SOLOBALAPAN.COM - Dominasi absolut Marc Marquez di atas Ducati Lenovo berlanjut.
Ia kembali meraih kemenangan ganda (Sprint dan Balapan Utama) di MotoGP Hungaria, Minggu (24/8/2025), menandai kemenangan ke-14 secara beruntun musim ini.
Kemenangan di Sirkuit Balaton Park ini semakin mengukuhkan posisinya di puncak klasemen dengan keunggulan 175 poin.
Meskipun tampil superior, sang juara dunia delapan kali ini justru merasa performa dominannya "tidak normal".
Alih-alih merayakan, ia malah mengkhawatirkan kondisi rival utamanya, yang tak lain adalah adiknya sendiri, Alex Marquez.
'Memenangkan 14 Balapan Bukan Hal yang Normal'
Di tengah lajunya yang seolah tak terhentikan menuju gelar juara dunia kesembilan, Marquez mengakui bahwa rentetan kemenangannya terasa sureal, terutama di era MotoGP modern yang sangat kompetitif.
"Memenangkan 14 balapan (beruntun) bukan hal yang normal," ujar Marquez, dilansir dari GPOne.
"Rasanya seperti mimpi dan saya tidak ingin bangun," tambahnya dengan nada bercanda.
Analisis Balapan dan Insiden dengan Bezzecchi
Marquez menjelaskan kunci kemenangannya adalah rasa nyaman yang ia dapatkan sejak awal balapan, yang membantunya menjaga konsentrasi.
Ia juga sempat menceritakan insiden senggolan dengan Marco Bezzecchi (Aprilia) di tikungan awal.
"Saya melihat Marco masuk dari sisi dalam. Saya tidak yakin apakah dia mengendalikan segalanya, jadi saya sedikit melonggarkan rem," jelasnya.
"Di tikungan kedua itu kesalahan saya... dia menutup garis dan saya tidak bisa menghindari kontak. Itu berbahaya, tetapi sejak saat itu saya mengendalikan balapan."
Ogah Kunci Gelar di Misano Demi Sang Adik
Dengan keunggulan poin yang begitu besar, Marquez secara matematis bisa mengunci gelar juara dunia di Misano.
Namun, ia secara mengejutkan berharap hal itu tidak terjadi.
Alasannya, ia tidak ingin melihat adiknya, Alex Marquez, mengalami akhir pekan yang buruk di seri sebelumnya (Catalunya), yang akan memuluskan jalannya menjadi juara lebih cepat.
"Saya berharap bisa mengakhirinya di Jepang, karena jika saya meraihnya di Misano, itu berarti saudara saya mengalami akhir pekan yang buruk di Catalunya, dan saya menginginkan yang terbaik untuknya," ungkap Marquez, menunjukkan sisi familiernya yang kuat.
Tetap Rendah Hati di Puncak Dominasi
Meskipun kini satu-satunya lawan terberatnya adalah dirinya sendiri, Marc Marquez tetap rendah hati.
Ia sadar akan ada sirkuit di mana ia tidak akan menjadi yang tercepat dan harus siap menerima kekalahan. Baginya, yang terpenting adalah konsisten finis di tiga besar.
Kemenangan beruntun ini ia anggap sebagai bonus dari kerja keras tim dan kemampuannya beradaptasi. (did)
Editor : Didi Agung Eko Purnomo