SOLOBALAPAN.COM - Pernahkah kalian mendengar istilah bawa? Bawa merupakan salah satu istilah dalam karawitan yang memiliki peranan penting.
Dikutip dari jurnal "Estetika Bawa dalam Karawitan Gaya Surakarta" karya Suyoto dkk, bawa dalam karawitan gaya Solo adalah suatu bentuk nyanyian tunggal atau solo yang penuh kewibawaan untuk mengawali atau memulai sajian dalam gending.
Bawa merupakan salah satu alternatif pengganti buka dalam karawitan sehingga bawa memiliki peran yang penting.
Maka dari itu bawa harus bersifat tegas, berwibawa, dan jelas karena menjadi buka yang merupakan acuan untuk instrumen gamelan lainnya.
Dalam beberapa kasus, nama gending yang akan disajikan langsung diungkap pada lirik bawa.
Ini akan membantu pengrawit untuk lebih mempersiapkan diri sebab gending telah disebutkan dalam teks lirik bawa.
Jenis tembang yang biasa digunakan dalam bawa adalah sekar ageng, sekar tengahan, dan tembang macapat.
Bawa biasanya dilantunkan oleh seorang pria. Namun tak menutup kemungkinan juga jika wanita melantunkan bawa untuk sajian sebuah gending, namun itu jarang.
Salah satu tanda jika sebuah gending diawali dengan bawa adalah adanya pathetan.
Pathetan adalah sebuah permainan musikal dari gender dan rebab yang digunakan untuk memberikan tanda kepada pengrawit lainnya tentang laras yang akan disajikan.
Pathetan ini berfungsi memudahkan pelantun bawa dalam mengetahui laras dan nada saat menyajikan bawa serta menjadi tanda bahwa gending diawali dengan bawa.
Seorang pelantun bawa harus memiliki pemahaman yang mendalam tentang teknik vokal, termasuk pemilihan vokabuler céngkok yang cocok dengan karakter mereka.
Kemudian kontrol pernapasan, serta keahlian dalam mengeksekusi céngkok, wiled, dan gregel yang sesuai dengan pilihan céngkok tersebut.
Oleh karena itu, kemampuan seorang pelantun bawa untuk mengolah vokal sangat menentukan rasa bawa yang dibawakan agar seolah-olah terdapat ruh di dalam bawa tersebut.
Bawa menjadi bagian penting dalam karawitan karena selalu hadir saat disajikan sebuah gending dalam pertunjukan karawitan atau wayang. (mg2/nda)
Editor : Nindia Aprilia