu dihadirkan kembali untuk menjadi cermin bagi masyarakat Jawa masa kini.
(did/riza hidayatulloh)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo