Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Mengenal Srandul, Kesenian Tradisional yang Berlatar Cerita Drama Rakyat

Nindia Aprilia • Rabu, 3 Januari 2024 | 23:10 WIB
Pertunjukan Srandul
Pertunjukan Srandul

SOLOBALAPAN.COM - Srandul merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional berupa drama tari rakyat. Pertunjukan ini dimainkan dengan menyertakan dialog sehingga srandul dapat dikategorikan sebagai teater rakyat.

Dilansir dari Javanologi Uns, nama "Srandul" berasal dari kata "pating srendul" yang berarti campur aduk. Hal ini diartikan bahwa saat pertunjukan terdapat campuran ragam cerita yang sering dibawakan.

Selain itu dilansir dari website Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI), istilah “pating srendul” juga diartikan dari cerita, iringan musik, alat musik, serta para lakonnya yang bercampuran.

Srandul merupakan salah satu bentuk kesenian dari Daerah Istimewa Yogyakarta. Meskipun begitu, cerita yang dibawakan dalam pertunjukan Srandul berbeda di masing-masing daerah.

Namun, umumnya cerita-cerita yang sering dibawakan berupa cerita rakyat dan kisah tokoh. Contoh cerita rakyat yang biasa dipentaskan seperti Demang Cokroyuda dan Prawan Sunthi.

Selain cerita rakyat dan kisah tokoh, pertunjukan Srandul juga seringkali membawakan tema umum dalam ceritanya. Tak jarang para pemain mengangkat isu yang sedang ramai di kalangan masyarakat.

Srandul biasanya dipentaskan di acara-acara besar seperti khitan atau pernikahan. Namun, seiring perkembangan zaman pertunjukan Srandul mulai diperkenalkan dalam acara lain seperti hari-hari besar.

Awalnya, Srandul dimainkan sebagai sarana hiburan bagi masyarakat. Akan tetapi selain itu, pertunjukan Srandul juga memiliki tujuan lain yaitu sebagai tuntunan.

Selain sebagai hiburan dan tuntunan, Srandul juga digunakan sebagai media penyebaran agama Islam. Namun, seiring perkembangan zaman pertunjukan Srandul menjadi salah satu bagian seni pertunjukan di Jawa.

Srandul biasanya dimainkan oleh 15 orang dengan pembagian 6 pemusik dan 9 lakon. Alat-alat musik yang digunakan dalam pertunjukan ini berupa angklung, terbang atau rebana, dan kendang.

Dialog-dialog yang dipentaskan oleh 9 lakon diwujudkan dalam bentuk tembang shalawat dan tembang Jawa. Tembang tersebut berisi nasihat atau petuah tentang cara menjadi orang Jawa yang baik sesuai dengan ajaran Islam.

Dalam pentasnya, terkadang pertunjukan ini diiringi bersamaan dengan Kethek Ogleng dan dilanjut penampilan pelawak badutan.

Pertunjukan Srandul diawali dengan para lakon yang menari mengelilingi oncor (obor) sambil menyanyikan tembang Jawa.

Oncor yang digunakan dibuat dengan lima sumbu dan diletakkan di tengah pertunjukan. Hal ini sebagai simbol bahwa cahaya terang telah datang dan siap menjamah jiwa manusia agar beriman.

Lebih lanjut dari itu, selama pertunjukan oncor tersebut digunakan sebagai penerangan.

Sedangkan tembang yang dinyanyikan berisi ucapan do'a kepada Tuhan. Do'a tersebut dimaksudkan supaya pertunjukan dapat berjalan tanpa adanya halangan sampai selesai.

Kemudian, pertunjukan dilanjut dengan melantunkan tembang Kinanthi dari Serat Wedhatama. Tembang ini berisi tentang ajaran budi luhur.

Selain sebagai kesenian Jawa, dalam pertunjukan Srandul juga diartikan sebagai cara untuk mempertahankan keberadaan oncor (obor). (mg4/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#tradisional #srandul #tari #kesenian