Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mengulik Urutan dan Makna Slametan dalam Peringatan Kematian Masyarakat Jawa, Ternyata Begini Tahapannya

Nindia Aprilia • Kamis, 18 April 2024 | 15:48 WIB
Peringatan 1000 hari yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa.
Peringatan 1000 hari yang dilaksanakan oleh masyarakat Jawa.

SOLOBALAPAN.COM – Slametan merupakan sebuah tradisi ritual yang kini tetap dilestarikan oleh sebagian besar masyarakat Jawa.

Dikutip dari laman kebangpol.madiunkab.go.id istilah slametan berasal dari bahasa arab yakni Salamah yang memiliki arti selamat atau bahagia.

Dalam prakteknya, slametan atau syukuran dilakukan dengan mengundang beberapa kerabat atau tetangga.

Dalam konsep pemahaman Jawa, acara slametan peringatan kematian dibagi menjadi 8 urutan yang berbeda.

Hal ini disebabkan kepercayaan orang jawa jika ada yang meninggal ruh nya tidak akan langsung ke atas melainkan mempunyai tahapan saat perjalanannya.

Dapat dikatakan jika seseorang meninggal, secara ruh masih akan terus hidup di alam abadi.

Maka dari itu agar hubungan batin tidak terputus, maka tradisi Jawa mengadakan ritual slametan bagi keluarga yang sudah meninggal.

Tradisi slametan mempunyai makna permohonan, doa, dan harapan agar perjalanan ruh untuk bertemu kembali dengan Sang Maha Pencipta diberi kemudahan dan kelancaran.

Dilansir dari laman kedungboto.desa.id berikut 8 urutan dan makna yang terkandung dalam slametan peringatan kematian adat jawa.

1. Dina Geblak (hari kematian)

Dina geblak dapat diartikan sebagai hari dimana seseorang meninggal, pada saat ini peringatan pertama dilakukan setelah prosesi pemakaman selesai.

Terkadang pelaksanakaan slametan hari pertama ini hanya diikuti oleh beberapa orang yang berada di sekitar rumah maupun keluarga terdekat.

Peringatan slametan dina geblak ini dilakukan dengan mengirimkan doa dan membacakan surat Yasin kepada yang meninggal.

2. Telung dina (tiga hari kematian dalam hitungan Jawa)

Baca Juga: Mengenal Julukan Kaum Abangan yang Berkembang di Masyarakat Jawa

Telung dina merupakan peringatan yang dilakukan saat tiba 3 hari setelah kematian berlangsung, kegiatan ini biasa dilaksanakan ketika malam hari setelah ibadah sholat maghrib.

Penghitungan telung dina (tiga hari setelah kematian) dilakukan dengan menggunakan metode Lusaru, yaitu hari / pasaran ketiga dalam penanggalan jawa.

Pelaksanaan slametan telung dina ini dilakukan dengan mengirim doa dan membacakan yasin kepada almarhum maupun almarhumah.

3. Pitung dina ( tujuh hari kematian dalam hitungan jawa)

Dalam slametan peringatan kematian, di Jawa tidak mengenal hitungan dengan mingguan maupun bulanan.

Setiap peringatan / slametan kematian dihitung menggunakan hitungan hari, seperti kali ini pitung dina disebut dengan jumlah hari nya bukan dengan menyebut seminggu.

Untuk menghitung dan mengetahui waktu pelaksanaannya, peringatan slametan pitung dina menggunakkan metode tusaro yaitu dengan menghitung hari ketujuh dan pasaran kedua.

Sama seperti sebelumnya, pelaksanaan slametan pitung dina dilakukan dengan mengirim doa dan membacakan surat yasin.

4. Patang puluh dina

Patangpuluh dina (empat puluh hari) adalah slametan yang dilaksanakan setelah pitung dina (tujuh hari) setelah kematian.

Cara penghitungan pasaran / hari nya menggunakan rumus masarma, dimana hari kelima dan pasaran kelima sejak hari pertama meninggal merupakan empat puluh hari peringatan kematian.

Biasanya tumpeng maupun berkat an diberikan setelah hari ke tiga kematian, namun juga terkadang beberapa orang yang mempunyai ekonomi yag lebih dapat memberikan saat hari pertama kematian.

Secara umum, sebelum hari ketiga kematian diberikan hanya sebatas bucengan (nasi dengan porsi sedikit) yang diberikan setelah kirim doa dan bacaan yasinan selesai.

Sama seperti hari – hari sebelumnya, slametan patang puluh dina ini dilaksanakan dengan mengirimkan doa dan membacakan surat yasin.

5. Satus dina / nyatus

Baca Juga: 5 Rekomendasi Lokasi Berburu Batik di Kota Solo! Wisatawan Wajib Cobain Biar Gak Nyesel

Satus dina / nyatus adalah slametan dengan hitungan hari ke seratus setelah kematian.

Perhitungan hari nya dilakukan dengan rumus rosarma, yaitu dengan menambahkan hari kedua dan pasaran kelima saat kematian.

Pelaksanaan peringatan satus dina ini mulai ada perbedaan di kalangan masyarakat Jawa, beberapa wilayah Jawa memperingati nyatus ini bukan hanya dengan kirim doa dan yasin melainkan dengan dzikir fida’ atau terkadang lebih akrab disapa dengan tahli.

6. Pendak pisan

Mendak pisan adalah selamatan arwah setelah satu tahun kematian dalam tradisi masyarakat Jawa.

Cara menghitung menghitungnya menggunakan rumus patsarpat, yaitu dengan menggabungkan / menambahkan hari keempat dan pasaran keempat.

Biasanya, jika ada jadwal pernikahan pada keluarga yang berduka harus ditunda dulu hingga slametan ke-120 hari ini digelar.

Konon, jika pernikahan tetap dilakukan maka akan ada sial berupa kematian yang menghampiri pasangan tersebut.

7. Pendak pindo

Baca Juga: Mengenal Buka Luwur, Tradisi di Makam Pantaran yang Sudah Dilestarikan Selama Enam Abad

Mendak pindo adalah acara slametan orang meninggal tepat terhitung 240 hari setelah hari kematian.

Cara menghitung hari dan pasarannya menggunakan rumus rosarpat, yaitu hari kesatu dan pasaran ketiga.

Slametan ini tak berbeda dari sebelumnya, masih dilakukan doa Yasinan serta beberapa wilayah mengadakan tahlil dan tumpengan.

8. Sewon / nyewon

Tradisi slametan pada adat Jawa diakhiri dengan slametan sewon–sewon, ada pula yang menyebutnya nyewu, sewu dina, dan istilah–istilah lain yang digunakan oleh daerah masing -masing.

Nyewon dapat diartikan sebagain peringatan kematian yang sudah menginjak hari ke seribu.

Perhitungan yang sering digunakan ialah dengan menggunakan rumus nemsarma, yaitu dengan menjumlahkan hari keenam dan pasaran kelima saat meninggal.

Atau jika mudahnya saat ingin menghitung sewu dina (seribu hari) dari awal meninggal kurang lebih 2 tahun lebih 9 bulan. (mg1)

Editor : Nindia Aprilia
#slametan #tradisi #jawa #kematian #masyarakat