Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Menggali Makna, Watak, dan Aturan Tembang Macapat Dhandhanggula yang Warga Solo Harus Tahu!

Reinaldo Suryo Negoro • Rabu, 24 April 2024 | 01:00 WIB

 

Ilustrasi buku yang berisi tentang pesan kehidupan. (FREEPIK)
Ilustrasi buku yang berisi tentang pesan kehidupan. (FREEPIK)

SOLOBALAPAN.COM - Macapat Dhandanggula adalah salah satu jenis tembang macapat yang memiliki makna mendalam.

Dikutip dari buku "Macapat Tembang Jawa Indah dan Kaya" karya Zahra Haidar, kata dhandhanggula berasal dari kata ‘dhang-dhang yang artinya ‘berharap’ atau ‘mengharapkan’.

Namun, ada pula yang menyebut berasal dari kata "gegadhangan" yang memiliki arti sebuah angan-angan atau cita-cita.

Kemudian kata "gula" dalam dhandhanggula menggambarkan rasa indah, manis, atau bahagia.

Jadi, makna yang terkandung dalam macapat dhandhanggula adalah suatu harapan atau cita-cita bahagia yang dapat dicapai setelah melalui pengorbanan dan perjuangan.

Macapat dhandhanggula memiliki watak yang gembira, bahagia, luwes, dan indah.

Maka dari itu, tembang ini sangat cocok untuk tembang pembuka yang memberikan ungkapan kebaikan, rasa cinta, dan kebahagiaan.

Macapat dhandhanggula menjadi salah satu tembang macapat dengan jumlah gatra atau baris yang paling panjang.

Guru gatra pada tembang dhandhanggula ada 10 gatra/baris di setiap baitnya. Jumlah suku kata atau guru wilangan pada tembang macapat sinom yakni 10,10, 8, 7, 9, 7, 6, 8, 12, dan 7. Kemudian guru lagu yang dimiliki tembang macapat yaitu i, a, e, u, i, a, u, a, i, a.

Berikut adalah contoh tembang macapat dhandhanggula dalam Serat Wulangreh beserta artinya.


Pamedare wasitaning ati,
cumantaka aniru Pujangga,
dahat muda ing batine.
Nanging kedah ginunggung,
datan weruh yen keh ngesemi,
ameksa angrumpaka, basa kang kalantur,
turur kang katula-tula,
tinalaten rinuruh kalawan ririh,
mrih padanging sasmita.

Artinya

Inilah curahan hati
Berlagak meniru pujangga
Tapi merasa harus disanjung
Tak sadar banyak yang mencibir
Memaksa diri merangkai kata, bahasa yang (justru) ngelantur
Bahasa yang carut marut
yang (jika) dicermati
(hanyalah) untuk terangnya isyarat (kata hati) semata.


Sasmitaning ngaurip puniki,
mapan ewuh yen ora weruha,
tan jumeneng ing uripe,
akeh kang ngaku-aku,
pangrasane sampun udani,
tur durung wruh ing rasa, rasakang satuhu,
rasaning rasa punika,
upayanen darapon sampurna ugi,
ing kauripanira.

Artinya

Makna kehidupan itu
sungguh sayang bila tak tahu
tidak kokoh hidupnya,
banyak orang mengaku,
perasaannya sudah utama,
padahal belum tahu rasa,
rasa yang sesungguhnya,
hakikat rasa itu adalah,
usahakan supaya diri sempurna,
dalam kehidupan.


Jroning Quran nggoning rasa yekti,
nanging ta pilih ingkang unginga,
kajaba lawan tuduhe,
nora kena den awur,
ing satemah nora pinanggih,
mundak katalanjukan,
tedah sasar susur,
yen sira ajun waskita,
sampurnane ing badanira, (*kirang 3 wanda)
sira anggugurua.

Artinya

Dalam Qur’an tempat rasa jati,
tapi jarang orang tahu,
keluar dari petunjuk,
tak dapat asal-asalan,
akhirnya tidak ketemu,
malahan terjerumus,
akhirnya kesasar,
kalau kamu ingin peka,
agar hidupmu sempurna,
maka bergurulah.

Itulah beberapa penjelasan dan contoh dari tembang macapat dhandhanggula. Semoga bisa menambah wawasanmu! (mg2/rei)

Editor : Reinaldo Suryo Negoro
#makna #watak #macapat #solo #dhandhanggula