Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Naskah Khotbah Jumat 12 Desember 2025 : Belajar Menata Khidupan setelah Bencana Alam

Andi Aris Widiyanto • Kamis, 11 Desember 2025 | 18:21 WIB

Kayu Gelondongan diduga jadi penyebab banjir Sumatera.
Kayu Gelondongan diduga jadi penyebab banjir Sumatera.

SOLOBALAPAN.COM - Bangsa Indonesia baru saja kembali berduka. Berbagai bencana alam menimpa negeri yang kita cintai ini, terutama di sebagian wilayah Sumatra.

Hati kita semua terpukul menyaksikan saudara-saudara kita diuji dengan musibah besar—hilangnya nyawa, harta, dan segala yang mereka miliki dalam sekejap mata.

Di balik musibah itu, kita diingatkan betapa mudahnya Allah memberikan cobaan, serta betapa lemahnya posisi manusia di hadapan kekuasaan-Nya. Maka tidak sepantasnya kita sombong dengan apa pun yang kita punya. Harta, jabatan, dan kekuasaan tidaklah kekal. Semua bisa hilang seketika, sebagaimana Allah menakdirkan dan menghendakinya.

Rasa kaget, takut, maupun kehilangan yang muncul akibat bencana adalah hal yang sangat manusiawi. Namun pada akhirnya, kehidupan harus terus dijalani. Kita perlu bersabar, mengikhlaskan, dan menata kembali kehidupan dengan lebih baik.

Baca Juga: Naskah Khotbah Jumat, Menuju Kesatuan Umat Melalui Kalender Hijriyah Global

Di sinilah Allah menguji apakah musibah itu membuat kita semakin dekat, atau justru menjauh dari-Nya?
Apakah empati sosial kita tumbuh, atau justru hilang?

Musibah ini seharusnya menjadi sarana untuk menguatkan jiwa sosial kita agar membantu saudara-saudara yang tengah terkena musibah.
Oleh karena itu, pada khutbah Jumat 12 Desember 2025 kali ini, kita mengambil tema:
“Belajar Menata Kehidupan setelah Bencana Alam.”

Semoga khutbah ini dapat membuka mata hati kita untuk kembali memperbaiki diri, memperkuat iman, dan mengambil hikmah dari setiap kejadian yang Allah titipkan kepada kita.

Khutbah I  

 الحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي يَبْلُو عِبَادَهُ لِيَرْفَعَ دَرَجَاتِهِمْ، وَيَمْتَحِنُهُمْ لِيُظْهِرَ صِدْقَ إِيْمَانِهِمْ، وَيُقَرِّبَهُمْ إِلَى رَحْمَاتِهِمْ، وَيَكْشِفُ كُرُوبَهُمْ بَعْدَ ضِيقَاتِهِمْ، وَيُثَبِّتُ خُطُوَاتِهِمْ فِي لَحَظَاتِ اضْطِرَابَاتِهِمْ . أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنْ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ، أَمَّا بَعْدُ. فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ تَعَالَى، وَ قَدْ قَالَ: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ

Segala puji kita panjatkan ke hadirat Allah Swt, Tuhan yang selalu memberikan kepada kita ketabahan dalam menghadapi berbagai kondisi hidup. Dalam kelapangan maupun kesempitan, Dia tetap membuka jalan bagi kita untuk memohon pertolongan dan meletakkan asa kepada-Nya.

Berkat rahmat-Nya pun, kita dapat berkumpul pada siang hari ini dalam keadaan sehat, diberi kekuatan untuk terus berjuang, serta dianugerahi rezeki yang selama ini menopang kehidupan kita bersama keluarga.  

Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad Saw, teladan yang membimbing kita menuju keimanan, mengajarkan kita tentang kesabaran ketika menghadapi kesulitan, serta menunjukkan bagaimana hati tetap teguh meskipun diuji oleh beragam keadaan.

Semoga rahmat yang sama juga tercurah kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh umat yang tetap berusaha mengikuti jalan yang beliau ajarkan.   Marilah kita bersama-sama memperkuat ketakwaan kepada Allah Swt. Ketakwaan adalah pegangan yang menjaga kita ketika keadaan sulit, dan menjadi penopang ketika jalan hidup terasa berat.

Allah Swt mengingatkan kita dalam QS. Al-Hadid ayat 28: 

  يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَاٰمِنُوْا بِرَسُوْلِهٖ يُؤْتِكُمْ كِفْلَيْنِ مِنْ رَّحْمَتِهٖ وَيَجْعَلْ لَّكُمْ نُوْرًا تَمْشُوْنَ بِهٖ وَيَغْفِرْ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌۙ  

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada Rasul-Nya (Nabi Muhammad), niscaya Allah menganugerahkan kepadamu dua bagian dari rahmat-Nya dan menjadikan cahaya untukmu yang dengan cahaya itu kamu berjalan serta Dia mengampunimu. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, Tanah air tercinta, Indonesia, kembali menghadapi rangkaian bencana yang menguji kesiapan dan kepedulian kita sebagai satu bangsa. Kita melihat banjir, longsor, dan cuaca ekstrem muncul silih berganti di berbagai daerah. Kita juga menyadari bahwa perubahan iklim memperburuk kondisi alam yang rusak akibat ulah manusia. Semuanya terjadi seakan-akan kita diajak untuk lebih peduli, lebih bersatu, dan lebih rendah hati di hadapan kekuasaan Allah Swt.  

Apalagi di Sumatra, tiga provinsi mengalami kerusakan akibat bencana alam yang membuat warga kehilangan rumah, pekerjaan, dan sanak saudara. Kita menyaksikan bagaimana mereka berusaha bertahan dengan tenaga yang tersisa.   Sehingga sudah selayaknya kita merasa terpanggil untuk membantu, meski dengan kontribusi terkecil sekali pun, dengan berdonasi ke lembaga terpercaya misalnya.

