Berita Utama Solo Raya Entertainment Lifestyle Sport Kesehatan Ekonomi Teknologi Otomotif Sriwedaren Wisata dan Kuliner Persis Solo

Asal-usul Kanjeng Kyai Guntur Sari dan Guntur Madu, 2 Buah Gamelan Sekaten Surakarta

Nindia Aprilia • Jumat, 22 Desember 2023 - 21:11 WIB
Gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu
Gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu

SOLOBALAPAN.COM - Salah satu warisan budaya Indonesia adalah gamelan. Gamelan merupakan alat musik tradisional yang sudah dikenal sejak tahun 326 Saka atau 404 M.

Dilansir dari surakarta.go.id, gamelan berasal dari kata “gamel” yang dalam bahasa Jawa berarti memukul atau menabuh. Secara keseluruhan, kata “gamelan” memiliki makna seperangkat alat musik yang dimainkan dengan cara dipukul atau ditabuh.

Di Jawa, gamelan umumnya berfungsi sebagai pengiring pagelaran wayang dan pertunjukan tari. Tak jarang, gamelan juga digunakan sebagai sarana pendukung penyebaran Islam. Salah satunya adalah gamelan sekaten.

Sekaten adalah perayaan yang diselenggarakan selama tujuh hari untuk memperingati hari kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Sekaten berasal dari kata “syahadatain” yang berarti dua kalimat syahadat, secara simbolik hal ini digambarkan dalam dua perangkat gamelan sekaten Kanjeng Kyai Guntur Sari dan Kanjeng Kyai Guntur Madu yang ditabuh secara bergantian.

Kedua gamelan sekaten tersebut ditempatkan secara berbeda yaitu berada di Bangsal Pradangga Kidul dan Bangsal Pradangga Lor di halaman Masjid Agung Surakarta. Ini juga disimbolkan sebagai dua jenis kalimat syahadat, yaitu syahadat tauhid dan syahadat rasul.

Asal mula gamelan sekaten berawal dari kerajaan Demak yang kemudian mengalami naik turun dan berakhir gugur.

Pada masa itu, terjadilah perpindahan gamelan sekaten ke kerajaan pajang di bawah pemerintahan panembahan Senapati dan panempahan Seda Krapyak. Namun, pada saat itu gamelan sekaten belum pernah ditabuh sama sekali.

Pada masa pemerintahan Sultan Agung yang saat itu merupakan raja terbesar mataram, ia mencoba menghidupkan kembali gamelan yang merupakan simbol keagungan seorang raja.

Sejak itu, gamelan sekaten menjadi sebuah pusaka kepraboning nata atau simbol keagungan seorang raja.

Pada saat itu, Sultan Agung membuat gamelan baru yaitu Kanjeng Kyai Guntur Sari pada 1566. Namun, peristiwa perjanjian Giyanti pada 1755 membawa pengaruh besar bagi keberadaan gamelan sekaten.

Perjanjian tersebut berisi pembagian kerajaan mataram menjadi Surakarta dan Yogyakarta. Sehingga, setiap daerah tidak memiliki gamelan secara lengkap.

Keraton Surakarta mendapatkan seperangkat gamelan Kanjeng Kyai Guntur Sari sedangkan Keraton Yogyakarta mendapatkan seperangkat gamelan Kanjeng Kyai Naga Wilaga.

Setelah pembagian kuasa gamelan tersebut, pada 1788-1820 Pakubuwana IV membuat gamelan sekaten dengan ukuran yang lebih besar dan lebih tebal dibandingkan gamelan Kanjeng Kyai Guntur Sari.

Gamelan tersebut dinamakan seperangkat gamelan Kanjeng Kyai Guntur Madu. Pembuatan gamelan sekaten ini menunjukkan konsistensi Pakubuwana IV dalam penyebaran Islam dengan menggunakan gamelan sekaten yang telah ada sejak masa kerajaan Demak. (mg4/nda)

Editor : Nindia Aprilia
#sekaten #asal usul #gamelan #surakarta