Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Naskah Khotbah Jumat : Etika dalam Dunia Kerja Menurut Islam

Andi Aris Widiyanto • Jumat, 30 Mei 2025 | 13:05 WIB

Naskah khotbah Jumat tema dunia kerja
Naskah khotbah Jumat tema dunia kerja

SOLOBALAPAN.COM - Kita hidup di zaman yang terus bergerak maju. Perkembangan tak hanya terjadi dalam hal pendidikan dan dunia kerja, tapi juga di bidang teknologi yang melaju sangat pesat.

Kemajuan teknologi ini, pada akhirnya, membawa dampak besar terhadap kehidupan manusia, termasuk dalam sistem kerja dan pengelolaan sumber daya manusia.

Baca Juga: Naskah Khotbah Jumat : Menjaga Kesucian Niat dalam Ibadah Haji: Antara Spiritualitas dan Ambisi Duniawi

Dalam dunia kerja, muncul struktur yang membagi peran menjadi pemimpin dan yang dipimpin—sering kita kenal dengan sebutan bos dan anak buah. Hubungan ini, meski bersifat struktural, tidak boleh dipandang sekadar relasi kekuasaan, melainkan harus dibangun atas dasar amanah, tanggung jawab, dan adab.

Islam mengajarkan bahwa setiap pemimpin adalah penggembala dan akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Demikian pula yang dipimpin, hendaknya menjalankan tugasnya dengan ikhlas dan penuh etika. Maka dari itu, mari kita renungkan bersama bagaimana seharusnya kita bersikap dalam menghadapi perubahan zaman ini, tanpa kehilangan nilai-nilai luhur yang diajarkan agama kita. 

Naskah khotbah Jumat kali ini bertema : Relasi Atasan dan Bawahan di Dunia Kerja menurut Islam”.

Baca Juga: Naskah Khotbah Jumat, Asyhurul Hurum : Bulan-Bulan yang Dihormati Dalam IslamMa’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Marilah kita tingkatkan rasa syukur kita ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta'ala atas nikmat iman dan Islam yang telah dilimpahkan kepada kita. Dengan rahmat dan petunjuk-Nya, kita dimudahkan untuk melangkah ke rumah-Nya, berkumpul dalam majelis mulia ini, dan menunaikan kewajiban shalat Jumat secara berjamaah.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, keluarga beliau, para sahabat, serta seluruh umat beliau hingga hari kiamat.

Khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian untuk terus meningkatkan takwa kepada Allah. Takwa yang sejati akan memandu kita dalam menjalani hidup yang penuh ujian ini, dan kelak menjadi penyelamat kita di hari perhitungan. Allah berfirman:

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar takwa, dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan Muslim.” (QS. Ali Imran: 102)

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Di antara fenomena kehidupan yang dekat dengan keseharian kita adalah dinamika dalam dunia kerja. Ada di antara kita yang menjadi atasan, ada pula yang menjadi bawahan. Kadang seseorang berada di posisi pemimpin, di waktu lain ia menjadi yang dipimpin. Begitulah siklus dunia yang penuh pergantian.

Namun dalam dinamika itu, tak jarang muncul ketegangan. Ada atasan yang bersikap semena-mena, ada bawahan yang tidak amanah. Padahal, Islam telah memberi panduan yang indah dalam mengatur hubungan ini. Dunia kerja tidak boleh menjadi tempat penindasan atau ketidakadilan, melainkan ladang amal dan tanggung jawab sosial yang berlandaskan adab dan akhlak.

Pertama, Islam mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki hak dan martabat yang wajib dijaga. Dalam QS. Al-Isra’ ayat 70, Allah menegaskan:

“Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam...”

Jika Allah yang Maha Agung saja memuliakan manusia, apatah lagi kita sebagai sesama hamba-Nya? Maka sangat tercela apabila ada yang merendahkan orang lain hanya karena jabatan atau status sosial. Di tempat kerja, atasan wajib menjaga kehormatan bawahannya, tidak mencaci maki, tidak menghina, apalagi menzalimi.

Kedua, Islam memerintahkan agar masing-masing pihak dalam dunia kerja memahami dan melaksanakan hak serta kewajibannya. Allah berfirman dalam QS. Al-Fatihah: 5:

“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.”

Ayat ini mengajarkan pentingnya kesadaran peran: hamba menyembah, dan Allah menolong. Dalam konteks kerja, atasan berkewajiban memberikan kesejahteraan dan arahan yang baik, sementara bawahan wajib melaksanakan tugasnya dengan amanah dan penuh tanggung jawab. Jika ini dijalankan, maka suasana kerja akan kondusif, harmonis, dan penuh keberkahan.

Ketiga, Islam mengajarkan untuk memanusiakan manusia. Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda dalam hadits yang diriwayatkan Imam al-Bukhari:\

“Barang siapa memiliki budak, hendaklah ia memberinya makan sebagaimana yang ia makan, dan pakaian seperti yang ia pakai. Janganlah membebani mereka di luar kemampuan mereka, dan jika itu terjadi, bantulah mereka.” (HR. al-Bukhari)

Jika budak saja diperintahkan untuk diperlakukan dengan penuh empati dan kasih, maka bagaimana lagi dengan sesama manusia merdeka di zaman ini? Dalam dunia kerja, memperlakukan bawahan dengan adil, memberi tugas sesuai kemampuan, dan memperhatikan kesejahteraan mereka adalah cerminan dari sikap Islami.

Imam Al-Qasthalani mengatakan, “Perbedaan sejati antar manusia adalah ketakwaannya.” Maka pangkat, jabatan, dan status sosial tidaklah ada artinya jika tidak disertai dengan takwa. Sebaliknya, seorang yang sederhana akan mulia di sisi Allah karena ketakwaannya.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah,

Ketiga nilai ini—memuliakan manusia, menunaikan hak dan kewajiban, serta memanusiakan manusia—merupakan inti dari etika Islam dalam dunia kerja. Maka siapa pun kita hari ini, baik sebagai atasan maupun bawahan, hendaknya menjadikan tempat kerja sebagai ladang pahala, bukan ladang dosa. Dan ini hanya akan terjadi jika ego pribadi dikalahkan oleh semangat ketakwaan.

Semoga kita semua, dengan peran dan tanggung jawab masing-masing, mampu menciptakan lingkungan kerja yang Islami—penuh keadilan, saling menghargai, dan membawa kebaikan dunia dan akhirat.

Aamiin ya Rabbal ‘alamin. (an)

Editor : Andi Aris Widiyanto
#takwa #khatib #naskah #khotbah jumat #iman dan Islam