Anak Muda Mulai Gemari Gowes, Ini Alasannya

Luthfiana Sekar • Dipublikasikan Minggu, 30 Agustus 2026 | 10:01 WIB
Bersepeda kini bukan cuma soal olahraga. Bagi sebagian anak muda, gowes juga menjadi cara bertemu komunitas, mengeksplorasi kota, dan membangun gaya hidup aktif. Tapi, apakah kota-kota Indonesia sudah cukup nyaman untuk para pesepeda? (Pinterest)
Bersepeda kini bukan cuma soal olahraga. Bagi sebagian anak muda, gowes juga menjadi cara bertemu komunitas, mengeksplorasi kota, dan membangun gaya hidup aktif. Tapi, apakah kota-kota Indonesia sudah cukup nyaman untuk para pesepeda? (Pinterest)

SOLOBALAPAN.COM - Dulu, bersepeda mungkin identik dengan kegiatan olahraga di akhir pekan atau sekadar kendaraan untuk pergi ke tempat yang tidak terlalu jauh. Namun, di sejumlah kota Indonesia, sepeda kini punya tempat yang berbeda di kalangan anak muda.

Bersepeda tidak lagi selalu soal seberapa jauh seseorang mampu mengayuh atau seberapa cepat ia mencapai tujuan.

Bagi sebagian anak muda, aktivitas ini juga menjadi cara untuk bertemu teman, bergabung dengan komunitas, mengeksplorasi kota, hingga membangun gaya hidup yang lebih aktif.

Fenomena tersebut bahkan mulai mendapat perhatian dalam penelitian. Studi mengenai budaya bersepeda di Indonesia yang diterbitkan pada 2025 menyebut tren bersepeda di kota-kota Indonesia mengalami peningkatan.

Namun, penelitian yang sama juga menemukan adanya kontradiksi: pesepeda dapat merasa santai dan senang ketika bersepeda, tetapi pada saat yang sama harus menghadapi lingkungan jalan yang dianggap tidak aman dan kurang nyaman.

Kondisi tersebut tidak terlalu mengejutkan jika melihat bagaimana kota-kota di Indonesia berkembang. Kendaraan bermotor, terutama sepeda motor, masih mendominasi mobilitas sehari-hari.

Penelitian mengenai mobilitas Gen Z di Indonesia juga menunjukkan bahwa perjalanan anak muda masih sangat didominasi kendaraan pribadi.

Baca Juga: Lini Serang Makin Mengerikan! Eks Arema FC Irsyad Maulana Resmi Gabung Persis Solo

Dalam salah satu penelitian yang mengamati 434 orang berusia 17–24 tahun selama 153 hari, sekitar 63 persen perjalanan dilakukan menggunakan sepeda motor dan 35 persen menggunakan mobil, sedangkan berjalan kaki, bersepeda, dan transportasi umum jika digabung hanya sekitar 2 persen.

Angka tersebut menunjukkan bahwa sepeda memang belum menjadi pilihan utama mobilitas Gen Z secara umum.

Namun, menariknya, di tengah dominasi kendaraan bermotor tersebut, budaya bersepeda justru tetap berkembang sebagai aktivitas olahraga dan gaya hidup.

Salah satu contohnya dapat dilihat di Bandung. Penelitian yang membahas gaya hidup bersepeda di kalangan anak muda Bandung menemukan bahwa media sosial memiliki peran dalam membentuk persepsi dan ketertarikan terhadap budaya bersepeda.

Konten yang menarik secara visual dan dekat dengan budaya urban dapat membuat bersepeda terlihat bukan hanya sebagai aktivitas fisik, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Di sinilah sepeda mulai memiliki fungsi yang berbeda. Anak muda tidak hanya melihat sepeda sebagai alat untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sepeda juga bisa menjadi pintu masuk menuju komunitas.

Seseorang bisa mulai bersepeda karena ingin berolahraga, kemudian menemukan komunitas melalui media sosial.

Dari sana, aktivitas yang awalnya dilakukan sendirian berubah menjadi kegiatan bersama. Ada agenda bersepeda pada akhir pekan, rute tertentu yang dijelajahi bersama, hingga aktivitas berhenti di tempat makan atau kedai kopi sebelum kembali pulang.

Baca Juga: Divonis 2 Tahun Kasus Satelit Kemhan, WN Amerika Thomas Van Der Heyden Tuding Ada Intrik Politik!

Komunitas kemudian membuat aktivitas tersebut terasa lebih sosial. Bersepeda bukan lagi sekadar “gowes sendirian”, tetapi menjadi kegiatan yang mempertemukan orang-orang dengan ketertarikan yang sama.

Fenomena ini juga terlihat pada perkembangan sepeda jenis tertentu di kalangan anak muda. Penelitian mengenai minat terhadap sepeda fixed-gear atau fixie di Surabaya menemukan bahwa ketertarikan terhadap jenis sepeda tersebut dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari kualitas dan harga sepeda hingga gaya hidup, komunitas, manfaat kesehatan dan lingkungan, serta kondisi infrastruktur dan aksesibilitas.

