SOLOBALAPAN.COM - Bagaimana jika barang di sekitar kita dijadikan bahan untuk menggarap suatu karya? Atau bagaimana jika sesuatu yang kita temui di kehidupan sehari-hari digunakan untuk memantik terciptanya gagasan ide?
Koreografi properti namanya. Membedah gagasan dan cara berpikir melalui pendekatan visual dan verbal pada sesuatu yang kita temui setiap hari di sekitar kita.
Properti yang biasa dikenal sebagai elemen pendukung pada penyusunan sebuah karya tari kini menjadi elemen utama yang akan digarap oleh koreografer.
Koreografer akan melakukan bedah karya melalui unsur-unsur gagasan yang ditemukan lewat adanya properti tertentu. Terkadang ide-ide muncul sebagaimana representasi mengenai sudut lain tentang properti itu.
Baca Juga: Viral! Bayi di Riau Diberi Nama Ali Khamenei, Terinspirasi Pemimpin Iran yang Gugur
Satu karya lahir dari eksplorasi koreografi properti. Judul karyanya adalah “Undo”. Karya ini terinspirasi dan digagas dari ketertarikan dan keunikan tangga bambu yang biasa digunakan para kuli bangunan bekerja di lapangan.
Tema besarnya adalah mengangkat nilai kegigihan, kekuatan, dan perjalanan seseorang menggapai mimpi. Bagaimana seseorang melewati haling rintang untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
Karya ini mencoba merepresentasikan dinamika hidup melalui gerak dan interaksi dengan properti utamanya yakni tangga bambu.
Meskipun tangga bambu identik dengan maskulinitas, seluruh penari dan koreografernya adalah perempuan. Mereka mematahkan stigma diskriminasi gender melalui karya ini.
Karya ”Undo” diciptakan oleh Kelompok Daraswara. Mereka menginisasi gerakan-gerakan yang bersifat repetitif dan tegas. Beberapa gerak bersifat dinamis dimana penari akan menguasai panggung pertunjukan.
Baca Juga: Hari Pertama TKA SMP di Solo Lancar, Siswa Akui Soal Matematika Menantang
Tidak hanya secara teknis, koreografi ini juga kuat secara emosional. Penonton diajak merasakan tekanan, harapan, hingga kelelahan yang dialami dalam perjalanan menuju puncak.
Selain itu, komposisi gerak dalam karya “Undo” juga menonjolkan kerja sama antarpemain. Interaksi antarpenari memperlihatkan bagaimana manusia saling bergantung dalam menghadapi tantangan hidup.
Daraswara mencoba menunjukkan eksplorasi kreatifnya melalui penggunaan properti tradisional yang diolah menjadi simbol modern. Tangga bambu menjadi medium komunikasi yang efektif di atas panggung.
Ada beberapa bagian/adegan dimana tangga bambu diinterpretasikan dalam maksud dan arti lain melalui cara Daraswara mengolah gerak serta posisi utamanya dalam penggunaan tangga bambu tersebut.
Pencahayaan dan tata panggung turut memperkuat suasana pertunjukan. Nuansa yang dibangun mendukung alur cerita tentang perjuangan yang penuh tekanan dan harapan.
Karya ini tidak hanya mengandalkan keindahan gerak, tetapi juga kekuatan narasi. Setiap adegan dirancang untuk membawa penonton masuk ke dalam perjalanan emosional yang mendalam.
Pesan tentang kegigihan menjadi benang merah yang mengikat seluruh pertunjukan. “Undo” mengajak penonton untuk tidak menyerah meskipun harus menghadapi arus kehidupan yang berat.
Karya “Undo” diharapkan dapat menjadi refleksi sosial tentang realitas kehidupan modern. Banyak orang harus berjuang keras untuk mencapai tujuan di tengah berbagai keterbatasan.
Melalui pendekatan artistik dan eksplorasi properti, Daraswara mencoba menyampaikan pesan tersebut secara komunikatif. Penonton tidak hanya menyaksikan, tetapi juga merasakan makna di balik setiap gerakan.
Koreografi “Undo” menjadi bukti bahwa seni pertunjukan dapat menjadi media refleksi kehidupan. Ia tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan inspirasi dan pemahaman baru. (sen/lz)
Editor : Laila Zakiya