Tradisi Ganti Luwur Bertahan Enam Abad
SOLOBALAPAN.COM - Di Makam Pantaran yang berlokasi di Desa Candisari, terdapat sebuah tradisi buka luwur yang rutin dijalankan warga sekitar.
Tradisi buka luwur di Makam Pantaran juga menjadi saksi penyebaran Islam di wilayah lereng gunung Merapi-Merbabu.
Makam tersebut berada di desa yang berjarak 500 meter di atas Desa Pantaran, tempat Surau Maulana Pantaran.
Tradisi buka luwur atau mengganti kain mori pada makam sesepuh Pantaran sudah dilestarikan selama enam abad.
Makam tersebut merupakan tokoh penyebar agama Islam yang hidup sekira 1.400-an masehi.
Ritual dalam tradisi ini untuk melestarikan mata air Sipendok, sumber air asli dari Gunung Merbabu.
Tradisi buka luwur menjadi budaya masyarakat setempat. Tradisi ini bebarengan dengan sadranan, istilah besik (bersih-bersih) makam, ziarah dan dilanjutkan open house.
Ribuan masyarakat tumpah ruah. Acara dimulai dengan doa. Baru setelahnya, acara kirab yang dipimpin sejumlah prajurit.
Seperangkat ritual luwur berupa dari dupa, kain mori dan bunga mawar melati membuka arak-arakan.
Di belakangnya, warga akan mengarak gunungan- gunungan hasil bumi. Seusai acara, gunungan tersebut langsung ludes diserbu warga.
Sejumlah barisan prajurit, lengkap dengan beskap khas Jawa menenteng tombak, alat perang tradisional.
Berjejer di sisi kiri dan kanan lorong menuju pintu masuk area makam Pantaran.
Setelah ritual selesai, sang juru kunci dan bupati Boyolali mulai mengganti luwur secara berurutan.
Mulai dari makam utama Syekh Maulana Ibrahim Magribi, lalu sang istri Dewi Nawangwulan.
Kemudian keluar di ruangan kedua ada makam Ki Ageng Pantaran dan Ki Ageng Mataram.
Di ruang berbeda sisi timur, terdapat makam petilasan Ki Ageng Kebo Kanigoro.
Mori lama yang sebagian mulai kusam diambil. Ditata rapi, baru diganti dengan mori baru yang putih bersih.
Lalu ditutupkan pada cungkup nisan makam. Setelahnya baru ditaburi bunga.
Ada yang berbeda, ketika semua makam diberi bunga mawar bercampur melati.
Tiap makam dipasangi ronce melati di tiap nisannya, batu ditaburi bunga.
Tradisi ini tak hanya menjadi budaya turun termurun. Namun, juga nilai tradisi untuk ngalap berkah.
”Tradisi ini (Buka Luwur,Red) sudah berjalan dari dulu, sudah lama sekali, mungkin sudah ratusan tahun dilaksanakan. Hanya dulu masih sederhana, tidak meriah seperti ini," ujar Totok Sunyoto, 59, juru kunci makam Pantaran.
Diadakan sadranan buka luwur itu satu tahun sekali, setiap Suro setelah tanggal 20 pada hari Jumat, harinya Jumat terus. Maknanya sebagai haul atau pergantian kain lurup penutup nisan,” jelasnya seperti dikutip dari Radar Solo
Dia menceritakan, pada 1.400 atau abad 15 masehi, lokasi makam merupakan padepokan milik Sang Wiku atau pertapa sakti.
Padepokan tersebut menganut kepercayaan Hindu atau Budha dengan masih memegang adat kejawen.
Lalu datangnya seorang Sheikh asal Maroko yang dikenal dengan Maulana Ibrahim Magribi.
Kedatangannya untuk menyebarkan agama Islam disambut baik oleh Sang Wiku, yang kini dikenal sebagai Ki Ageng Pantaran.
Bahkan dengan legawa, padepokan tersebut menjadi tempat penyebaran agama Islam.
Sang Wiku dan murid-muridnya lantas masuk Agama Islam. Dua batu besar yang ditutupi kain mori di dalam areal makam merupakan alas saat Sheikh Maulana dan Sang Wiku mengajar agama.
Lambat laun masyarakat yang datang untuk belajar agama dan spiritual semakin banyak.
”Jadi karena di sini (Pantaran) Islam sudah berkembang, ngremboko (Subur,Red) tapi tidak punya masjid. Jadi Sheikh Maulana Ibrahim ingin menbuat mendirikan masjid dengan kayu seadanya dan disengkuyung masyarakat padepokan. Kemudian berdirilah masjid Maulana atau Pantaran,” jelasnya.
”Disebut Pantaran karena masjid tadi berdirinya bersamaan dengan Masjid Agung Demak. Kalau orang Jawa nyebutnya pantaran, karena bersamaan. Kemudian, Sang Wiku tadi disebut Ki Ageng Pantaran,” imbuhnya. (rgl/adi/rei)
Editor : Reinaldo Suryo Negoro