Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Ada Batu Angker di Tengah Pasar Watukelir Sukoharjo! Konon Pernah Menjadi Lokasi Dakwah Berbasis Wayang Kulit!

Iwan Kawul • Sabtu, 14 September 2024 | 18:06 WIB
Batu Angker Ditengah Pasar Watukelir. Tempat Para Dalang Bertirakat.
Batu Angker Ditengah Pasar Watukelir. Tempat Para Dalang Bertirakat.

SOLOBALAPAN.COM - Pasar Watukelir yang terletak di Desa Jatingarang, Kecamatan Weru, Sukoharjo memiliki posisi yang sangat strategis.

Pasar ini dikenal sebagai segitiga emas di wilayah Sukoharjo bagian selatan.

Lokasinya menjadi titik persinggahan bagi kendaraan yang menuju ke berbagai arah, seperti Semin (Gunungkidul), Manyaran (Wonogiri), dan Cawas (Klaten).

Watukelir sendiri merupakan kawasan bersejarah yang telah ada sejak masa Kasultanan Demak, bahkan lebih tua lagi.

Di sekitar Watukelir, tepatnya di Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, terdapat Candi Sirih yang seumuran dengan Candi Prambanan.

Selain itu, sejarah mencatat bahwa Ki Ageng Banyubiru pernah singgah di wilayah ini.

Petilasan Ki Ageng Banyubiru, yang juga dikenal sebagai Ki Kebo Kanigoro, dapat ditemukan di Sendang Banyubiru yang terletak sekitar 200 meter di selatan Watukelir.

Ki Ageng Banyubiru sendiri merupakan paman dari Joko Tingkir.

Menurut Yudi Janoko, seorang pemerhati sejarah dan budaya Sukoharjo, salah satu tokoh yang berperan penting dalam penyebaran agama Islam di Sukoharjo bagian selatan adalah Kyai Ageng Purwoto Sidik, yang juga dikenal dengan nama Kebo Kanigoro atau Kyai Ageng Banyubiru.

Beliau melakukan perjalanan dakwah bersama keluarga, menyebarkan ajaran Islam dengan cara yang lembut tanpa paksaan, termasuk melalui media wayang, salah satu metode dakwah yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga.

 

Baca Juga: Makam Ki Ageng Balak di Desa Mertan Sukoharjo Jadi Tempat Ziarah yang Miliki Aura Mistis! Kerap Dikunjungi untuk Ngalap Berkah!

"Petilasan Watukelir yang berada di tengah Pasar Watukelir, Weru dipercaya pada zaman Wali Songo sering dijadikan tempat berdakwah melalui pagelaran Wayang Kulit. Tempat ini terletak di bawah pohon asem yang rindang dan berusia ratusan tahun," ujar Yudi.

Di bawah pohon asem ini terdapat batu besar yang bentuknya menyerupai kelir atau layar panggung, digunakan sebagai tempat pertunjukan wayang kulit.

Batu datar di bawahnya dianggap sebagai panggung pertunjukan. Hingga kini, setiap malam Jumat Kliwon, area ini masih ramai dikunjungi warga yang melakukan tirakat, membakar dupa, dan meletakkan sesaji.

"Dulu banyak yang datang ke sini untuk tirakat, terutama para dalang," kata Hadi, seorang warga setempat yang berusia 60 tahun.

Ia menambahkan bahwa para peziarah biasanya memohon agar diberikan kelancaran dalam mendalang, sehingga mereka bisa memberikan nasihat dan tuntunan yang baik melalui pertunjukan wayang. (kwl)

Editor : Nindia Aprilia
#batu #dakwah #sukoharjo #Pasar Watukelir #wayang kulit #angker