SOLOBALAPAN.COM - Kirab pusaka merupakan upacara atau prosesi pusaka-pusaka andalan keraton yang berjalan mengelilingi keraton Surakarta dan dilakukan pada tengah malam, tepatnya mulai pukul 00.00.
Upacara ini diadakan setiap tanggal 1 Sura (Muharam). Dalam buku “Jawa Sejati” karya Rustopo dituliskan, upacara kirab pusaka masih diselenggarakan oleh keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran hingga saat ini.
Bedanya, di Mangkunegaran upacara ini dilaksanakan setelah waktu shalat maghrib.
Dalam Upacara Kirab Pusaka Ini terdapat 7 pusaka utama yang ikut serta dikirabkan. Pusaka utama tersebut salah satunya adalah Kangjeng Kiai Slamet beserta keluarganya.
Kangjeng Kiai Slamet merupakan seekor kerbau bule berwarna putih, sedangkan keluarganya yaitu anak-anak dari kerbau bule putih tersebut.
Sebenarnya, Kangjeng Kiai Slamet sekeluarga diberikan tempat tinggal secara terbuka di sekitar alun-alun selatan. Akan tetapi, mereka ternyata lebih suka bebas mengembara ke kampung-kampung tanpa diikuti oleh abdi dalem yang menggembalanya.
Pada prosesi Kirab Pusaka, Kangjeng Kiai Slamet ditempatkan berada di barisan paling depan diikuti oleh para pembawa pusaka lain dibelakangnya.
Namun anehnya, menjelang Kirab Pusaka berlangsung biasanya mereka sudah berada di halaman depan keraton (Kamandungan).
Pada 1982, kerbau bule dengan keluarganya itu tidak datang. Kangjeng Kiai Slamet tidak ikut serta dalam Kirab Pusaka saat itu.
Konon, para penduduk percaya bahwa peristiwa tersebut merupakan datangnya pertanda baik ataupun buruk.
Di samping itu, Go Tik Swan Hardjonegoro menjelaskan bahwa setiap kejadian itu pasti ada artinya.
Ia sendiri tidak berkeinginan untuk memberi arti dari peristiwa ketidakikutsertaan Kangjeng Kiai Slamet pada Kirab Pusaka saat itu. Ia membiarkan para penduduk sendiri yang mengartikan menurut pandangannya masing-masing.
Selain itu, para penduduk juga percaya bahwa Kangjeng Kiai Slamet mempunyai kesaktian.
Dari kesaktian tersebut, kotorannya dijadikan obat maupun penyubur lahan pertanian dan menjadi rebutan oleh para penduduk.
Kangjeng Kiai Slamet juga dipercaya membawa berkah ketika kerbau bule tersebut mau mengendus atau memakan tanaman dan makanan penduduk atau barang dagangan pedagang di pasar.
Sebaliknya, kerbau bule putih itu akan membawa celaka bagi siapa saja yang menyakitinya.
Meskipun tidak sedikit yang meragukan hal tersebut, kebanyakan orang tidak berani mencoba-coba. Mereka membiarkan Kangjeng Kiai Slamet beserta keluarga bebas berjalan bahkan merusak.
Hingga kini, Kirab Pusaka masih tetap dilakukan setiap tanggal 1 Sura dengan mengarak keturunan kerbau Kangjeng Kiai Slamet. (mg4/nda)