SOLOBALAPAN.COM - Sanggar Seni Paringga Jati Raras atau yang kini berubah nama menjadi LP3 (Pendidikan, Pelatihan, dan Pengembangan) Sanggar Seni Paringga Jati Raras merupakan salah satu komunitas pegiat budaya yang berlokasi di Kabupaten Pati.
LP3 Sanggar Seni Paringga Jati Raras berdiri pada tanggal 1 Agustus 2004 di Desa Kropak Kecamatan Winong Kabupaten Pati. Kemudian tahun 2014 berpusat di Desa Semampir Kecamatan Pati Kabupaten Pati.
Budiono selaku pendiri Sanggar Seni Paringga Jati Raras mengatakan bahwa yang memotivasinya mendirikan Sanggar Paringga Jati Raras adalah keinginannya untuk membagikan ilmu khususnya tentang tari pada masyarakat.
Jejak akademisnya yang merupakan jebolan dari Jurusan Tari Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Surakarta (sekarang Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta) membawanya pada kepedulian tentang kelestarian budaya.
Menurut Budiono pada masa itu, yang terpenting adalah masyarakat khususnya anak-anak bisa menjamah pengalaman tentang seni tradisi.
“Awalnya kami tidak memungut biaya. Karena kami fokus ke pelatihan pada anak-anak khususnya, yang penting anak-anak senang dulu, mau bergerak dulu. Itu sudah lebih dari cukup,” tutur Budiono pada wawancara yang dilakukan Minggu (12/4/2026) lalu.
Sanggar Seni Paringga Jati Raras tidak hanya berfokus pada pelatihan tari saja tetapi juga pedalangan, karawitan, kethoprak, dan campursari. Ini juga merupakan strategi untuk melestarikan seni tradisi.
Jumlah siswa dari tahun ke tahun juga meningkat secara signifikan. Tahun 2026, Sanggar Paringga Jati Raras tercatat menggaet sekitar 130 murid yang terdiri dari berbagai kalangan usia dan tergabung di Kelas Tari dan Kelas Karawitan.
Eksistensi Sanggar Seni Paringga Jati Raras terbukti dari tergabungnya komunitas ini di komunitas pegiat seni yang lebih luas. Tercatat setahun terakhir ini Paringga Jati Raras aktif mengikuti kegiatan yang diadakan oleh Forum Silahturahmi Sanggar Tari Jawa Tengah.
Karya yang diciptakan dan diproduksi Sanggar Paringga Jati Raras sudah mewarnai lingkungan budaya di kancah regional sampai nasional.
Baca Juga: Jadikan Kethoprak Tugas Akhir, Ahmad Faisal Riswanda Ajak Mahasiswa Seni Perdalam Akar Tradisi Jawa
Baru-baru ini, Paringga Jati Raras memproduksi karya Sandyakala Darmaning Satriya dan Unduh Pamelo yang berangkat dari kultur, Sumber Daya Alam, dan legenda di Kabupaten Pati.
Budiono menjelaskan bahwa proses penciptaan karya selalu melibatkan riset terhadap budaya setempat khususnya wilayah Kabupaten Pati. Ia meyakini bahwa pemahaman terhadap akar budaya menjadi kunci utama dalam menciptakan sebuah karya.
Metode pembelajaran yang diterapkan cenderung fleksibel namun tetap disiplin. Pendekatan yang digunakan bertujuan agar siswa merasa nyaman sekaligus bertanggung jawab terhadap proses belajar mereka.
Kegiatan latihan rutin dilaksanakan sekali dalam seminggu dengan pembagian kelas berdasarkan tingkat kemampuan. Hal ini dilakukan untuk memastikan setiap siswa mendapatkan pembinaan yang optimal.
Tidak hanya berlatih, para siswa juga sering diberi kesempatan untuk tampil di berbagai acara. Mulai dari pentas desa, festival budaya, hingga ajang perlombaan tingkat daerah dan nasional.
Prestasi yang diraih oleh siswa-siswi sanggar ini pun cukup membanggakan. Beberapa di antaranya berhasil meraih juara dalam kompetisi tari tradisional di berbagai tingkat.
Dukungan dari orang tua siswa juga menjadi faktor penting dalam keberlangsungan sanggar ini. Banyak orang tua yang merasa bangga anak-anak mereka dapat belajar dan mencintai budaya sendiri.
Keberadaan Sanggar Seni Paringga Jati Raras menjadi inisiator bagi pelestarian seni tradisi dimana ia tidak hanya menjadi tempat belajar, tetapi juga ruang tumbuh bagi generasi muda untuk mengenal identitas budaya mereka.
Budiono berharap ke depan Paringga Jati Raras ini dapat terus berkembang dan menjangkau lebih banyak masyarakat. Ia juga berkeinginan untuk menjalin kerja sama dengan berbagai pihak guna memperluas dampak pelestarian budaya. (sen/lz)
Editor : Laila Zakiya