SOLOBALAPAN.COM – Indonesia kaya akan fauna, dan di balik keunikan setiap hewan, seringkali terdapat mitos yang diyakini oleh masyarakat lokal. Dan salah satu hewan yang paling lekat dengan cerita mistis adalah Burung Kedasih.
Meskipun secara fisik memiliki ciri khas, perilaku dan suara burung ini telah menempatkannya dalam legenda yang menakutkan, terutama di kalangan masyarakat Jawa.
Mengenal Ciri dan Fakta Ilmiah Burung Kedasih
Mengutip dari detikcom, Burung Kedasih dewasa memiliki ciri khas bagian kepala berwarna abu-abu, sedangkan sayap, punggung, dan ekornya berwarna coklat keabu-abuan.
Lalu tubuh bagian bawahnya berwarna merah karat. Sedangkan burung yang masih muda memiliki warna coklat terang pada punggung.
Berdasarkan literatur, seperti buku Burung-Burung Agroforest di Sumatera: Panduan Lapangan yang ditulis oleh Asep Ayat, Burung Kedasih memiliki habitat yang luas, mencakup hutan terbuka, perkebunan, agroforest, dan pekarangan.
Fakta yang Mendasari Julukan "Burung Licik"
Burung Kedasih dikenal sebagai hewan yang egois dan licik karena perilakunya dalam berkembang biak (brood parasitism):
- Tidak Membuat Sarang: Burung Kedasih tidak akan membuat sarangnya sendiri. Ia menitipkan telurnya pada sarang burung lain.
- Membuang Telur Inang: Sebelum bertelur, burung ini akan membuang telur yang sudah ada di sarang tersebut, lalu menggantinya dengan telur miliknya.
- Tidak Mengerami: Burung Kedasih tidak ingin mengerami telurnya sendiri. Ia akan membiarkan burung lain mengerami dan membesarkan anaknya hingga menetas menjadi burung Kedasih baru.
Selain sifatnya yang licik, suara kicauan burung ini juga dianggap misterius dan mengerikan.
Suaranya terdengar layaknya tawa dari perempuan dan sesekali memekik. Dalam beberapa kasus, suara Kedasih bahkan terdengar seperti suara perempuan yang memanggil-manggil.
Mitos Burung Kedasih sebagai Pembawa Malapetaka
Di masyarakat Jawa, Burung Kedasih dipercaya sebagai pembawa malapetaka.
Dalam kepercayaannya, bila seseorang mendengar kicauan burung Kedasih, maka malapetaka berupa kematian akan menghampiri salah satu anggota keluarga atau orang terdekat.
Kepercayaan lokal juga menyebutkan cara untuk mengusir aura negatif dari burung ini, yaitu dengan menyanyikan tembang Jawa Dhandanggula yang berjudul Kidung Rumeksa Ing Wengi.
Terlepas dari julukan "burung licik" dan mitos kematian yang menyertainya, Burung Kedasih tetap menjadi bagian penting dari ekosistem fauna Indonesia. (mg1/dam)
Editor : Damianus Bram