SOLOBALAPAN.COM - Sesajen merupakan bagian dari tradisi yang masih sangat sakral, tradisi sakral ini merupakan peninggalan Hindu-Budha. Dalam kebudayaan Jawa, sesajen digunakan dalam upacara atau kegiatan tertentu.
Sesajen berasal dari istilah Sastra Jen Rahayu Ning Rat Pangruwat Ing Diyu. Jika istilah ini diterjemahkan memiliki arti tulisan Yang Maha Kuasa untuk harus dimengerti serta dipahami agar dapat menjadi penerang, senantiasa selamat dan sejahtera bagi kehidupan di jagat raya, memusnahkan segala kebingungan atau keraguan.
Di beberapa bahasa juga terdapat istilah lain yang digunakan dalam memaknai sesajen seperti Sajen, Sesaji, Sajian, Parawanten, Banten dan Bebanten.
Kata Sajen sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berarti makanan (bunga-bungaan) yang disajikan untuk makhluk halus. Sedangkan kata Sesajen diartikan sebagai sajian (makanan, bunga, dan sebagainya yang disajikan untuk makhluk halus).
Menurut definisi tersebut, sajen atau sesajen erat kaitannya dengan kekuatan gaib atau makhluk halus. Konon, sesajen biasanya digunakan sebagai langkah negosiasi dengan hal-hal yang gaib.
Sesajen diartikan sebagai sesembahan yang selalu disediakan sebagai simbol semangat atau spiritualisme. Ini pertanda manusia percaya bahwa terdapat kekuatan lain yang lebih tinggi dan lebih hebat di atasnya.
Sementara itu, dalam hal ini masyarakat Jawa memandang sesajen sebagai bentuk slametan agar terhindar dari mara bahaya, mereka sebisa mungkin mempertahankan tradisi sakral satu ini.
Sesajen disajikan dengan isi yang bermacam-macam tergantung maksud dan tujuan dalam menggunakannya. Sesajen dapat berwujud dalam bentuk kemenyan yang disajikan dengan cara dibakar sampai keluar asapnya, ini merupakan perwujudan persembahan kepada Tuhan.
Selain itu, sesajen dapat berupa makanan-makanan kecil yang sering dikonsumsi, bunga-bungaan, dan lainnya. Biasanya sesajen disajikan di beberapa tempat yang dianggap sakral seperti gunung, kuburan, dekat pohon-pohon besar, sungai, dan tempat sakral lainnya.
Selain menjadi bentuk keselamatan dari mara bahaya, sesajen juga dijadikan sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Lebih lanjut dari itu, sesajen juga menjadi sarana bagi masyarakat untuk persembahan kepada Tuhan Yang Maha Esa serta arwah para leluhur. (mg4/nda)