SOLOBALAPAN, OLAHRAGA — Awan mendung tengah menyelimuti dunia bulutangkis Indonesia.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tim putra Indonesia gagal menembus fase grup pada ajang Thomas Cup 2026.
Kegagalan ini menjadi tamparan keras mengingat status Indonesia sebagai kolektor gelar terbanyak dengan 14 trofi.
Merespons hasil memprihatinkan tersebut, Wakil Ketua Umum PBSI, Taufik Hidayat, menegaskan bahwa federasi akan melakukan evaluasi radikal, termasuk kemungkinan besar melakukan perombakan di jajaran tim kepelatihan maupun pemain.
Rekor Kelam di Thomas dan Uber Cup 2026
Penurunan prestasi di edisi 2026 ini sangat mencolok.
Jika sebelumnya capaian terburuk tim putra adalah perempat final pada edisi 2012, tahun ini Indonesia justru harus angkat koper lebih awal di fase grup.
Sementara itu, tim putri Indonesia juga gagal mengulang prestasi sebagai finalis edisi 2024 setelah langkahnya terhenti di babak semifinal Uber Cup 2026.
Taufik Hidayat: Tidak Ada Tempat untuk Zona Nyaman
Taufik Hidayat, yang juga menjabat sebagai Wamenpora, menyatakan bahwa PBSI tidak akan menunggu hingga akhir tahun untuk melakukan perubahan.
Kebijakan promosi dan degradasi kini bisa dilakukan kapan saja demi mendapatkan formula terbaik.
"Untuk pelatih pun sama. Kalau kita kasih kesempatan nggak ada perform-nya, kenapa enggak? Kita di sini cari solusi yang pengen yang terbaik," tegas Taufik dalam konferensi pers di Pelatnas PBSI, Cipayung, Jumat (8/5/2026).
Pria yang juga legenda tunggal putra ini memperingatkan seluruh penghuni Pelatnas agar tidak terlena.
"Enggak ada yang memang pelatih, pemain juga ya zona nyaman ya enak-enakan aja di situ. Kita semua harus bertanggung jawab di situ," tambahnya.
Tanggung Jawab Kolektif
PBSI menyatakan bertanggung jawab penuh atas hasil minor ini. Taufik menekankan pentingnya team work yang solid antara pengurus, pelatih, dan pemain untuk mengembalikan kejayaan bulutangkis Indonesia di kancah internasional.
Kegagalan ini menjadi alarm keras bagi bulutangkis Indonesia yang mulai kehilangan taringnya, bahkan di turnamen beregu yang selama ini menjadi kebanggaan Merah Putih.
(did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo