Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Bedhaya Mustika: Gambaran Keanggunan, Permohonan, dan Rasa Syukur

Laila Zakiya • Jumat, 10 April 2026 | 14:54 WIB
Pola/Gawang Awal Tari Bedhaya Mustika. (DOK.Firman/ISI SURAKARTA)
Pola/Gawang Awal Tari Bedhaya Mustika. (DOK.Firman/ISI SURAKARTA)
 
SOLOBALAPAN.COM - Surakarta tidak akan pernah lepas dari tubuh budayanya.
 
Satu yang menjadi ikon Kota Surakarta adalah tari Bedhaya.
 
Bedhaya sendiri merupakan salah satu tari klasik Gaya Surakarta yang sudah begitu familiar di kalangan masyarakat. 
 
Mulanya, Bedhaya dikatakan adalah pusaka suatu Kraton, Bedhaya menjadi salah satu Sumber Daya yang dimiliki Kraton.
 
Seiring berjalannya waktu, para seniman mulai menelaah dan terciptalah Bedhaya baru yang masih berpijak di ruang lingkup tari klasik Gaya Surakarta. 
 
Bedhaya Mustika diciptakan oleh Sri Setyoasih pada Agustus 2023. Bedhaya Mustika menjadi Bedhaya yang gerakannya merupakan campuran dari tari Gaya Surakarta dan Gaya Yogyakarta pada bagian kebar.
 
Baca Juga: 160 Ribu Formasi Disiapkan di Seleksi CPNS 2026, Benarkah IPK di Bawah 3 Punya Kesempatan Lolos Jadi ASN?
Gerak Kebaran pada Tari Bedhaya Mustika. (DOK.Firman/ISI SURAKARTA)
Gerak Kebaran pada Tari Bedhaya Mustika. (DOK.Firman/ISI SURAKARTA)
 
Sri Setyoasih merupakan seorang koreografer yang juga merupakan civitas akademika/dosen Program Studi Tari ISI Surakarta, yang juga aktif dalam banyak kegiatan kesenian.
 
Salah satu karyanya yang cukup terkenal adalah perannya dalam grup kenamaan Sahita. 
 
Bedhaya Mustika berdurasi sekitar 13 menit dengan struktur sajian terdiri dari Maju Beksan, Beksan, dan Mundur Beksan.
 
Struktur ini masih disamakan dengan struktur penyusunan tari Bedhaya pada umumnya.
 
Hal ini lah yang menjadikan Bedhaya Mustika memiliki keunikan dan perbedaan dari Bedhaya yang lain.
 
Sebagian besar Bedhaya yang hidup dan berkembang di ruang lingkup tari klasik Gaya Surakarta jarang terdapat bagian kebar di dalamnya. 
 
Mustika artinya mahkota atau kepala. Koreografer menginterpretasikan judul ini menjadi sebuah makna yakni doa yang dipanjatkan untuk meminta kesuburan dan keselamatan. 
 
Bedhaya Mustika ditarikan oleh 7 orang penari perempuan dengan postur tubuh ideal yang disamakan. 
 
Baca Juga: Sehari Tiga Kasus Terungkap, Polres Boyolali Amankan Sabu dan Tembakau Sintetis
 
Postur/Adeg Penari Ideal dan Sama. (DOK. Firman/ISI SURAKARTA)
Postur/Adeg Penari Ideal dan Sama. (DOK. Firman/ISI SURAKARTA)
 
“Ditarikan oleh 7 penari karena Bedhaya ini diciptakan di luar tembok Keraton. Tari Bedhaya yang diciptakan di luar tembok Kraton tidak boleh melebihi 9 penari,” jelas Sri Setyoasih pada diskusi Selasa (7/11/2026) lalu. 
 
Penari Bedhaya Mustika memiliki ‘jabatan’ mereka masing-masing. Diantaranya adalah Batak, Gulu, Dada, Buncit, Endel Ajeg, Apit Mburi, dan Apit Ngarep. 
 
Berdasarkan penjelasan dari koreografer, jabatan dalam tari Bedhaya merupakan penggambaran dari tubuh manusia. 
 
“Batak artinya kepala, Gulu itu leher, Dada itu dada, Buncit artinya organ reproduksi, Apit Ngarep lengan kanan, Apit Mburi lengan kiri, dan Endel Ajeg adalah gambaran nafsu manusia,” Sri Setyoasih menerangkan pada diskusi tersebut. 
 
Ragam gerak yang digunakan pada tari Bedhaya Mustika adalah ragam gerak yang berbasis pada tari klasik Gaya Surakarta pada bagian Maju Beksan hingga Mundur Beksan. Kemudian pada Beksan terdapat bagian kebar gaya Yogyakarta.
 
Baca Juga: Gaji PNS Naik atau Malah Justru Kena Potong? Perpres 79 Tahun 2025 Resmi Diteken Prabowo, Kini Dompet ASN Tunggu Nasib Baru
 
Sri Setyoasih menjelaskan bahwa bagian kebar menunjukan suasana yang tregel, kenes, dan centil.
 
Pada bagian ini menggambarkan nilai dan rasa kesuburan melalui gerak-gerak yang dibuat lebih cair/menyenangkan. 
 
Sementara gerak-gerak pada bagian awal masih pula berpijak pada gerak-gerak dasar tari Bedhaya. Konsep pemilihan pola ruang juga masih berpijak pada teori gawang seperti Bedhaya yang lain. 
 
“Semua rakit gawang dan gerak saling berhubungan dan tidak berdiri sendiri. Semua memiliki filosofi masing-masing yang masih terhubung dengan alam dan kehidupan manusia,” tutur Sri Setyoasih. 
 
Bedhaya Mustika menjadi simbol keanggunan yang mengemas permohonan dan rasa syukur dalam gerak-gerak tari. (snd/lz)
Editor : Laila Zakiya
#Bedhaya Mustika #Sri Setyoasih #tari Bedhaya