SOLOBALAPAN.COM – Perayaan Tahun Baru Imlek selalu identik dengan warna merah, angpao, dan lampion yang menggantung anggun.
Namun, ada satu pernik khas yang hampir tak pernah absen dari meja tamu rumah-rumah yang merayakan Imlek: jeruk kuning. Buah berwarna cerah ini bukan sekadar suguhan penyegar, melainkan simbol doa dan harapan yang sarat makna.
Dalam tradisi Tionghoa, jeruk kuning dipercaya melambangkan keberuntungan, kemakmuran, dan rezeki yang melimpah di tahun yang baru. Warna kuning keemasan pada kulit jeruk kerap diasosiasikan dengan emas—simbol kekayaan dan kesejahteraan yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu.
Makna jeruk semakin kuat jika ditilik dari sisi bahasa. Dalam bahasa Mandarin dan beberapa dialek Tionghoa, jeruk disebut juzi, yang bunyinya mirip dengan kata ji yang berarti keberuntungan atau emas.
Kesamaan bunyi inilah yang membuat jeruk dianggap sebagai pembawa hoki, sehingga kerap dijadikan buah tangan saat bersilaturahmi ke rumah kerabat pada momen Imlek.
Tradisi memberi dan menukar jeruk telah berlangsung sejak ratusan tahun silam di Tiongkok. Pada masa lampau, masyarakat saling menghadiahkan jeruk sebagai simbol doa agar tahun yang baru membawa kesehatan, rezeki, dan kehidupan yang lebih baik. Seiring perjalanan waktu, kebiasaan ini pun menyebar ke berbagai negara, termasuk Indonesia.
Di Tanah Air, jeruk Imlek biasanya disusun rapi dalam jumlah genap, melambangkan keseimbangan dan keberuntungan ganda. Tak jarang, meja tamu dipenuhi jeruk yang ditata apik—semakin banyak jumlahnya, semakin besar pula harapan akan rezeki yang datang.
Menjelang Imlek, jeruk kuning menjadi primadona di pasar tradisional maupun pusat perbelanjaan. Para pedagang mengakui, penjualan jeruk bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.
Baca Juga: Barongsai Menari, Imlek Berseri: Tradisi, Harapan, dan Toleransi di Kota Solo
Selain untuk dikonsumsi, jeruk juga kerap menghiasi keranjang hampers Imlek bersama kue keranjang, angpao, serta pernak-pernik bernuansa merah dan emas.
Bagi masyarakat Tionghoa, jeruk kuning bukan sekadar buah musiman. Ia adalah simbol doa yang menyertai pergantian tahun—pengingat akan harapan hidup yang lebih sejahtera, sehat, dan penuh keberuntungan.
Hingga kini, tradisi jeruk kuning tetap lestari, menjadi bagian tak terpisahkan dari kekayaan budaya Imlek yang diwariskan lintas generasi. (iz/an)
-Izza Aziza Queen Sophia-
Editor : Andi Aris Widiyanto