SOLOBALAPAN.COM – Tibet, yang dijuluki "atap dunia" karena berada di ketinggian 4.380 hingga 4.900 meter di atas permukaan laut, tidak hanya unik karena letak geografisnya yang berbatu dan kering.
Negara ini juga dikenal memiliki tradisi pemakaman yang paling tidak biasa di dunia, yakni Pemakaman Langit (Sky Burial).
Ritual ini adalah praktik turun-temurun yang sarat makna spiritual, sekaligus menjadi solusi cerdas terhadap medan geografis Tibet yang sulit untuk kremasi atau penguburan.
Sejarah dan Filosofi Reinkarnasi
Baca Juga: Bambu Kuning hingga Kaktus: 5 Tanaman yang Dipercaya Dapat Menangkal Energi Negatif
Pemakaman Langit dipercaya telah ada sejak masa pra-Buddha di Tibet.
Masyarakat Tibet meyakini bahwa mempersembahkan jenazah kepada alam adalah tindakan kemurahan hati terakhir (last act of generosity).
Keyakinan ini semakin kuat seiring masuknya ajaran Buddha, yang mengajarkan konsep reinkarnasi.
Dalam ajaran ini, tubuh hanyalah medium atau wadah sementara bagi jiwa yang akan melanjutkan perjalanan menuju kehidupan berikutnya.
Selain alasan spiritual, Pemakaman Langit menjadi solusi logis karena Tibet memiliki medan yang sangat berbatu dan minim kayu, sehingga kremasi menjadi tidak praktis dan penguburan sulit dilakukan.
Rangkaian Ritual Perjalanan Jiwa
Ritual Pemakaman Langit adalah proses yang panjang dan melibatkan biksu:
1. Biksu memimpin doa untuk jenazah yang baru saja meninggal. Adapun kitab yang dibaca pada saat proses doa ini adalah kitab suci Bardo Thodoi (Kitab Orang Mati).
2. Setelahnya, jenazah dibawa ke atas gunung yang nantinya akan diselenggarakan ritual pemakaman langit. Tempat ini biasanya memiliki banyak burung pemakan bangkai, dan terkadang merekapun terlihat bergerombol di sana.
3. Jenazah yang sudah dibawa dan didoakan tadi, setiap bagian tubuhnya dipotong-potong menjadi bagian yang lebih kecil agar memudahkan burung nasar untuk memakannya.
4. Jenazah yang sudah dipotong, kemudian ditinggalkan. Burung nasar, yaitu burung pemakan bangkai akan datang kemudian untuk memakan jenazah itu.
Orang Tibet percaya bahwa semakin cepat burung memakan jenazah itu, maka semakin cepat jiwa dari jenazah itu bahagia di alam yang berbeda.
5. Dikutip dari laman detik.com, tulang belulang milik jenazah tadi kemudian dihancurkan dan dicampur dengan 'tsampa' atau tepung barley panggang. Setelah tubuh benar-benar terpotong seluruhnya, adonan tulang itu kemudian disebar ke tanah.
Kontroversi Ritual Pemakaman Langit
Ritual pemakaman langit pun tak luput dari kontroversi yang beredar. Ada yang beranggapan bahwa itu terlalu berlebihan dan ada juga yang berpendapat bahwa itu tidak manusiawi.
Saat ini, hanya tinggal beberapa daerah lagi di Tibet yang masih melakukan ritual tersebut.
Terlepas dari segala kengeriannya, ritual ini merupakan adat turun-temurun yang harus dihormati sebagai bagian dari warisan budaya ekstrem Tibet. (mg1/dam)
Editor : Damianus Bram