Selain itu, kita juga harus menyadari bahwa melalui solidaritas dalam bentuk #wargajagawarga merupakan kekuatan yang sebaiknya selalu hidup dalam diri umat.   Akan tetapi, di balik semua musibah yang telah terjadi tersebut, seakan kita diajak kembali merenungi firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 155 tentang ujian berupa rasa takut, lapar, kehilangan harta, jiwa, dan hasil usaha dari ladang serta perkebunan.

  وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِۗ  

Artinya: “Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan dan kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.” (QS. Al-Baqarah: 155)  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, Musibah bagi orang-orang yang beriman, seperti yang dijelaskan dalam ayat di atas, merupakan kepastian dari Allah Swt. Rasa takut, kurangnya makanan, hilangnya harta, berkurangnya jiwa, dan sedikitnya hasil bumi adalah bentuk ujian yang pasti datang. Sebagaimana hal ini dijelaskan oleh Sekh Wahbah Az-Zuhaili dalam kitab Tafsirul Munir, jilid 2, halaman 40:

  ثُمَّ أَقْسَمَ اللّٰهُ تَعَالَى فَقَالَ: وَاللّٰهِ لَنُصِيبَنَّكُمْ أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ بِشَيْءٍ قَلِيلٍ مِنْ خَوْفِ الْعَدُوِّ فِي الْقِتَالِ، وَالْجُوعِ بِالْجَدْبِ وَالْقَحْطِ، وَنَقْصِ الْأَمْوَالِ بِضَيَاعِهَا، وَالْأَنْفُسِ بِمَوْتِهَا بِسَبَبِ الِاشْتِغَالِ بِقِتَالِ الْكُفَّارِ وَغَيْرِهِ، وَالثَّمَرَاتِ بِقِلَّتِهَا.  

Artinya: “Kemudian Allah Ta‘ala bersumpah seraya berfirman (dalam QS. Al-Baqarah ayat 155): Demi Allah, Kami sungguh akan menimpakan kepada kalian, wahai orang-orang beriman, sebagian ujian berupa sedikit rasa takut terhadap musuh ketika berperang, kelaparan akibat kekeringan dan paceklik, berkurangnya harta karena hilang, berkurangnya jiwa karena kematian saat menghadapi kaum kafir dan sebab-sebab lainnya (seperti bencana alam), serta berkurangnya hasil bumi karena sedikitnya panen.”  

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, Musibah seperti bencana alam ini merupakan salah satu ujian dari Allah Swt. Meskipun sering kali penyebabnya timbul karena ulah keserakahan umat manusia. Namun hal yang paling penting untuk saat ini ialah, berusaha sabar atas apa yang terjadi, mengikhlaskan apa yang hilang, tetap mengusahakan segala hal baik, dan mengevaluasi apa saja yang kita perbuat kepada sesama, Tuhan dan alam semesta raya ini.  

Selanjutnya dengan bersabar dan tetap berjuang di tengah musibah, seperti tatkala dilanda bencana alam, kita pasti akan mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Allah berfirman:  

وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ، اَلَّذِيْنَ اِذَآ اَصَابَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۗ قَالُوْٓا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِنَّآ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَۗ، اُولٰۤىِٕكَ عَلَيْهِمْ صَلَوٰتٌ مِّنْ رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُهْتَدُوْنَ  

Artinya: “Sampaikanlah (wahai Nabi Muhammad,) kabar gembira kepada orang-orang sabar [155], (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan “Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan sesungguhnya hanya kepada-Nya kami akan kembali) [156]. Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk [157].” (QS. Al-Baqarah[2]: 155-157)

Jamaah kaum muslimin yang dirahmati oleh Allah, Setiap musibah bencana alam adalah ujian yang datang dengan penuh hikmah. Kita diajarkan untuk jangan pernah berputus asa, tetap bersabar, dan terus berjuang memperbaiki keadaan.

Ujian Allah pada hakikatnya dapat menguatkan hati, mengokohkan iman, dan mengingatkan bahwa pertolongan-Nya selalu dekat bagi setiap hamba yang senantiasa bertawakal setelah berusaha dengan maksimal.  

Namun di sisi lain, musibah juga bisa menjadi cerminan bagi kita semua. Banyak bencana terjadi bukan hanya karena faktor alam, tetapi juga akibat ulah kita sebagai manusia yang serakah dan merusak keseimbangan lingkungan.

Karena itu, kita wajib melakukan evaluasi pola hidup, cara mengelola dan memperlakukan alam, serta menetapkan kebijakan yang lebih baik. Semoga Allah membimbing langkah kita menuju perubahan yang lebih baik dan lebih berkah ke depannya.

  بَارَكَ اللّٰهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ  

Khutbah II  

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا أَمَّا بَعْدُ فَيَا أَيُّهَا المُسْلِمُوْنَ اِتَّقُوْا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى   وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللّٰهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلَآئِكَتِهِ بِقُدْسِهِ وَقَالَ تَعَالَى إِنَّ اللّٰهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَنْبِيَآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَآئِكَةِ الْمُقَرَّبِيْنَ وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيِّ وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ   اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الأَحْيَآءِ مِنْهُمْ وَالْاَمْوَاتِ اَللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيَّةَ وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ دَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خَآصَّةً وَسَائِرِ الْبُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَآمَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَ اِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ   عِبَادَ اللّٰهِ، إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِيْ الْقُرْبٰى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَاذْكُرُوْا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ وَ اللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ  
(an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#Naskah Khotbah Jumat #bencana Sumatera #bangsa indonesia