Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Perjanjian Jatisari: Sejarah Pemisahan Budaya Solo dan Yogyakarta yang Jarang Diungkap

Andi Aris Widiyanto • Jumat, 10 April 2026 | 13:44 WIB
Source Instagram 
@paniradyakaistimewan
Source Instagram @paniradyakaistimewan

 SOLOBALAPAN.COM — Surakarta dan Yogyakarta dikenal sebagai dua pusat kebudayaan Jawa yang memiliki karakter kuat namun berbeda.

Mulai dari adat istiadat, gaya tata busana, tradisi keraton, hingga dialek bahasa Jawa, keduanya berkembang menjadi dua identitas budaya yang khas.

Meski berasal dari akar kerajaan yang sama, perbedaan tersebut bukan muncul begitu saja. Ada satu momentum bersejarah yang menjadi fondasi terbentuknya identitas budaya Surakarta dan Yogyakarta: Perjanjian Jatisari.

Baca Juga: Reuni Besar! Wanna One Comeback Lewat Reality Show “Back to Base” Setelah 7 Tahun

Awal Pemisahan Budaya Setelah Perpecahan Mataram

Perjanjian Jatisari — atau prajanjèn ing Jatisari dalam bahasa Jawa — ditandatangani pada 15 Februari 1755, dua hari setelah disahkannya Perjanjian Giyanti, yang secara politik membagi Kerajaan Mataram menjadi dua:

Penandatanganan dilakukan di Jatisari, wilayah yang kini termasuk Desa Sapen, Kecamatan Mojolaban, Kabupaten Sukoharjo. Acara ini disaksikan oleh Gubernur VOC, Nicolas Hartingh, yang berperan besar dalam proses mediasi pembagian kekuasaan Mataram.

Simbol Perdamaian: Keris Kyai Kopek

Salah satu momen paling penting dalam Perjanjian Jatisari adalah penyerahan keris Kyai Kopek dari Pakubuwana III kepada Hamengkubuwana I.

Dalam tradisi Jawa, keris bukan hanya senjata, tetapi simbol legitimasi dan spiritualitas kekuasaan. Kata “kopek” yang merujuk pada ‘persusuan’ memberikan makna filosofis:
Yogyakarta yang baru berdiri dianalogikan sebagai “anak” yang mengibu pada Surakarta sebagai induk kebudayaan.

Makna tersebut menegaskan bahwa hubungan kedua kerajaan bukanlah permusuhan, melainkan harmonisasi dan kesinambungan budaya, meski secara politik mereka telah berpisah.

Pembagian Unsur Budaya: Dari Busana Hingga Gamelan

Jika Perjanjian Giyanti membagi wilayah, maka Perjanjian Jatisari membagi budaya.
Kesepakatan ini mengatur pembagian dan pengembangan unsur kebudayaan antara dua kerajaan, meliputi:

Baca Juga: Ducati Tak Lagi Perkasa, Marc Marquez Melempem di MotoGP 2026: Pedro Acosta Malah Makin Hari Makin Ngeri?

Melalui pembagian ini, Surakarta dan Yogyakarta kemudian menapaki jalur pengembangan kebudayaan masing-masing, yang bertahan hingga kini dan menjadi bagian identitas masyarakat Jawa.

Tonggak Identitas Budaya Jawa

Perjanjian Jatisari bukan sekadar lanjutan dari pembagian politik Mataram, tetapi fondasi pembentukan identitas budaya.
Dari sinilah lahir dua poros kebudayaan Jawa yang sangat berpengaruh:

Baca Juga: Gaji PNS Naik atau Malah Justru Kena Potong? Perpres 79 Tahun 2025 Resmi Diteken Prabowo, Kini Dompet ASN Tunggu Nasib Baru

Hingga sekarang, kedua budaya ini menjadi referensi utama dalam studi kebudayaan Jawa dan menjadi kekuatan besar dalam pelestarian tradisi nusantara. ( Luthfiana Sekar A.R/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#perjanjian jatisari #tradisi keraton #kasultanan yogyakarta #kasunanan surakarta #Perjanjian Giyanti