SOLOBALAPAN.COM - Jineman merupakan salah satu gending yang bisa dibilang spesial dalam karawitan gaya Solo.
Dikutip dari jurnal "Penggunaan Wangsalan dalam Sindhenan Karawitan Jawa" karya Regiana Devi, Jineman berasal dari kata "jinem" yang berarti anteng jatmika.
Dalam Kamus Bahasa Jawa diuraikan bahwa arti jinem adalah tempat tidur yang dapat dimaknai sebagai kedamaian atau kententraman dalam tidur.
Sedangkan dalam lingkungan Istana Mangkunegaran, jineman digunakan sebagai sebutan seorang petugas penjaga kedamaian dan ketentraman Istana.
Jineman dalam karawitan adalah sebuah bentuk gending yang struktur lagunya tidak terikat oleh aturan, panjang pendeknya tergantung pada lagu vokal yang ada pada jineman.
Sesuai dengan makna kata jinem, jineman dalam karawitan seringkali digunakan untuk uyon-uyon yang bersifat memberi ketentraman pendengarnya.
Menurut Ananto, dalam jurnalnya yang berjudul "Skema Mandheg dalam Struktur Gendhing Gaya Surakarta", terdapat dua jenis jineman yakni jineman mandiri dan jineman gawan.
Jineman mandiri adalah jineman yang tidak terikat dengan struktur gending. Sedangkan jineman gawan adalah jineman yang terikat dengan struktur lain seperti gending, andhegan, bawa, dan sulukan.
Jineman disajikan dengan ansambel gadhon, gadhon yakni instrumen pokok yang digunakan hanya kendang, gender, siter, suling, gambang, dan sindhen.
Sindhen akan mengisi jineman menggunakan teks wangsalan, isen-isen, parikan yang memiliki keutuhan musikal dan menjadi hal yang paling difokuskan dalam penyajian jineman.
Namun, teks yang digunakan dalam jineman juga bisa berupa tembang gedhe, tembang tengahan, maupun tembang macapat.
Contoh jineman yang paling populer dalam karawitan gaya Solo adalah Glathik Glindhing, Uler Kambang, Tulis Kresna, Sarkara, Duduk Wuluh, Kreteg Ciut, Mijil, Temanten Anyar, Mara Kangen, dan masih banyak lagi.
Itulah beberapa fakta unik tentang jineman dalam karawitan gaya Solo. Semoga bermanfaat! (mg2/nda)
Editor : Nindia Aprilia