SOLOBALAPAN.COM - Ritual kalahayu merupakan salah satu tradisi yang masih dilestarikan oleh masyarakat Kota Solo sampai sekarang. Ritual kalahayu menjadi salah satu perayaan yang tergolong masih baru, ritual ini dilakukan untuk menyambut gerhana matahari total.
Dilansir dari Javanologi Uns, awalnya ritual kalahayu merupakan wujud ketakutan masyarakat Jawa khususnya daerah keraton Surakarta yang menganggap bahwa gerhana matahari sebagai suatu kejahatan.
Mitosnya konon, mereka percaya bahwa peristiwa alam tersebut adalah suatu pertanda akan datangnya petaka.
Selain itu, mereka juga percaya bahwa terjadinya gerhana matahari dikarenakan murkanya Bathara Kala (Dewa Waktu) terhadap ulah manusia yang kemudian membuatnya memakan matahari.
Namun seiring berjalannya waktu, para seniman Kota Surakarta mengubah mitos tersebut menjadi suatu bentuk perayaan suka cita. Mereka ingin menyebarkan stigma baru bahwa gerhana matahari bukanlah fenomena yang menyeramkan.
Sebaliknya, gerhana matahari adalah momen perkawinan alam raya yang harus dimaknai secara positif dan disambut dengan kebersamaan.
Mereka mengartikan bahwa gerhana matahari merupakan momentum indah sebagai perkawinan antara alam raya, matahari, bulan, dan bumi dalam satu garis dalam simbol Nyawiji.
Simbol tersebut dimaksudkan untuk melahirkan kesuburan dan merupakan bukti kebesaran Sang Maha Kuasa yang sudah sepantasnya harus disyukuri.
Umumnya, ritual kalahayu dilaksanakan oleh para masyarakat dengan membuat keributan. Keributan tersebut direpresentasikan dengan cara memukul lesung yang dalam istilah Jawa dinamakan dengan klothekan.
Bagi para perempuan diharuskan memukul pohon kelapa menggunakan bantal karena terdapat mitos yang mengatakan bahwa hal tersebut dilakukan supaya tidak terkena bala atau celaka.
Ritual ini diawali dengan mengarak sesaji yang berbentuk menyerupai gunungan. Gunungan tersebut terbuat dari bermacam-macam jenis hasil bumi seperti buah, kacang, padi, pala kependhem, rempah-rempah dan hasil bumi lainnya.
Para pembawa sesaji dalam ritual ini akan mengenakan kostum layaknya empu pada zaman dahulu. Gunungan sesajian tersebut kemudian diarak dari Loji Gandrung sampai di Halaman Balai Soedjatmoko.
Setelah gunungan selesai diarak, ritual selanjutnya adalah adang-adeng. Adeng-adeng merupakan sebuah ritual dimana masyarakat berkumpul dan kemudian mereka membuat suara menggunakan alat masak kenceng dan kukusan.
Kemudian, ritual ini ditutup dengan pertunjukkan pembuatan keris Kyai Singkir Plastik atau Kebo Awu Bumi Semba, pertunjukkan wayang tandur, dan klothekan lesung.
Masyarakat serta wisatawan yang hadir kemudian mendapatkan sesajian, hal ini dilakukan sebagai simbol rasa bersyukur atas anugerah Tuhan Yang Maha Kuasa. (mg4/nda)
Editor : Nindia Aprilia