Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo Sepak Bola

Ternyata Ini Makna dan Keindahan Kuluk, Topi Kebudayaan dalam Tata Busana Jawa

Nindia Aprilia • Senin, 1 Januari 2024 | 20:57 WIB
Pemakaian kuluk kanigaran pada pengantin laki-laki
Pemakaian kuluk kanigaran pada pengantin laki-laki

SOLOBALAPAN.COM - Kuluk merupakan salah satu busana kebudayaan Jawa berupa topi atau kopiah yang menjulang tinggi ke atas. Makna dari kuluk sendiri pada awalnya adalah untuk memperkuat pengakuan dari rakyat sebagai seorang Raja Jawa pada zaman Mataram Islam.

Dilansir dari Javanologi Uns, kuluk diartikan sebagai kopiah kebesaran yang biasanya digunakan oleh pengantin laki-laki dalam upacara pernikahan. Dulunya, kuluk dikenakan oleh para Sultan dan Raja yang dipadukan dengan busana basahan atau kanigaran.

Kuluk menjadi salah satu bagian dari busana gagrak Jawa yang digunakan oleh Sultan Hamengkubuwono VI, VII, IX, dan X pada masa kerajaan Mataram Islam, kuluk yang dikenakan merupakan representasi dari simbol kekuasaan yang tengah diembannya. Selain itu, kuluk sendiri dapat disebut sebagai mahkota raja.

Kuluk memiliki banyak jenis, namun yang kerap dikenakan sebagai pelengkap busana Sultan adalah kuluk dengan ciri khas tidak disertai rambut panjang yang terikat di bagian belakangnya.

Sementara itu pada 1931, di daerah Yogyakarta masih terdapat beberapa laki-laki yang memiliki rambut panjang. Mereka tidak mengenakan udeng karena rambutnya akan berbentuk seperti benjolan di bagian belakang.

Di samping itu, mereka lebih memilih untuk mengenakan kuluk karena rambut mereka akan diikat dan sedikit terurai.

Dilihat dari kegunaannya, kuluk berfungsi untuk melindungi dan menutupi kepala sama halnya seperti blangkon. Namun jika dilihat dari bahan bakunya, kuluk berbeda dengan blangkon. Kuluk biasanya terbuat dari bahan yang lebih kaku serta wujudnya yang menjulang tinggi ke atas.

Kuluk biasanya dipasangkan dengan busana basahan yang dikenakan pada pernikahan adat Jawa. Selain itu, busana basahan lain yang juga dikenakan bersama dengan kuluk adalah sumping, kalung ulur, keris, roncean melati, kolongan keris, gelang epek, timang, ukup, buntal, dodot alas-alasan, dan celana cinde.

Seperti busana adat pada umumnya, kuluk juga memiliki banyak jenis model seperti kuluk mathak dan kuluk kanigaran.

Kuluk mathak cenderung memiliki warna putih yang diartikan sebagai lambang kesucian hati dan pikiran yang masih bersih. Sedangkan kuluk kanigaran biasanya dilapisi kain beludru hitam dengan manik-manik sebagai pelengkapnya. (mg4/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#kuluk #busana jawa #yogyakarta