Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Hidup Makin Chaos, Seberapa Penting Sih Mental Support Buat Gen Z?

Andi Aris Widiyanto • Kamis, 9 April 2026 | 18:48 WIB
ILUSTRASI : Mental support jadi kebutuhan penting bagi Gen Z yang menghadapi tekanan hidup kompleks.
ILUSTRASI : Mental support jadi kebutuhan penting bagi Gen Z yang menghadapi tekanan hidup kompleks.

 

SOLOBALAPAN.COM – Di tengah hidup yang makin “gedebak-gedebuk”—tugas numpuk, tekanan sosial tinggi, dan masa depan yang terasa serba tidak pasti—pertanyaan ini jadi relevan: seberapa penting sih mental support, terutama buat Gen Z?

Jawabannya: bukan sekadar penting, tapi krusial.

Masih banyak orang yang menganggap kesehatan mental itu urusan “orang lemah”. Padahal, fakta berbicara lain.

Menurut World Health Organization, sekitar 1 dari 7 remaja di dunia mengalami gangguan mental. Angka ini bukan kecil—ini sinyal bahwa ada tekanan besar yang sedang dihadapi generasi muda hari ini.

Gen Z, yang berada di rentang usia belasan hingga awal 20-an, sering dicap mudah stres, manja, bahkan malas. Tapi kalau dilihat lebih dalam, mereka justru hidup di era dengan tekanan yang jauh lebih kompleks—mulai dari tuntutan akademik, ekspektasi sosial media, hingga ketidakpastian ekonomi.

Jadi bukan lemah. Hanya saja, bebannya memang lebih berat.

Di sinilah mental support jadi penentu. Dukungan tidak harus selalu dalam bentuk solusi besar. Kadang, sekadar didengar tanpa dihakimi sudah cukup menyelamatkan seseorang dari titik terendahnya.

Penelitian dari Harvard University menunjukkan bahwa kualitas hubungan sosial adalah salah satu faktor terbesar yang menentukan kebahagiaan dan kesehatan mental jangka panjang.

Hubungan yang hangat dan suportif bahkan terbukti bisa menurunkan risiko depresi dan kecemasan.

Hal serupa juga ditegaskan oleh American Psychological Association, yang menyebutkan bahwa interaksi sosial rutin—bahkan hanya satu hingga dua jam per hari—cukup untuk membantu menjaga kestabilan emosi.

Sebaliknya, ketika seseorang tidak punya tempat untuk bercerita, risiko kesepian dan stres berkepanjangan meningkat drastis.

Fenomena “gedebak-gedebuk” yang sering disebut belakangan ini sebenarnya menggambarkan kondisi nyata: tekanan datang bertubi-tubi, tanpa jeda. Dalam situasi seperti ini, mental support bukan lagi pilihan—tapi kebutuhan dasar.

Kehadiran orang yang mau mendengarkan, memahami, dan tetap ada, bisa menjadi “rem darurat” saat hidup terasa di luar kendali.

Karena pada akhirnya, manusia tidak selalu butuh solusi.
Kadang, mereka hanya butuh ditemani.

Menariknya, berbagai studi juga menunjukkan bahwa dukungan sosial yang kuat dapat menurunkan risiko kematian dini hingga sekitar 50 persen. Bukan karena masalah hidupnya hilang, tapi karena seseorang merasa masih punya alasan untuk bertahan.

Jadi, kalau masih ada yang bilang mental support itu lebay—mungkin mereka belum pernah berada di titik di mana satu orang yang peduli bisa menyelamatkan segalanya. (Neyla Vala/an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#mental support #interaksi sosial #Gen Z #kesehatan mental