SOLOBALAPAN.COM — Surakarta dan Yogyakarta dikenal sebagai dua pusat kebudayaan Jawa yang memiliki karakter kuat namun berbeda.
Mulai dari adat istiadat, gaya tata busana, tradisi keraton, hingga dialek bahasa Jawa, keduanya berkembang menjadi dua identitas budaya yang khas.
Meski berasal dari akar kerajaan yang sama, perbedaan tersebut bukan muncul begitu saja. Ada satu momentum bersejarah yang menjadi fondasi terbentuknya identitas budaya Surakarta dan Yogyakarta: Perjanjian Jatisari.
Baca Juga: Reuni Besar! Wanna One Comeback Lewat Reality Show “Back to Base” Setelah 7 Tahun
Awal Pemisahan Budaya Setelah Perpecahan Mataram
Perjanjian Jatisari — atau prajanjèn ing Jatisari dalam bahasa Jawa — ditandatangani pada 15 Februari 1755, dua hari setelah disahkannya Perjanjian Giyanti, yang secara politik membagi Kerajaan Mataram menjadi dua:
- Kasunanan Surakarta di bawah Pakubuwana III
- Kesultanan Yogyakarta di bawah Hamengkubuwana I
Penandatanganan dilakukan di Jatisari, wilayah yang kini termasuk Desa Sapen, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Acara ini disaksikan oleh Gubernur VOC, Nicolas Hartingh, yang berperan besar dalam proses mediasi pembagian kekuasaan Mataram.
Simbol Perdamaian: Keris Kyai Kopek
Salah satu momen paling penting dalam Perjanjian Jatisari adalah penyerahan keris Kyai Kopek dari Pakubuwana III kepada Hamengkubuwana I.
Dalam tradisi Jawa, keris bukan hanya senjata, tetapi simbol legitimasi dan spiritualitas kekuasaan. Kata “kopek” yang merujuk pada ‘persusuan’ memberikan makna filosofis:
Yogyakarta yang baru berdiri dianalogikan sebagai “anak” yang mengibu pada Surakarta sebagai induk kebudayaan.
Makna tersebut menegaskan bahwa hubungan kedua kerajaan bukanlah permusuhan, melainkan harmonisasi dan kesinambungan budaya, meski secara politik mereka telah berpisah.
Pembagian Unsur Budaya: Dari Busana Hingga Gamelan
Jika Perjanjian Giyanti membagi wilayah, maka Perjanjian Jatisari membagi budaya.
Kesepakatan ini mengatur pembagian dan pengembangan unsur kebudayaan antara dua kerajaan, meliputi:
- Tata cara berpakaian
Surakarta mengembangkan gaya busana halus nan elegan, sementara Yogyakarta mempertahankan gaya agung dan penuh wibawa. - Bahasa dan unggah-ungguh
Ragam bahasa Solo cenderung lebih alus, sedangkan Yogyakarta lebih tegas dan struktural. - Gamelan dan seni tari
Surakarta menghasilkan gaya tari lembut-mengalun, sedangkan Yogyakarta menonjolkan gerakan yang tegas dan gagah. - Adat keraton
Upacara adat berkembang berbeda, termasuk dalam tata cara penyembahan, pembagian pranata mangsa, hingga bentuk pusaka.
Melalui pembagian ini, Surakarta dan Yogyakarta kemudian menapaki jalur pengembangan kebudayaan masing-masing, yang bertahan hingga kini dan menjadi bagian identitas masyarakat Jawa.
Tonggak Identitas Budaya Jawa
Perjanjian Jatisari bukan sekadar lanjutan dari pembagian politik Mataram, tetapi fondasi pembentukan identitas budaya.
Dari sinilah lahir dua poros kebudayaan Jawa yang sangat berpengaruh:
- Budaya Solo yang dikenal halus, aristokratis, dan penuh estetika
- Budaya Yogyakarta yang dikenal agung, sakral, dan penuh wibawa
Hingga sekarang, kedua budaya ini menjadi referensi utama dalam studi kebudayaan Jawa dan menjadi kekuatan besar dalam pelestarian tradisi nusantara. ( Luthfiana Sekar A.R/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto