Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Strategi Melestarikan Tradisi: Pasar Bahulak Gandeng ISI Surakarta Kemas Kethoprak Lebih Inovatif

Didi Agung Eko Purnomo • Rabu, 15 April 2026 | 19:36 WIB
Wawancara Mahasiswa Prodi Teater dengan pak Lurah Joko Sunarso (DOK. Teater Wirasana)
Wawancara Mahasiswa Prodi Teater dengan pak Lurah Joko Sunarso (DOK. Teater Wirasana)

SOLOBALAPAN, SRAGEN – Pasar Bahulak, destinasi wisata kuliner "jadul" yang ikonik di Desa Karungan, Plupuh, Sragen, punya cara tersendiri untuk merayakan hari jadinya setiap bulan Oktober.

 Tak hanya soal jajanan tradisional, pengelola juga menghadirkan pertunjukan Kethoprak sebagai hadiah spesial bagi para pengunjung.

Namun, di balik kemeriahan tersebut, muncul fakta menarik mengenai perbandingan antusiasme masyarakat antara kesenian teater tradisi dan pertunjukan musik modern.

Perbandingan Antusiasme: Musik Masih Mendominasi

Dalam rangkaian perayaan hari jadinya, Pasar Bahulak menggelar dua panggung besar: hari pertama diisi dengan kethoprak dan hari kedua diisi dengan pertunjukan musik.

Meskipun panggung kethoprak dihadiri banyak penonton hingga usai, jumlahnya masih kalah jauh jika dibandingkan dengan massa yang memadati area panggung musik pada hari berikutnya.

Fenomena ini menjadi catatan penting bagi pemerintah desa setempat dalam upaya menjaga relevansi kesenian tradisi di mata masyarakat luas.

Baca Juga: Bukan di Gedung Mewah, Mahasiswa ISI Surakarta Pilih Pasar Bahulak Sragen Jadi Lokasi Ujian Kethoprak

Magnet Utama "Gamelan Sarwo Gathuk"

Lurah setempat, Joko Sunarso, mengungkapkan bahwa selama ini jantung hiburan di Pasar Bahulak adalah grup musik Gamelan Sarwo Gathuk.

Grup ini menjadi magnet luar biasa yang selalu dinanti pengunjung setiap Minggu Pahing dan Minggu Legi.

“Masyarakat biasanya selalu memenuhi sekitaran pendapa hanya untuk menikmati alunan musik dan nyanyian sinden. Bahkan banyak yang rela bersepeda jauh-jauh hanya untuk jajanan jadul dan musik Sarwo Gathuk ini,” papar Joko Sunarso.

Strategi Durasi: Kethoprak yang Padat dan Menarik

Menanggapi tantangan tersebut, Joko Sunarso menyambut baik kolaborasi dengan Program Studi Teater ISI Surakarta yang akan menjadikan Pasar Bahulak sebagai lokasi ujian kethoprak.

Namun, ia memberikan catatan khusus kepada para mahasiswa sebagai bahan evaluasi.

Mengingat waktu operasional pasar yang singkat (pukul 06.00 hingga 11.00 WIB), Joko menyarankan agar pertunjukan kethoprak dikemas dengan durasi yang lebih ringkas namun tetap menarik (to the point). Hal ini bertujuan agar:

Langkah Awal Menarik Minat Generasi Muda

Kerja sama dengan akademisi dari ISI Surakarta diharapkan mampu membawa angin segar bagi penyajian kethoprak di ruang publik.

Dengan pengemasan yang lebih dinamis, kethoprak diharapkan bisa kembali merebut hati masyarakat dan tidak lagi dianggap sebagai hiburan yang "terlalu panjang" atau membosankan.

Ke depannya, Pasar Bahulak berkomitmen untuk terus menjadi wadah hidupnya berbagai kesenian mulai dari tari tradisi, musik lesung, hingga kethoprak, guna memperkuat statusnya sebagai pusat pelestarian budaya di Kabupaten Sragen.

(did/riza hidayatulloh)

Editor : Didi Agung Eko Purnomo
#tradisi #kethoprak #isi surakarta #Pasar Bahulak