SOLO, SOLOBALAPAN.COM — Estafet kepemimpinan Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kota Surakarta resmi berganti.
Kepengurusan periode 2026–2030 dilantik pada Minggu (3/5/2026) di arena panjat tebing Stadion Manahan, dengan target yang tak main-main: juara umum Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2026.
Pelantikan dilakukan langsung oleh Ketua Pengprov FPTI Jawa Tengah, Abdul Hamid, di sela gelaran Sirkuit Panjat Tebing (STP) dan Popda Kota Surakarta yang diikuti sekitar 120 atlet pelajar.
Momentum ini bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi titik awal bagi kepengurusan baru yang langsung dibebani ekspektasi tinggi.
Sejumlah pemangku kepentingan olahraga turut hadir, mulai dari jajaran KONI Surakarta hingga perwakilan Dinas Pemuda dan Olahraga.
Kehadiran mereka menegaskan bahwa cabang panjat tebing masih dipandang sebagai salah satu tulang punggung prestasi olahraga Kota Solo.
Target Tinggi, Tantangan Nyata
Ketua FPTI Surakarta yang baru, Giyatno, menyadari bahwa tongkat estafet yang ia terima bukan tanpa beban. Ia menyebut fondasi prestasi yang telah dibangun pengurus sebelumnya menjadi pijakan sekaligus tekanan tersendiri bagi kepengurusan baru.
“Ini bukan hanya melanjutkan, tapi juga meningkatkan. Target juara umum Porprov 2026 sudah menjadi komitmen bersama,” ujarnya.
Baca Juga: Sertifikat Mualafnya Dicabut, Bagaimana Nasib Agama dr. Richard Lee?
Namun, target tersebut bukan tanpa konsekuensi. Dalam waktu dekat, FPTI Surakarta akan menghadapi agenda penting seperti Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) dan Porprov Jateng—dua ajang yang akan menjadi tolok ukur awal kinerja kepengurusan baru.
Giyatno menekankan bahwa pencapaian target tidak bisa hanya bergantung pada satu elemen. Sinergi antara pengurus, pelatih, atlet, hingga orang tua disebut sebagai faktor kunci.
Tak Cukup Sekadar Target
Di sisi lain, KONI Surakarta justru mendorong lebih dari sekadar pencapaian target. Sekretaris Umum KONI Surakarta, Farimita Mawarta, menilai FPTI selama ini sudah berada di jalur yang tepat, namun tidak boleh terjebak dalam zona nyaman.
“Bukan hanya memenuhi target, tapi harus berani melampaui. FPTI punya kapasitas untuk itu,” tegasnya.
Baca Juga: Pejabat Ditahan, Pemkab Karanganyar Usulkan Pemberhentian Sementara dan Janji Benahi Sistem
Pernyataan ini menjadi sinyal bahwa standar keberhasilan tidak lagi sekadar mempertahankan prestasi, melainkan meningkatkan dominasi di level provinsi.
Evaluasi dan Konsistensi Pembinaan
Ketua Pengprov FPTI Jawa Tengah, Abdul Hamid, mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh target, tetapi juga konsistensi dalam sistem pembinaan. Menurutnya, Surakarta selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung atlet panjat tebing di Jawa Tengah.
“Potensi sudah ada. Tinggal bagaimana dikelola dengan sistem yang lebih optimal dan berkelanjutan,” ujarnya.
Ia juga menyoroti peran lingkungan, termasuk dukungan orang tua atlet, sebagai faktor yang kerap luput dari perhatian namun berpengaruh besar terhadap performa atlet.
Momentum atau Sekadar Seremoni?
Baca Juga: Stok Hewan Kurban Boyolali Aman, Pemotongan di RPH Ampel Diprediksi Melonjak
Pelantikan kepengurusan baru FPTI Surakarta sejatinya membuka dua kemungkinan: menjadi momentum lompatan prestasi, atau sekadar seremoni pergantian struktural tanpa perubahan signifikan.
Dengan target juara umum yang sudah dipasang sejak awal, publik kini menanti apakah kepengurusan baru mampu menjawab ekspektasi—atau justru terjebak dalam beban target itu sendiri. (hj/an)
Editor : Andi Aris Widiyanto