Artinya, alasan seseorang memilih sepeda tidak selalu sesederhana ingin berolahraga.

Ada unsur sosial, ekonomi, estetika, bahkan identitas di dalamnya. Jenis sepeda yang digunakan, pakaian ketika bersepeda, komunitas yang diikuti, hingga rute yang dipilih dapat menjadi bagian dari pengalaman bersepeda itu sendiri.

Media sosial kemudian membuat pengalaman tersebut semakin terlihat.

Foto perjalanan, catatan jarak tempuh, rute, hingga dokumentasi bersama komunitas dapat dibagikan kembali kepada orang lain. Aplikasi olahraga seperti Strava juga membuat aktivitas fisik dapat dicatat dan dibagikan secara digital.

Baca Juga: Ini 7 Manfaat Ampuh Daun Seledri bagi Kesehatan

Penelitian terbaru terhadap pengguna Strava dari Generasi Z di Bandung menunjukkan bahwa sebagian besar responden dalam komunitas olahraga yang diteliti memiliki tingkat gaya hidup aktif yang tinggi. Penelitian tersebut melihat gaya hidup aktif bukan hanya dari seberapa sering seseorang berolahraga, tetapi juga dari kebiasaan menjadikan aktivitas fisik sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari serta kesadaran terhadap kesehatan.

Namun, ada satu persoalan yang tidak bisa dilepaskan dari tren ini: apakah kota-kota Indonesia sudah siap menerima semakin banyak pesepeda?

Di satu sisi, semakin banyak orang memilih aktivitas yang lebih sehat dan berpotensi lebih ramah lingkungan. Di sisi lain, mereka masih harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor di jalan yang sebagian besar dirancang dengan orientasi pada mobilitas kendaraan.

Penelitian mengenai perilaku bersepeda di kota-kota Indonesia bahkan menggambarkan pengalaman yang cukup paradoks.

Pesepeda yang menjadi responden penelitian melaporkan pengalaman bersepeda yang relatif santai dan menyenangkan, tetapi lingkungan yang mereka hadapi tetap dianggap tidak aman dan tidak memberikan rasa nyaman yang cukup.

Infrastruktur akhirnya menjadi salah satu faktor penting. Jalur sepeda yang aman, konektivitas antarrute, fasilitas parkir sepeda, hingga ruang jalan yang memungkinkan pesepeda tidak terus-menerus berhadapan langsung dengan kendaraan bermotor dapat menentukan apakah seseorang akan terus bersepeda atau kembali menggunakan kendaraan pribadi.

Penelitian mengenai preferensi penggunaan sepeda di Indonesia juga menunjukkan bahwa pengembangan infrastruktur sepeda dapat mendorong penggunaan sepeda.

Faktor seperti kondisi lalu lintas dan tersedianya fasilitas bersepeda ikut memengaruhi keputusan seseorang untuk memilih sepeda dibanding kendaraan bermotor.

Karena itu, meningkatnya ketertarikan anak muda terhadap sepeda sebenarnya tidak hanya menjadi urusan komunitas atau individu. Fenomena tersebut juga menjadi pertanyaan bagi kota: apakah ruang publik dan sistem transportasi sudah mampu mengikuti perubahan gaya hidup masyarakatnya?

Gen Z sendiri memiliki potensi untuk ikut mengubah cara kota digunakan. Penelitian mengenai mobilitas Gen Z di Indonesia menunjukkan bahwa karakter lingkungan perkotaan dan ketersediaan transportasi sangat memengaruhi pilihan mobilitas mereka.

Peneliti juga menekankan pentingnya pembangunan infrastruktur yang mendukung pilihan transportasi yang lebih berkelanjutan.

Jadi, ketika anak muda membawa sepeda keluar rumah, yang bergerak sebenarnya bukan hanya roda dua kendaraan tersebut.

Ada kebiasaan baru, komunitas baru, cara baru menikmati kota, dan keinginan untuk menjalani kehidupan yang lebih aktif. Tetapi semua itu membutuhkan ruang yang aman agar bisa berkembang.

Sepeda mungkin belum menjadi alat transportasi utama bagi mayoritas Gen Z Indonesia. Namun, ketika semakin banyak anak muda menjadikannya bagian dari olahraga, komunitas, dan gaya hidup, fenomena tersebut menunjukkan bahwa cara generasi muda menikmati ruang kota juga sedang berubah.

Pada akhirnya, persoalannya bukan hanya “kenapa anak muda mulai suka bersepeda?”, tetapi juga “apakah kota-kota kita siap ketika mereka benar-benar ingin mengayuh lebih jauh?” (Luthfiana Sekar)

Editor : Kabun Triyatno
Sumber : Berbagai Sumber
luthfiana sekar cycling olahraga anak muda gaya hidup